Logo

Keset Kamar Mandi Perlu Dijaga Tetap Kering

Keset membantu menjaga lantai nyaman, tetapi kelembapan yang tertahan terlalu lama dapat mengubahnya menjadi masalah baru.
Reporter:,Editor:

Kamis, 24 September 2026 08:00 UTC

Keset Kamar Mandi Perlu Dijaga Tetap Kering

Ilustrasi: Keset Kering Lebih Nyaman. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Keset kamar mandi sering menjadi benda pertama yang diinjak setelah tubuh terkena air. Dalam sehari, permukaannya bisa berulang kali basah tanpa benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengering.

Kondisi tersebut layak diperhatikan karena kelembapan merupakan faktor penting dalam pertumbuhan jamur di dalam rumah. Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat menyarankan kelembapan relatif ruangan dipertahankan di bawah 60 persen, dengan kisaran ideal 30–50 persen.

Keset yang terus lembap juga berbeda dari lantai keramik. Serat kain bersifat menyerap sehingga air dapat bertahan lebih lama di bagian yang tidak terlihat.

 

Keset Kamar Mandi Berhadapan dengan Air Setiap Hari

Mandi merupakan salah satu aktivitas rumah tangga yang menambah kelembapan udara dalam ruangan. EPA secara khusus memasukkan shower sebagai sumber kelembapan di dalam bangunan.

Pada saat yang sama, keset menerima air langsung dari telapak kaki. Air juga bisa berasal dari cipratan shower, wastafel, atau lantai yang belum dikeringkan.

Ketika keset dibiarkan menempel pada lantai sepanjang hari, bagian bawahnya berpotensi lebih lambat kering. Kondisi semakin mudah terjadi pada kamar mandi dengan pertukaran udara terbatas.

EPA menjelaskan bahwa jamur dapat tumbuh pada berbagai material selama tersedia kelembapan. Karpet termasuk material yang dapat menjadi tempat pertumbuhan tersebut ketika berada dalam kondisi basah.

CDC bahkan menyarankan tidak menggunakan karpet pada area seperti kamar mandi yang berpotensi memiliki kelembapan tinggi. Rekomendasi tersebut memberi pesan sederhana: material penyerap air membutuhkan perhatian ekstra ketika ditempatkan di ruang basah.

 

Angka 24–48 Jam Penting untuk Material Basah

Salah satu angka yang sering muncul dalam panduan pengendalian kelembapan adalah 24–48 jam. EPA menyarankan area dan benda yang basah dikeringkan dalam rentang tersebut untuk membantu mencegah pertumbuhan jamur.

Angka itu bukan berarti keset aman dibiarkan basah selama dua hari. Dalam rutinitas rumah, semakin cepat keset kembali kering setelah digunakan tentu semakin baik.

Cara termudah adalah tidak membiarkannya terus tergeletak dalam kondisi jenuh air. Setelah periode mandi pagi selesai, keset dapat diangkat dan dibentangkan di area dengan sirkulasi udara.

Jika beberapa orang menggunakan kamar mandi secara berurutan, memiliki keset cadangan juga dapat membantu. Keset yang sangat basah bisa dikeringkan sementara penggantinya digunakan.

Bagian bawah keset perlu ikut diperiksa. Permukaan atas terkadang terasa cukup kering, sedangkan sisi yang bersentuhan dengan lantai masih menyimpan kelembapan.

EPA menekankan bahwa bukan hanya permukaan karpet yang perlu kering. Lapisan belakang atau bantalan di bawahnya juga harus dikeringkan untuk mengurangi kemungkinan munculnya jamur.

 

Lingkungan Lembap Berkaitan dengan Kesehatan Pernapasan

Menjaga keset tetap kering bukan semata-mata urusan menghindari bau apek. Lingkungan rumah yang terus lembap memiliki kaitan lebih luas dengan kualitas udara dalam ruang.

WHO menyebut polusi mikroba sebagai salah satu unsur penting polusi udara dalam ruangan. Ratusan spesies bakteri dan fungi dapat berkembang ketika kelembapan yang mencukupi tersedia.

Tinjauan WHO juga menghubungkan kelembapan bangunan dan agen biologis dengan peningkatan prevalensi gejala pernapasan, alergi, serta asma. Karena itu, pencegahan kelembapan persisten menjadi pendekatan yang direkomendasikan.

Di Indonesia, kelembapan bahkan masuk sebagai salah satu parameter fisik kualitas udara dalam ruang pada standar kesehatan lingkungan Kementerian Kesehatan. Dalam sejumlah ruang fasilitas pelayanan kesehatan, standar kelembapan yang tercantum berada pada kisaran 40–60 persen.

Angka tersebut memang ditujukan untuk jenis fasilitas tertentu, bukan sebagai standar khusus kamar mandi rumah. Namun, keberadaannya menunjukkan bahwa kelembapan merupakan parameter lingkungan yang diperhitungkan dalam kesehatan ruang.

Keset lembap sendiri tentu tidak bisa langsung dianggap menyebabkan penyakit. Persoalannya terletak pada kelembapan yang menetap dan memungkinkan pertumbuhan mikroba pada berbagai permukaan rumah.

 

Mencuci Saja Belum Cukup Tanpa Pengeringan

Keset yang sering diinjak memang perlu dibersihkan. Namun, siklus perawatannya sebaiknya tidak berhenti setelah proses pencucian.

Keset harus dikeringkan secara menyeluruh sebelum kembali ditempatkan di kamar mandi. Menaruh keset yang masih lembap justru mengembalikan air ke area yang ingin dijaga tetap kering.

Frekuensi pencucian tidak harus disamakan untuk semua rumah. Jumlah penghuni, intensitas pemakaian kamar mandi, material keset, keberadaan hewan peliharaan, dan kecepatan pengeringan dapat membuat kebutuhannya berbeda.

Tanda fisik lebih berguna sebagai pengingat. Bau apek, noda yang sulit hilang, permukaan yang terus terasa lembap, atau bagian bawah yang berubah warna menjadi alasan untuk segera membersihkan dan mengeringkannya.

Untuk mengendalikan kelembapan ruangan, EPA merekomendasikan peningkatan ventilasi serta penggunaan exhaust fan pada kamar mandi. Target kelembapan dalam ruangan yang disarankan tetap di bawah 60 persen.

Pilihan material juga berpengaruh. Keset yang mudah dicuci dan cepat kering biasanya lebih praktis untuk ruang yang setiap hari bersentuhan dengan air.

 

Kebiasaan Kecil Membuat Kamar Mandi Lebih Terawat

Rutinitas paling efektif justru tidak rumit. Setelah penggunaan terakhir pada pagi hari, angkat keset yang basah dan bentangkan agar kedua sisinya terkena udara.

Keringkan pula genangan di lantai. Membuka jendela atau menggunakan exhaust fan membantu mengeluarkan kelembapan yang terbentuk selama mandi.

EPA menyebut pengendalian kelembapan sebagai kunci pengendalian jamur. Tidak ada cara praktis menghilangkan seluruh spora jamur dari lingkungan dalam ruang, sehingga mengendalikan sumber air menjadi langkah yang lebih masuk akal.

Keset kamar mandi akhirnya bukan benda yang harus ditakuti atau disingkirkan dari setiap rumah. Fungsinya tetap berguna untuk membantu kaki berpijak pada permukaan yang lebih nyaman setelah mandi.

Yang perlu diubah adalah kebiasaan membiarkannya terus basah. Keset kamar mandi yang dibersihkan dan dikeringkan dengan baik membantu menjaga ruang tetap nyaman tanpa menjadikan kelembapan sebagai penghuni tetap.