Sabtu, 07 November 2026 03:12 UTC

Ilustrasi: Menikmati pagi sambil mengamati burung. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Mengamati burung atau birdwatching bisa menjadi pilihan kegiatan akhir pekan bagi masyarakat yang ingin menikmati alam tanpa harus melakukan perjalanan jauh.
Aktivitas ini mengajak seseorang mengenali burung liar melalui bentuk tubuh, warna bulu, suara, hingga perilakunya di habitat alami. Menariknya, kegiatan tersebut dapat dimulai dari pekarangan rumah, kebun, persawahan, atau jalur hijau yang mudah dijangkau.
Berbeda dengan wisata yang menuntut banyak aktivitas dalam waktu singkat, mengamati burung mengutamakan kesabaran dan ketelitian. Pengamat tidak perlu mengejar satwa atau mendekatinya secara berlebihan. Mereka cukup mencari tempat yang aman, memperhatikan lingkungan sekitar, kemudian mencatat burung yang terlihat maupun terdengar.
Indonesia memiliki modal keanekaragaman hayati yang besar untuk kegiatan ini. Kementerian Kehutanan pada April 2025 menyampaikan hasil publikasi Burung Indonesia yang mencatat 1.835 spesies burung di Nusantara. Jumlah tersebut setara dengan hampir 17 persen keragaman spesies burung dunia.
Angka itu memperlihatkan besarnya peluang masyarakat mengenal kekayaan alam melalui kegiatan sederhana. Namun, pengamatan burung bukan sekadar menghitung banyaknya spesies yang ditemukan. Pengalaman mengenali hubungan antara satwa, tumbuhan, dan lingkungan justru menjadi nilai utama kegiatan tersebut.
Mengapa Birdwatching Menarik untuk Dicoba?
Birdwatching menawarkan pengalaman yang berbeda dari kegiatan rekreasi pada umumnya. Peserta tidak harus memiliki keterampilan khusus sejak awal. Ketertarikan dapat tumbuh dari kebiasaan memperhatikan burung yang singgah di pohon, mencari makan di halaman, atau berkicau pada pagi hari.
Burung juga memiliki perilaku yang beragam. Ada spesies yang aktif mencari serangga di antara dedaunan, sementara jenis lainnya lebih sering terlihat di tanah terbuka. Sebagian hidup berkelompok, sedangkan beberapa spesies cenderung menyendiri atau mempertahankan wilayah tertentu.
Perbedaan tersebut membuat setiap kegiatan pengamatan berpotensi menghadirkan pengetahuan baru. Bahkan, mengunjungi lokasi yang sama pada waktu berbeda dapat menghasilkan pengalaman berbeda karena aktivitas burung dipengaruhi kondisi cuaca, ketersediaan makanan, dan perubahan habitat.
Kegiatan ini juga dapat menjadi sarana belajar lintas generasi. Anak-anak bisa berlatih mengenali warna dan suara, sementara orang dewasa membantu mencatat ciri-ciri satwa. Proses pengamatan bersama membuka kesempatan berdiskusi tentang alam tanpa harus mengandalkan hiburan berbayar.
Kekayaan Burung Indonesia dan Pentingnya Habitat
Besarnya keragaman burung Indonesia tidak berarti seluruh spesies berada dalam kondisi aman. Perubahan penggunaan lahan, perdagangan satwa ilegal, perburuan, dan kerusakan habitat menjadi tantangan konservasi yang perlu diperhatikan.
Kementerian Kehutanan dalam publikasi April 2025 juga menjelaskan bahwa pencatatan keanekaragaman burung Indonesia mengalami penambahan 30 spesies selama lima tahun sebelumnya. Sebanyak 12 di antaranya merupakan spesies yang baru dideskripsikan, sedangkan sisanya berasal dari pemisahan taksonomi berdasarkan kajian ilmiah.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang keanekaragaman burung terus berkembang. Perubahan jumlah spesies yang tercatat tidak selalu menunjukkan pertambahan populasi burung di alam, melainkan dapat mencerminkan perkembangan penelitian dan klasifikasi ilmiah.
Bagi pengamat pemula, memahami hubungan burung dengan habitatnya menjadi pelajaran penting. Pohon berbunga dapat menyediakan nektar bagi jenis burung tertentu, sedangkan semak dan pepohonan menyediakan tempat berlindung, mencari makan, atau bersarang.
Keberadaan burung juga berkaitan dengan keseimbangan ekosistem. Sebagian spesies membantu penyebaran biji, penyerbukan tumbuhan, atau pengendalian populasi serangga. Karena itu, menjaga lingkungan tempat burung hidup memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar mempertahankan pemandangan alam.
Peralatan Sederhana untuk Memulai Birdwatching
Memulai birdwatching tidak harus menggunakan kamera mahal atau teropong profesional. Pengamat pemula dapat mengandalkan penglihatan, pendengaran, dan buku catatan untuk mengenali burung di sekitarnya.
Teropong binokular memang membantu melihat ciri burung dari jarak aman. Namun, alat tersebut bukan persyaratan mutlak. Pengamatan awal bisa dilakukan dengan memperhatikan ukuran tubuh, bentuk paruh, pola warna, cara terbang, dan lokasi burung ditemukan.
