Pemilu 2019 Bikin “Kapok” Panitia Penyelenggara

Khoirotul Lathifiyah

Minggu, 28 April 2019 - 20:23

JATIMNET.COM, Surabaya - Pemilihan Umum 2019 menyisakan beragam kesan bagi mereka yang terlibat sebagai penyelenggara pemungutan suara. Beberapa petugas mulai dari tingkat Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Panitia Pemungutan Suara (PPS), bahkan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) merasa kapok karena memberatkan.

"Beberapa hari sebelumnya kami juga ngobrol dengan saksi maupun partai politik agar pemilu mendatang tidak lima pemilihan langsung," kata Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Tambaksari Ewan Setiabudi, saat diwawancarai di kantor Kelurahan Tambaksari Surabaya, Minggu 28 April 2019.

Selama kegiatan pemilu ini banyak semangat petugas menurun karena merasa kelelahan dan terbebani banyaknya administrasi dengan tenggat waktu yang singkat.

BACA JUGA: Khofifah Imbau Pemda Berikan Tunjangan Pendidikan

Ewan mengaku sudah berkontribusi sebagai petugas pemilu sejak 1999 hingga sekarang. Menurutnya pemilu 2019 yang paling berat. "Dulu saya petugas di KPPS sampai 2014, dan di PPK mulai 2015 hingga 2019 ini," katanya.

Ewan mengungkapkan jika pemilihan selanjutnya dipaksakan menggunakan aturan seperti ini lagi kemungkinan tidak ada yang mau menjadi petugas KPPS. "Karena memang sangat berat, jadi saya ragu tingkat KPPS mau berkontribusi lagi. Paling 50 persen yang mau," katanya.

Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya tenaga medis yang akhir-akhir ini disediakan. Apalagi adanya mahasiswa yang juga sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN). "Jika salah satu petugas kami yang kelelahan kami anjurkan untuk istirahat dan digantikan mahasiswa yang KKN," kata Ewan.

BACA JUGA: KPU Surabaya Beri Santunan Keluarga KPPS yang Meninggal

Salah satu petugas KPPS di TPS 37 Kelurahan Tambaksari, Soewandi (51) mengaku pemilu 2019 ini paling susah dan paling ribet, karena langsung menghitung lima calon sekaligus. "Tapi karena di tempat saya sudah berpengalaman semua, jadi tingkat kesulitannya sekitar 10 persen saja," katanya.

Ia menjelaskan TPS 37 selesai melakukan penghitungan suara sekitar pukul 23.00 WIB. Menurutnya yang paling susah adalah penghitungan calon DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kota karena dengan jumlah calon yang banyak.

Pria yang biasa dipanggil Andi ini berharap agar pemilu selanjutnya tidak dilakukan serentak lima pemilihan. Karena dinilai memberatkan petugas di lapangan, khususnya di tingkat KPPS. Apalagi jika petugas tersebut belum berpengalaman atau belum mengetahui prosedur pemilu.

"Dan diusahakan untuk petugas TPS adalah orang yang sebelumnya berpengalaman. Jadi ada pencampuran yang lama dan yang baru," kata Andi.

Baca Juga

loading...