Rabu, 25 March 2026 01:28 UTC

Aktivitas di salah satu toko oleh-oleh khas Jember. Foto: Adi
JATIMNET.COM, Jember — Momentum arus balik Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah membawa peningkatan aktivitas ekonomi di sektor oleh-oleh khas Jember. Lonjakan jumlah pembeli terlihat di sejumlah toko, seiring kembalinya para pemudik ke kota perantauan. Namun di balik ramainya transaksi tersebut, pelaku usaha justru menghadapi tantangan berupa penurunan omzet dibandingkan tahun sebelumnya.
Fenomena ini dialami oleh Toko Oleh-Oleh Citra Rasa Jember yang berlokasi di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kaliwates. Dalam beberapa hari terakhir setelah Lebaran, toko tersebut dipadati pengunjung dari berbagai daerah.
Pemilik toko, Siti Aliyah, mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah pembeli sebenarnya sudah mulai terasa sejak sepekan sebelum Lebaran. Meski demikian, lonjakan tertinggi justru terjadi saat arus balik berlangsung, ketika para pemudik bersiap kembali ke daerah asal mereka.
“Seminggu sebelum Lebaran sudah naik, tapi sekarang lebih meningkat lagi karena waktunya orang-orang balik. Banyak yang dari luar kota datang ke sini, lalu dibawa ke daerah asal mereka,” ujarnya, Rabu, 25 Maret 2026.
Menurut Aliyah, konsumen yang datang tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Jember, tetapi juga dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Jombang, Surabaya hingga Bali. Mereka umumnya membeli produk dalam jumlah cukup banyak untuk dibagikan kepada keluarga maupun rekan kerja.
Lonjakan permintaan tersebut turut mendorong peningkatan omzet harian. Pada puncak arus balik, penjualan di tokonya mampu mencapai sekitar Rp6 juta per hari.
“Alhamdulillah saat arus balik ini bisa tembus sekitar enam juta per hari,” katanya.
Meski terlihat tinggi, angka tersebut ternyata belum mampu menyamai capaian pada periode Lebaran tahun sebelumnya. Penurunan itu diperkirakan mencapai 30 persen jika dibandingkan omset tahun lalu, yakni di musim mudik dan arus balik Lebaran 2025.
Aliyah menduga, kondisi ekonomi saat ini yang sedang terjadi pelemahan daya beli masyarakat, turut memengaruhi pola belanja, terutama dalam hal pembelian oleh-oleh.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, menurut saya justru turun. Mungkin karena faktor ekonomi, jadi daya beli agak menurun,” ujarnya.
Penurunan daya beli ini tercermin dari perubahan pola konsumsi. Jika sebelumnya pembeli cenderung membeli dalam jumlah besar tanpa banyak pertimbangan, kini mereka lebih selektif, baik dari segi jenis produk maupun harga.
BACA: Pemkab Jember Pastikan PPPK Paruh Waktu Terima THR Lebaran, Gus Fawait: Hak Pegawai Harus Dipenuhi
Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha untuk beradaptasi. Mereka berupaya mempertahankan kualitas produk sekaligus menawarkan variasi yang lebih beragam agar tetap menarik minat konsumen di tengah persaingan dan keterbatasan daya beli.
Di sisi lain, tingginya mobilitas masyarakat selama arus balik tetap menjadi peluang tersendiri bagi pelaku usaha lokal. Arus pergerakan manusia dari daerah ke kota besar membuka ruang distribusi produk khas daerah secara tidak langsung melalui oleh-oleh.
Produk-produk khas Jember seperti suwar-suwir, prol tape, dan tape singkong masih menjadi tulang punggung penjualan. Cita rasa khas serta daya tahan produk menjadikannya pilihan utama untuk dibawa ke luar daerah.
Tidak hanya itu, tren membawa oleh-oleh saat arus balik juga menunjukkan bahwa produk kuliner khas daerah masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat. Suwar-suwir hingga prol tape tetap menjadi oleh-oleh favorit yang diburu pemudik sebagai buah tangan untuk keluarga dan kerabat di kota perantauan.
