Sabtu, 07 November 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Menyimpan makanan agar tetap aman. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Menyimpan makanan sisa dengan benar merupakan kebiasaan sederhana yang dapat membantu keluarga mengurangi pemborosan pangan sekaligus menjaga keamanan makanan. Nasi, sayur, lauk, dan berbagai hidangan rumahan sering masih tersedia setelah waktu makan, tetapi tidak semuanya dapat disimpan dengan cara yang sama.
Sebagian orang langsung memasukkan makanan ke lemari pendingin, sementara yang lain membiarkannya berada di meja hingga waktu makan berikutnya. Kedua kebiasaan tersebut perlu mempertimbangkan jenis makanan, suhu penyimpanan, dan lamanya makanan berada pada suhu ruang.
Persoalan makanan sisa juga berkaitan dengan besarnya limbah pangan dunia. United Nations Environment Programme (UNEP) melalui Food Waste Index Report 2024 memperkirakan sekitar 1,05 miliar ton makanan terbuang pada 2022 di tingkat rumah tangga, layanan makanan, dan perdagangan eceran.
Sekitar 60 persen limbah makanan tersebut berasal dari rumah tangga. Angka ini menunjukkan bahwa pengelolaan makanan sehari-hari memiliki hubungan langsung dengan persoalan lingkungan yang lebih luas.
Memahami cara menyimpan makanan sisa bukan berarti seluruh hidangan harus dipertahankan selama mungkin. Tujuannya adalah mengenali makanan yang masih layak disimpan, memperkirakan waktu konsumsi, dan menghindari risiko kesehatan akibat penyimpanan yang keliru.
Mengapa Makanan Sisa Cepat Mengalami Kerusakan?
Makanan yang telah dimasak tetap dapat mengalami kerusakan akibat aktivitas mikroorganisme. Proses pemanasan memang dapat membunuh banyak mikroorganisme, tetapi tidak selalu menghilangkan seluruh spora bakteri atau mencegah kontaminasi setelah makanan matang.
Ketika makanan dibiarkan pada suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri, jumlah mikroorganisme tertentu dapat meningkat. Risiko ini dipengaruhi kandungan air, tingkat keasaman, jenis bahan, dan kondisi kebersihan selama pengolahan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menjelaskan bahwa bakteri penyebab penyakit bawaan makanan dapat berkembang pada rentang suhu sekitar 4–60 derajat Celsius. Rentang tersebut sering disebut sebagai zona bahaya suhu pangan.
Makanan yang mudah rusak sebaiknya tidak dibiarkan berada pada suhu ruang lebih dari dua jam. Jika suhu lingkungan melebihi 32 derajat Celsius, batas waktu tersebut menjadi satu jam.
Ketentuan ini penting diperhatikan di Indonesia yang memiliki iklim tropis. Makanan yang terlihat normal belum tentu aman dikonsumsi karena sebagian mikroorganisme berbahaya tidak selalu menimbulkan perubahan warna, aroma, atau rasa.
Nasi matang memerlukan perhatian khusus. Bakteri Bacillus cereus dapat membentuk spora yang bertahan selama proses memasak. Apabila nasi matang dibiarkan terlalu lama pada suhu yang tidak aman, bakteri dapat berkembang dan menghasilkan toksin tertentu.
Karena itu, nasi sisa sebaiknya segera didinginkan dan disimpan dengan benar. Memanaskan kembali nasi tidak selalu dapat menghilangkan toksin yang sudah terbentuk akibat penyimpanan yang keliru.
Cara Menyimpan Makanan Sisa di Lemari Pendingin
Langkah pertama adalah memindahkan makanan yang akan disimpan ke wadah bersih dan sesuai untuk pangan. Wadah bertutup membantu mengurangi risiko kontaminasi silang serta menjaga makanan dari kontak langsung dengan bahan lain.
Makanan dalam jumlah besar sebaiknya dibagi menjadi beberapa porsi kecil. Cara ini membantu mempercepat proses pendinginan dibandingkan menyimpan seluruh makanan dalam satu panci besar yang masih panas.
Makanan tidak harus menunggu benar-benar dingin pada suhu ruang sebelum dimasukkan ke lemari pendingin. Hidangan dalam porsi kecil dapat segera didinginkan, sedangkan makanan dalam jumlah besar perlu dibagi atau menggunakan metode pendinginan cepat.
FDA merekomendasikan suhu lemari pendingin berada pada 4 derajat Celsius atau lebih rendah, sedangkan pembeku pada minus 18 derajat Celsius atau lebih rendah.
Suhu tersebut perlu diperiksa menggunakan termometer lemari pendingin apabila tersedia. Pengaturan angka pada tombol pendingin tidak selalu menunjukkan suhu sebenarnya di seluruh bagian perangkat.
Untuk sebagian besar makanan matang yang mudah rusak, panduan FoodSafety.gov merekomendasikan masa penyimpanan sekitar tiga hingga empat hari di lemari pendingin dengan suhu yang sesuai. Namun, ketentuan ini bukan jaminan bahwa setiap makanan aman sampai hari keempat.
