Selasa, 26 May 2026 09:00 UTC

M Tamsul Praktisi Hipnoterapi saat menjadi pemateri di kegiatan sosialisasi pencegahan dan bahaya narkoba di Pendopo Trunojoyo Kabupaten Sampang, Selasa, 26 Mei 2026. Foto: Zainal Abidin
JATIMNET.COM, Sampang – Seminar pencegahan penyalahgunaan narkoba yang berlangsung di Pendopo Trunojoyo Sampang berbeda dengan sebelumnya, Selasa, 26 Mei 2026.
Kegiatan bertajuk “Peduli Anak Bangsa” yang dihelat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) ini disisipi sesi meditasi hipnoterapi. Dalam sesi ini, puluhan pelajar SMA/SMK, peserta seminar nampak menangis haru.
Dengan dipandu M Tamsul, praktisi hipnoterapi di Sampang, para pelajar itu juga diajak menenangkan pikiran dan melepaskan energi negatif.
Sesi ini berlangsung sekitar 30 menit. Para pelajar memulainya dengan duduk tenang, nyaman sembari mendengarkan musik dan memejamkan mata.
Kemudian, mereka membuka telapak tangan dan mengarahkannya ke langit. Posisi telapak kaki diminta tetap menempel ke lantai.
Tamsul, lantas meminta para pelajar itu untuk melepaskan semua beban pikiran dan permasalahan yang dialami di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Peserta juga diminta untuk memaafkan dan meminta maaf kepada orangtua dan juga diri sendiri. Saat meditasi selesai, ada beberapa peserta yang terlihat menitikkan air mata dan menangis.
Tamsul mengatakan bahwa meditasi bisa menjadi solusi karena masalah mental sangat kuat kaitannya dengan spiritualitas seseorang.
“Melalui meditasi, kita bisa melepas energi negatif atau energi stres dari dalam diri sehingga bisa terhindar dari hal-hal yang buruk, seperti terjerumus ke dunia narkoba," ucapnya.
Tamsul mengatakan, generasi muda khususnya pelajar atau mahasiswa perlu sesekali melakukan meditasi agar bisa terhindar dari stres.
"Untuk menjaga kesehatan mental liburan saja tidak cukup, tapi perlu kelola stres dengan baik, caranya yaitu dengan melakukan meditasi, " ucapnya.
Dalam pemaparannya, Kepala BNNK Sumenep Bambang Sutrisno mengatakan bahwa bahaya narkoba masih mengintai masyarakat terutama generasi muda.
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) Tahun 2024, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di indonesia mencapai 3,3 juta orang. Angka peningkatan tertinggi didominasi oleh kalangan remaja atau pelajar usia 15 - 24 tahun.
Oleh sebab itu, kata Bambang, edukasi tentang bahaya narkoba bagi kalangan pelajar sangat penting karena termasuk kelompok yang paling rentan dari peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika.
"Faktor utamanya itu karena masalah mental seperti stres atau kecemasan dan masalah asmara seperti putus cinta dan semacamnya," terang Bambang.
Salah satu peserta, Riska, menuturkan bahwa dirinya mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut dengan banyak beban pikiran. Namun, setelah mengikuti meditasi, bebannya berkurang dan merasa plong.
" Saat meditasi saya mengikuti semua instruksi. Sekarang saya merasa plong, lebih bersemangat, dan bisa berdamai dengan diri sendiri," kata Riska.
Dalam seminar itu, Kasat Reskoba Polres Sampang Iptu Yuda Julianto dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang KH M Itqon Bushiri turut menjadi pemateri.
