Kamis, 24 September 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Sikat Gigi Tetap Bersih. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Sikat gigi di kamar mandi hampir selalu berada dekat dengan air dan kelembapan. Setelah dipakai, benda kecil ini sering langsung dimasukkan ke wadah, ditutup, atau diletakkan berdempetan dengan sikat milik anggota keluarga lain.
Padahal, cara penyimpanan ikut menentukan apakah sikat dapat mengering dengan baik sebelum digunakan kembali. American Dental Association (ADA) menyarankan sikat dibilas setelah digunakan, disimpan tegak, lalu dibiarkan mengering oleh udara.
Perhatian pada kebiasaan kecil ini relevan di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 95,6 persen masyarakat usia tiga tahun ke atas sudah menyikat gigi setiap hari. Namun, baru 6,2 persen yang melakukannya pada waktu yang benar.
Sikat Gigi Basah Sebaiknya Tidak Langsung Ditutup
Setelah menyikat gigi, bulu sikat membawa air, sisa pasta gigi, dan material dari rongga mulut. Membilasnya dengan air mengalir membantu menghilangkan sisa yang masih menempel.
Tahap berikutnya adalah pengeringan. ADA merekomendasikan sikat disimpan dalam posisi tegak dan dibiarkan mengering secara alami. Menyimpan sikat yang masih basah dalam wadah tertutup justru menciptakan lingkungan lebih lembap.
Menurut ADA, kondisi tertutup dan lembap dapat lebih mendukung pertumbuhan mikroorganisme dibanding membiarkan sikat terkena udara terbuka. Karena itu, penutup bukan selalu pilihan terbaik untuk penyimpanan rutin di rumah.
Hal tersebut tidak berarti setiap mikroorganisme yang ditemukan pada sikat otomatis membuat seseorang sakit. ADA menyatakan bakteri memang dapat ditemukan pada sikat gigi, tetapi belum ada bukti bahwa keberadaan bakteri tersebut pada sikat menyebabkan dampak kesehatan yang merugikan.
Jadi, pendekatan yang masuk akal bukan membuat sikat menjadi steril. Fokusnya adalah menjaga kebersihan dasar dan memberikan kesempatan agar sikat mengering sempurna.
Jarak Antar Sikat Gigi Juga Perlu Diperhatikan
Satu gelas berisi beberapa sikat gigi menjadi pemandangan umum di kamar mandi keluarga. Cara ini praktis, tetapi kepala sikat sebaiknya tidak saling bersentuhan.
Panduan kesehatan publik dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut setiap sikat perlu disimpan agar tidak menyentuh sikat lainnya dan tetap dapat mengering oleh udara.
ADA juga menegaskan sikat gigi tidak boleh digunakan bergantian. Berbagi sikat dapat menyebabkan pertukaran cairan tubuh dan mikroorganisme antarpengguna.
Artinya, wadah dengan beberapa slot terpisah dapat menjadi pilihan sederhana untuk keluarga. Tidak perlu membeli perangkat mahal selama setiap sikat mempunyai ruang yang cukup.
Wadah penyimpanan juga jangan dilupakan. Bagian bawah gelas atau holder dapat menerima tetesan air setiap hari. Membersihkannya secara rutin membantu mencegah terbentuknya lapisan kotoran dan kelembapan yang menetap.
Posisi penyimpanan pun sebaiknya berada di area yang bersih dan memungkinkan sikat cepat kering. Jika sudut wastafel selalu basah, memindahkan holder sedikit menjauh dapat membuat rutinitas lebih rapi.
Kebiasaan Menyikat Gigi Sudah Tinggi, Waktunya Belum Tepat
Persoalan sikat gigi di Indonesia sebenarnya menarik. Mayoritas masyarakat sudah memiliki kebiasaan menyikat gigi, tetapi waktu menyikatnya masih menjadi tantangan.
Data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan perilaku menyikat gigi setiap hari meningkat dari 94,7 persen pada Riskesdas 2018 menjadi 95,6 persen dalam SKI 2023.
Pada periode yang sama, proporsi masyarakat yang menyikat gigi pada waktu yang benar meningkat dari 2,8 persen menjadi 6,2 persen. Waktu yang dimaksud adalah pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
Perbaikannya terlihat jelas, tetapi 6,2 persen berarti praktik yang tepat masih dilakukan sebagian kecil masyarakat.
SKI 2023 juga mencatat 56,9 persen penduduk berusia lebih dari tiga tahun mengalami masalah gigi dan mulut. Kementerian Kesehatan menyebut 88 persen dari kelompok yang mengalami masalah tersebut menderita karies.
Angka itu menunjukkan kesehatan gigi bukan hanya soal memiliki sikat dan pasta gigi. Teknik, waktu, konsistensi, serta kondisi alat yang digunakan sama-sama pantas mendapat perhatian.
ADA merekomendasikan menyikat gigi selama dua menit, dua kali sehari, menggunakan sikat berbulu lembut. Tekanan saat menyikat juga tidak perlu berlebihan.
Sikat Gigi Tidak Perlu Dipakai Sampai Rusak
Ada kecenderungan mempertahankan sikat selama bulunya masih terlihat utuh. Padahal, performa sikat akan menurun ketika bulunya mulai aus dan berubah bentuk.
ADA menyarankan mengganti sikat gigi sekitar setiap tiga sampai empat bulan. Penggantian dapat dilakukan lebih cepat apabila bulunya sudah mengembang, kusut, atau terlihat rusak.
Rentang tiga hingga empat bulan mudah dijadikan pengingat sederhana. Seseorang dapat menghubungkannya dengan pergantian musim, awal kuartal, atau pengingat berkala di ponsel.
Tidak perlu menunggu warna sikat berubah atau gagangnya tampak tua. Kondisi bulu justru menjadi indikator yang lebih relevan untuk menentukan waktunya mengganti sikat.
Sebaliknya, tidak ada kebutuhan rutin untuk melakukan sterilisasi ekstrem. ADA tidak merekomendasikan memasukkan sikat ke microwave atau dishwasher karena panas tinggi berpotensi merusaknya.
Rutinitas yang lebih sederhana sudah cukup untuk penggunaan sehari-hari: bilas hingga bersih, kibaskan sisa air, simpan tegak secara terpisah, lalu biarkan terkena udara hingga kering.
Kamar mandi menyimpan banyak benda kecil yang digunakan berulang setiap hari. Karena terlalu familiar, kebersihannya justru mudah terlupakan.
Sikat gigi di kamar mandi termasuk salah satunya. Dengan penyimpanan yang tepat, kebiasaan dua menit setiap pagi dan malam dapat didukung oleh alat yang terawat, kering, dan siap digunakan kembali.
