Logo

Panggung Kampung dan Hiburan Rakyat yang Tetap Dinanti

Panggung sederhana bisa membuat satu gang berubah menjadi ruang hiburan yang mempertemukan hampir semua usia.
Reporter:,Editor:

Senin, 10 August 2026 08:00 UTC

Panggung Kampung dan Hiburan Rakyat yang Tetap Dinanti

Ilustrasi: Panggung Kampung Surabaya. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Panggung kampung punya suasana yang sulit ditiru gedung pertunjukan. Kursinya mungkin berbeda-beda, suara anak kecil bersahutan, pedagang lewat di pinggir penonton, sementara panitia masih mengurus kabel ketika acara hampir dimulai.

Pemandangan seperti ini kembali mudah dijumpai saat Agustus. Di Surabaya, panggung lingkungan hadir dalam banyak bentuk. Ada pentas musik, tari anak, ludruk, karaoke warga, pembagian hadiah lomba, hingga pertunjukan sederhana yang pemainnya adalah tetangga sendiri.

Di tengah hiburan digital yang bisa dinikmati kapan saja, orang ternyata masih bersedia keluar rumah dan duduk bersama untuk menonton pertunjukan semacam itu.

 

Surabaya Punya Penonton dalam Jumlah Besar

Ada konteks demografi yang membuat acara berbasis lingkungan tetap relevan di Surabaya.

Badan Pusat Statistik Kota Surabaya mencatat jumlah penduduk kota ini pada 2024 mencapai sekitar 2,92 juta jiwa. Kepadatan penduduknya berada di kisaran 8.800 jiwa per kilometer persegi, meski tingkat kepadatan berbeda cukup jauh antarwilayah.

Hidup di kota sepadat itu berarti jarak fisik antartetangga sebenarnya dekat. Namun kedekatan tempat tinggal belum tentu membuat orang sering bertemu.

Rutinitas kerja, perjalanan, sekolah, urusan keluarga, dan penggunaan gawai membuat pola interaksi berubah. Banyak warga bisa tinggal di gang yang sama tetapi memiliki jadwal harian yang hampir tidak pernah berpotongan.

Agustus mengubah ritmenya untuk sementara.

Rapat lomba membuat orang bertemu. Anak-anak latihan pentas. Warga memasang dekorasi. Malam pertunjukan kemudian menjadi titik berkumpul setelah berbagai pekerjaan kecil itu selesai.

Tidak semua penonton datang karena penasaran dengan kualitas pertunjukannya. Sebagian datang karena anaknya tampil. Ada yang ingin melihat tetangga bernyanyi. Yang lain mungkin sekadar ingin duduk di luar rumah sambil membeli makanan.

Justru campuran alasan sederhana itulah yang membuat panggung kampung bertahan.

 

Ketika Layar Menjadi Saingan yang Ada di Setiap Saku

Kompetitor panggung warga sekarang bukan acara di kampung sebelah. Saingannya ada di ponsel.

Survei APJII 2024 mencatat 221.563.479 penduduk Indonesia telah terhubung ke internet. Tingkat penetrasi internet mencapai 79,5 persen dari populasi 278.696.200 jiwa yang menjadi basis perhitungan survei tersebut.

Kelompok usia muda mengambil porsi besar. Gen Z menyumbang 34,40 persen komposisi pengguna internet Indonesia, disusul milenial sebesar 30,62 persen.

Mereka tumbuh dengan pilihan hiburan yang nyaris tidak mengenal jam tayang. Video, musik, film, gim, dan media sosial dapat dibuka ketika sedang menunggu makanan sekalipun.

Dalam situasi itu, pertunjukan kampung punya kelemahan yang jelas. Jadwalnya tetap. Penonton harus datang. Kursi belum tentu nyaman. Kualitas suara kadang tidak sempurna.

Namun panggung warga memiliki sesuatu yang sulit disediakan algoritma: kemungkinan bahwa orang di atas panggung adalah seseorang yang dikenal penonton.

Ketika seorang anak tampil menari, satu keluarga bisa datang. Ketika bapak-bapak membentuk grup musik dadakan, teman satu gang ikut menonton. Bahkan kesalahan kecil di panggung sering menjadi bagian yang paling ramai dibicarakan setelah acara.

Hiburan tersebut terasa dekat karena jarak antara pemain dan penontonnya hampir hilang.