Buku catatan menjadi perlengkapan yang tidak kalah penting. Tuliskan waktu pengamatan, kondisi cuaca, jenis habitat, serta ciri burung yang terlihat. Jika belum mengetahui nama spesiesnya, pengamat dapat membuat sketsa sederhana atau mencatat suara yang terdengar.
Sebagai contoh, seseorang dapat menuliskan bahwa pada pukul 06.30 terlihat burung berukuran kecil dengan bagian dada berwarna kuning, bertengger di semak berbunga. Catatan semacam ini membantu proses identifikasi setelah kegiatan selesai, meskipun belum cukup untuk memastikan spesies tertentu.
Pakaian berwarna netral, sepatu nyaman, air minum, dan pelindung dari sinar matahari juga perlu dipersiapkan. Hindari pakaian yang menghambat gerakan ketika melewati jalur tanah atau vegetasi rendah.
Penggunaan aplikasi identifikasi burung dapat membantu pembelajaran, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa. Kemiripan warna dan suara antargolongan burung memungkinkan terjadinya kesalahan identifikasi, terutama jika foto atau rekaman kurang jelas.
Mengamati Burung Sekaligus Menjaga Aktivitas Fisik
Birdwatching juga dapat dipadukan dengan kegiatan berjalan kaki. Pengamat biasanya berpindah secara perlahan dari satu titik ke titik lainnya untuk mencari sudut pengamatan yang sesuai.
Kegiatan tersebut relevan dengan persoalan kurangnya aktivitas fisik masyarakat. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada Oktober 2025 mengutip Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang menunjukkan bahwa 37,4 persen penduduk berusia di atas 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik.
Dalam informasi yang sama, alasan kurangnya aktivitas fisik antara lain tidak memiliki waktu sebesar 48,7 persen, malas 32,6 persen, faktor usia lanjut 19,5 persen, serta tidak memiliki rekan beraktivitas 9,8 persen. Persentase alasan tersebut tidak harus berjumlah 100 persen karena seseorang dapat memiliki lebih dari satu kendala.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melalui pedoman aktivitas fisik 2020 merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit setiap minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit.
Mengamati burung dapat menjadi salah satu cara memperbanyak gerakan tubuh, terutama jika disertai berjalan kaki. Namun, tidak semua kegiatan birdwatching tergolong aktivitas intensitas sedang. Berdiam sambil menggunakan teropong atau berjalan sangat lambat belum tentu memenuhi intensitas yang dimaksud WHO.
Pengamat dapat mengombinasikan kegiatan tersebut dengan berjalan lebih cepat pada jalur yang aman. Misalnya, menyediakan waktu 30 menit untuk berjalan aktif, kemudian melanjutkan pengamatan dari beberapa titik yang telah dipilih.
Etika Birdwatching agar Tidak Mengganggu Satwa
Keberhasilan mengamati burung tidak diukur dari seberapa dekat seseorang dapat mendekati satwa. Justru, menjaga jarak menjadi bagian penting dari kegiatan yang bertanggung jawab.
Burung liar dapat mengalami gangguan ketika manusia terlalu dekat dengan tempat bersarang atau mencari makan. Gangguan berulang berpotensi membuat satwa meninggalkan lokasi, menghentikan aktivitas, atau menghabiskan energi untuk menghindari manusia.
Pengamat sebaiknya tidak memutar rekaman suara burung secara berlebihan untuk memancing respons satwa. Penggunaan suara tiruan, terutama di wilayah perkembangbiakan, dapat mengganggu perilaku alami beberapa spesies.
Hindari pula memindahkan sarang, menyentuh telur, mengambil anak burung, atau memberi makanan tanpa memahami dampaknya. Fotografi satwa seharusnya dilakukan dengan mengutamakan keselamatan burung, bukan mengejar gambar yang terlihat dramatis.
Apabila menemukan spesies yang dilindungi atau lokasi sarang yang sensitif, pertimbangkan risiko sebelum membagikan koordinatnya kepada publik. Informasi lokasi yang terlalu rinci dapat disalahgunakan oleh pihak yang ingin menangkap atau memperdagangkan satwa.
Pengamat pemula juga perlu menghormati batas lahan pribadi dan peraturan kawasan konservasi. Meminta izin sebelum memasuki kebun atau area tertentu merupakan bagian dari etika kegiatan di lapangan.
Menjadikan birdwatching sebagai aktivitas akhir pekan tidak memerlukan perjalanan besar ataupun pengeluaran tinggi. Kegiatan sederhana selama satu atau dua jam sudah dapat membuka kesempatan mengenali kehidupan liar yang selama ini berada di sekitar manusia.
Pada akhirnya, mengamati burung bukan hanya tentang menemukan spesies yang belum pernah dilihat. Kebiasaan memperhatikan lingkungan secara lebih teliti dapat menumbuhkan kepedulian terhadap habitat, memperkaya pengetahuan, sekaligus menghadirkan pilihan rekreasi yang menyenangkan dan bertanggung jawab.
