Pemprov Jatim Gencar Lakukan Pembinaan ASN

Baehaqi Almutoif

Senin, 20 Mei 2019 - 13:56

JATIMNET.COM, Surabaya – Subdit V Siber Ditreskmrimsus Polda Jawa Timur telah mengamankan seorang guru honorer SD yang diduga melakukan ancaman pembunuhan kepada Presiden RI, Joko Widodo dalam akun media sosialnya.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur Anom Surahno mengatakan, kondisi melawan pemerintah ini belum pernah ditemukan untuk lingkup aparatur sipil negara (ASN).

Kasus yang pernah terjadi adalah ASN terlibat kasus terorisme. Dua tahun lalu oknum guru pegawai negeri sipil (PNS) di Pasuruan diberhentikan tidak hormat karena pada putusan pengadilan dinyatakan bersalah atas kasus terorisme.

"Dulu pernah ada di Pasuruan (terorisme). Kalau kasus yang berkaitan dengan makar atau mengancam presiden belum pernah ada,” ujar Anom, Senin 20 Mei 2019.

BACA JUGA: BKD Jatim Ajukan Formasi CPNS Baru Tahun Ini

Mantan Kepala Biro Pemerintahan Setdaprov Jawa Timur itu menegaskan, tindakan ASN melawan terhadap pemerintah melanggar konstitusi. Karena sesuai undang-undang, pegawai negeri sipil harus memiliki loyalitas dan integritas terhadap pemerintah baik pusat maupun daerah.

Kalaupun ditemukan hal semacam ini, lanjut Anom terancam hukuman pemberhentian secara tidak hormat. “Ancaman itu kan masuk pidana, ya ditunggu saja putusan pengadilannya. Kalau ada yang tersangkut dan putusan pengadilan menyatakan bersalah, ya diberhentikan,” beber Anom.

Sebenarnya untuk ASN secara berkala diberikan pembinaan setiap melalui pejabat pembina kepegawaian (PPK). Materinya terkait dengan disiplin ASN sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN.

Tidak hanya tiga bulan sekali, bahkan setiap waktu jika terbukti ASN ada melanggar disiplin, bisa diberhentikan tergantung tingkat kesalahannya. Bagaimana jika terjadi pada pegawai honorer?

BACA JUGA: Satu CPNS Dicoret Lantaran Terdaftar Caleg

Anom mengungkapkan, karena honorer itu pengangkatannya ada di instansi, maka tanggung jawabnya di lembaga yang bersangkutan. Pemberhentian dilakukan langsung oleh instansi atau lembaga tempatnya bekerja.

Sebelumnya diberitakan seorang guru honorer yang mengajar di SDN Prenduan II, Kabupaten Sumenep ditangkap anggota Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim.

Pria bernama Hairil Anwar (35) warga Pamekasan ini diduga telah menghina presiden Jokowi lewat media sosial. Dia juga menyebarkan ujaran kebencian terhadap pejabat negara dan berita bohong. Kini tersangka meringkuk di balik jeruji besi Mapolda Jatim untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Baca Juga

loading...