Makanan yang telah berada terlalu lama pada suhu ruang, terkontaminasi, atau disimpan dalam kondisi tidak higienis tetap harus dibuang meskipun belum mencapai batas tersebut.
Memberikan label tanggal penyimpanan dapat membantu keluarga menentukan urutan konsumsi. Makanan yang disimpan lebih dahulu dapat digunakan lebih awal, selama kondisinya masih memenuhi persyaratan keamanan pangan.
Mengolah Kembali Makanan Sisa Tanpa Mengabaikan Keamanan
Makanan yang disimpan dengan benar dapat diolah menjadi hidangan lain untuk menghindari kebosanan. Nasi dingin, misalnya, dapat dijadikan nasi goreng, sedangkan potongan ayam matang dapat ditambahkan ke dalam sup atau tumisan.
Namun, pengolahan kembali tidak dapat memperbaiki makanan yang sudah tidak aman. Pemanasan tidak selalu menghilangkan toksin tertentu yang telah terbentuk akibat pertumbuhan bakteri selama penyimpanan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC merekomendasikan pemanasan makanan sisa hingga suhu internal mencapai sekitar 74 derajat Celsius. Penggunaan termometer makanan membantu memastikan bagian tengah hidangan mencapai suhu tersebut.
Untuk makanan berkuah, pemanasan perlu dilakukan secara merata. Aduk makanan selama proses memasak agar tidak ada bagian yang tetap dingin, terutama ketika menggunakan microwave.
Sebaiknya ambil hanya porsi yang akan dimakan. Kebiasaan menghangatkan seluruh persediaan berulang kali membuat makanan mengalami lebih banyak perubahan suhu dan memperbesar peluang kesalahan penanganan.
Makanan beku juga perlu dicairkan dengan cara aman, seperti menggunakan lemari pendingin, air dingin dengan prosedur yang sesuai, atau microwave sebelum segera dimasak. Membiarkan makanan beku mencair sepanjang malam di meja dapur bukan pilihan yang dianjurkan.
Mengurangi Makanan Terbuang Dimulai dari Porsi
Pengelolaan makanan sisa sebenarnya dimulai sebelum memasak. Menentukan jumlah bahan berdasarkan kebutuhan anggota keluarga membantu mengurangi kemungkinan hidangan berlebih.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas melalui kajian Food Loss and Waste 2021 memperkirakan Indonesia menghasilkan kehilangan dan pemborosan pangan sebesar 23–48 juta ton per tahun selama periode 2000–2019. Angka tersebut mencakup seluruh rantai pangan, bukan hanya sampah dari rumah tangga.
Kajian yang sama memperkirakan kerugian ekonomi akibat kehilangan dan pemborosan pangan mencapai Rp213–551 triliun per tahun, setara sekitar 4–5 persen produk domestik bruto pada periode kajian.
Besarnya nilai tersebut menunjukkan bahwa pemborosan pangan memiliki konsekuensi ekonomi dan lingkungan. Bahan makanan yang terbuang juga berarti sumber daya untuk memproduksi, mengangkut, menyimpan, dan mengolahnya tidak dimanfaatkan secara optimal.
Pada tingkat rumah tangga, keluarga dapat memulai dengan memeriksa isi lemari pendingin sebelum berbelanja. Bahan yang mendekati akhir masa simpannya dapat diprioritaskan untuk menu berikutnya.
Memasak dalam porsi yang sesuai, menyimpan makanan secara terpisah, dan mencatat tanggal penyimpanan membantu membangun kebiasaan yang lebih teratur. Langkah ini juga memudahkan anggota keluarga mengetahui makanan mana yang perlu segera dikonsumsi.
Apabila terdapat makanan berlebih yang masih aman, membagikannya kepada orang lain dapat menjadi pilihan. Namun, makanan tersebut tetap harus memenuhi persyaratan kebersihan, suhu, dan waktu penyimpanan. Niat mengurangi pemborosan tidak boleh mengorbankan keamanan penerima.
Cara menyimpan makanan sisa dengan benar pada akhirnya berkaitan dengan dua tanggung jawab sekaligus, yakni menjaga kesehatan keluarga dan menggunakan sumber daya pangan secara bijak.
Makanan yang disimpan pada suhu tepat, diberi tanggal, dan dikonsumsi dalam batas waktu aman memiliki peluang lebih besar untuk dimanfaatkan kembali. Sebaliknya, makanan yang sudah berisiko harus dibuang meskipun secara fisik masih terlihat baik.
Kebiasaan kecil di dapur dapat membantu keluarga mengurangi makanan terbuang tanpa memaksakan konsumsi makanan yang tidak aman. Pengelolaan pangan yang baik bukan hanya tentang menghabiskan seluruh hidangan, melainkan mengetahui kapan makanan perlu disimpan, dimanfaatkan, atau tidak lagi dikonsumsi.