 

Satu Malam Pertunjukan Menggerakkan Banyak Orang

Panggung kampung sebenarnya mulai hidup jauh sebelum lampu dinyalakan.

Ada warga yang mencari pengisi acara. Seseorang meminjam kursi. Ada yang menangani pengeras suara, membuat dekorasi, mengurus konsumsi, menyusun urutan tampil, sampai memastikan kabel listrik tidak berada di jalur anak-anak berlari.

Di bagian depan, aktivitas ekonomi kecil ikut muncul.

Pedagang minuman, jajanan, pentol, gorengan, atau makanan rumahan memperoleh kerumunan yang biasanya tidak ada pada malam biasa. Untuk lingkungan dengan ratusan warga, beberapa jam acara sudah cukup menciptakan pasar kecil di sepanjang jalan.

Skala ekonomi hiburan Indonesia sendiri terus membesar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,57 persen pada 2024, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03 persen.

Pertumbuhan hiburan digital memang berada dalam ekosistem yang jauh lebih luas daripada sebuah pentas RT. Namun perbandingan itu memberi konteks penting: masyarakat sekarang hidup dalam pasokan konten dan hiburan yang semakin besar.

Panggung kampung bertahan bukan dengan mengalahkan pilihan tersebut. Ia menawarkan pengalaman yang berbeda.

Orang datang sekaligus menjadi bagian dari acaranya.

 

 

Pentas Lokal Tidak Harus Terlihat Profesional

Dorongan membuat acara terlihat sempurna kadang justru menambah beban panitia. Panggung yang menyenangkan tidak selalu membutuhkan tata cahaya rumit, dekorasi mahal, atau susunan acara panjang.

Untuk lingkungan warga, hal-hal dasar sering jauh lebih menentukan: suara terdengar jelas, area aman, acara dimulai cukup tepat waktu, dan penonton masih mempunyai ruang untuk bergerak.

Durasi juga penting. Pertunjukan yang terlalu panjang mudah kehilangan penonton, terutama ketika melibatkan keluarga dengan anak kecil. Susunan acara yang berganti antara musik, tari, permainan, dan pengumuman hadiah biasanya lebih mudah menjaga perhatian.

Pilihan pengisi acara dapat mengikuti karakter lingkungan. Di satu kampung, musik menjadi daya tarik utama. Tempat lain mungkin lebih hidup dengan tari tradisional, pencak silat, komedi, atau pertunjukan anak. Surabaya sendiri mempunyai akar seni pertunjukan yang kuat, salah satunya ludruk yang berkembang sebagai kesenian khas Jawa Timur.

Tidak semua panggung Agustusan harus menampilkan ludruk lengkap. Cuplikan komedi lokal, penggunaan bahasa Suroboyoan, atau musik Jawa Timur sudah bisa memberi karakter yang lebih dekat dengan lingkungan penonton.

 

Ruang Bersama yang Semakin Jarang

Ada alasan lain mengapa acara kecil seperti ini terasa berbeda setelah pandemi. BPS mencatat persentase penduduk Indonesia yang menonton pertunjukan atau pameran seni secara langsung pernah mengalami tekanan besar ketika pembatasan kegiatan masyarakat berlaku. Dunia pertunjukan kemudian berangsur kembali seiring ruang publik dibuka dan aktivitas sosial pulih.

Kembalinya penonton ke acara langsung memberi pengingat bahwa pengalaman fisik belum sepenuhnya tergantikan layar.

Pada skala kampung, pengalaman itu bahkan sangat kasual. Tidak ada tiket. Orang bisa datang terlambat, berdiri sebentar, pulang mengambil jaket, lalu kembali lagi. Anak-anak berpindah dari kursi ke lapangan tanpa merasa sedang menghadiri sebuah “pertunjukan seni”.

Karakter cair seperti itu justru cocok dengan Agustusan. Menjelang malam di permukiman Surabaya, lampu panggung mulai terlihat lebih terang setelah matahari turun. Motor yang hendak lewat dipelankan, kursi plastik bertambah, suara tes mikrofon terdengar sampai beberapa gang.

Besok pagi jalan tersebut kembali menjadi jalan biasa. Mungkin itu sebabnya panggung kampung tetap dinanti. Ia hadir sebentar, memakai ruang yang setiap hari dilewati warga, lalu membuat tempat tersebut terasa berbeda selama beberapa jam.