Senin, 02 November 2026 04:00 UTC

Ilustrasi hujan deras. Foto: magnific
JATIMNET.COM, Jakarta – Ancaman hujan lebat masih perlu diwaspadai masyarakat di Pulau Sumatera memasuki awal November 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya memperingatkan potensi cuaca ekstrem di tujuh provinsi, sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan lebat masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah dalam beberapa hari mendatang.
Peringatan BNPB yang berlaku pada 29–31 Oktober 2026 mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung.
Memasuki Minggu, 1 November 2026, , prakiraan terbaru BMKG untuk periode 30 Oktober–1 November turut memasukkan Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung dalam kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Masyarakat diminta mengantisipasi risiko banjir, tanah longsor, dan angin kencang dengan mengikuti perkembangan informasi cuaca resmi.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan potensi cuaca ekstrem dapat terjadi di beberapa wilayah secara bersamaan. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di kawasan yang memiliki riwayat bencana hidrometeorologi.
"Kami perlu menyampaikan kembali bahwa potensi cuaca ekstrem dapat terjadi di beberapa provinsi maupun pulau untuk siaga cuaca ekstrem," ujar Berton SP Panjaitan dalam keterangannya mengenai kewaspadaan cuaca ekstrem di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Berton menjelaskan, potensi hujan sedang hingga lebat juga perlu diperhatikan di wilayah lain, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Tingkat ancaman di setiap daerah berbeda, sehingga informasi peringatan dini harus menjadi acuan dalam menentukan langkah pencegahan.
Peringatan tersebut muncul ketika sejumlah daerah di Sumatera Utara telah mengalami banjir akibat hujan deras. BNPB melaporkan banjir di Kota Medan pada 28 Oktober 2026 berdampak pada sembilan kelurahan yang tersebar di lima kecamatan.
Sebanyak 2.405 kepala keluarga atau 7.930 jiwa terdampak dalam kejadian tersebut. Genangan dilaporkan surut pada 29 Oktober dan warga telah kembali ke rumah masing-masing.
Banjir juga melanda Kota Binjai setelah Sungai Bingai dan Sungai Mencirim meluap pada 29 Oktober 2026. Peristiwa itu berdampak pada 1.014 kepala keluarga atau 3.885 jiwa di empat kelurahan, yakni Rambung Timur, Rambung Dalam, Setia, dan Mencirim.
Di Kabupaten Serdang Bedagai, banjir dan tanah longsor terjadi pada hari yang sama. Sedikitnya 31 kepala keluarga terdampak di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Kotarih, Silinda, Sipispis, dan Dolok Merawan.
Berdasarkan laporan BNPB per 30 Oktober 2026, jumlah kejadian bencana di Indonesia telah mencapai 2.247 kejadian. Tambahan laporan didominasi bencana hidrometeorologi, termasuk enam kejadian banjir di Sumatera Utara dan Aceh serta dua kejadian cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur.
Bencana hidrometeorologi merupakan peristiwa yang dipengaruhi kondisi cuaca, iklim, dan air, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, serta kekeringan. Risiko banjir dapat meningkat ketika hujan deras terjadi di kawasan dengan drainase terbatas, daerah aliran sungai yang meluap, atau permukiman di dataran rendah.
Sementara itu, BMKG menjelaskan bahwa peningkatan potensi hujan dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial berperan dalam mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
BMKG juga mengidentifikasi Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman dan pola sirkulasi siklonik di Laut Natuna. Kondisi tersebut dapat membentuk daerah pertemuan angin yang mendukung munculnya awan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat dan angin kencang.
Data pengamatan BMKG sebelumnya mencatat curah hujan mencapai 131 milimeter per hari di Sumatera Utara, 97 milimeter per hari di Sumatera Barat, dan 75 milimeter per hari di Aceh. Angka tersebut menggambarkan intensitas hujan pada lokasi pengamatan, bukan curah hujan yang merata di seluruh wilayah provinsi.
Untuk periode 2–5 November 2026, BMKG masih menempatkan Sumatera Barat dalam kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Potensi angin kencang juga diprakirakan terjadi di Sumatera Barat dan Banten, sementara sejumlah provinsi lain masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas sedang.
Perubahan prakiraan antardaerah menunjukkan pentingnya masyarakat memantau informasi cuaca secara berkala. Peringatan yang berlaku pada akhir Oktober tidak otomatis menjadi acuan untuk seluruh wilayah pada pekan pertama November.
BNPB meminta pemerintah daerah memastikan kesiapan personel, peralatan, dan logistik penanggulangan bencana. Pemantauan debit sungai, kondisi lereng, serta saluran air perlu dilakukan terutama di kawasan yang pernah mengalami banjir dan longsor.
Masyarakat juga dianjurkan membersihkan drainase, memeriksa kondisi rumah, dan mengenali jalur evakuasi. Warga yang tinggal di bantaran sungai maupun kawasan perbukitan perlu meningkatkan kewaspadaan ketika hujan berlangsung lama, termasuk terhadap kemungkinan luapan sungai akibat hujan di wilayah hulu.
Bagi keluarga yang tinggal di daerah rawan bencana, perlengkapan darurat sebaiknya disiapkan sejak dini. Dokumen penting, obat-obatan, makanan, air minum, dan kebutuhan anak dapat ditempatkan dalam tas yang mudah dibawa apabila evakuasi diperlukan.
Kegiatan sekolah, perjalanan kerja, dan aktivitas masyarakat juga perlu mempertimbangkan kondisi cuaca. Genangan pada jalur transportasi, pohon tumbang, serta tanah longsor dapat menghambat mobilitas bahkan setelah hujan berhenti.
Memasuki November, kewaspadaan terhadap hujan lebat tetap diperlukan meskipun sebagian wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi panas dan kering. Informasi terbaru BMKG dan arahan BPBD setempat menjadi rujukan utama agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan sebelum cuaca buruk berkembang menjadi bencana.
