Sayur Premium Hidroponik Banyuwangi Masuk Pasar Elit

Ahmad Suudi

Jumat, 4 Januari 2019 - 17:10

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Sayur premium dari Kabupaten Banyuwangi telah menembus restoran, hotel-hotel dan rumah sakit. Bahkan, sayur yang dihasilkan Cahaya Hydrofarm di Desa Watukebo, Kecamatan Blimbingsari dikirim ke luar kota seperti Bali, Surabaya, dan Jakarta

Pemilik Cahaya Hydrofarm Ahmad Zulfi mengatakan, penjualan memang menjadi tantangan dalam menjalankan bisnis pertanian sayur premium hidroponik. Namun setelah memiliki jalur pemasaran luar kota, hasil panen Zulfi masih kurang untuk memenuhi pesanan yang masuk.

“Saat ini pemesanan yang sudah diterima harus rela inden atau menunggu panen berikutnya,” kata Zulfi Jumat 4 Januari 2019.

Ia mengaku, selada atau Lactuca Sativa yang dihasilkannya kurang laku di pasar lokal Banyuwangi. Pasalnya harganya cukup tinggi Rp 35 ribu per kilogram dibandingkan selada yang dihasilkan petani lainnya yang harganya sekitar Rp 20 ribu di pasar lokal.

BACA JUGA: Cara Mengurangi Residu Pestisida pada Sayur dan Buah

Petani lain, kata Zulfi, kabarnya mengutamakan bobot menggunakan obat daun sehingga masuk ke pasar lokal dengan harga lebih murah. Sedangkan dengan sistem pertanian hidroponik semi organik yang diterapkannya membuat daun sayur tidak terlalu lebar, namun memiliki rasa enak, tidak pahit dan memiliki tekstur yang renyah.

Dengan kualitas selada yang tidak mengandung pestisida kimia ternyata berhasil memikat konsumen yang ingin menerapkan gaya hidup sehat di kota-kota besar.

Khusus untuk menanam selada hidroponik, Zulfi membangun sebuah green house tertutup dengan atap bening seluas 15 X 20 meter. Kerangka bangunan dari besi, dan ruang ditutup untuk menghindari masuknya ulat atau serangga lain yang bisa merusak kualitas daun.

"Bedanya selada yang kami hasilkan lebih bersih tanpa debu karena ditanam di ruang tertutup, tidak terkena tanah karena ditanam di air dan tanpa gibro (pestisida) untuk perbesar daun," papar Zulfi lagi.

BACA JUGA: Mahasiswa Bantu Warga Kenjeran Tanam Sayur dengan Air Laut

Investasi yang dikeluarkannya sekitar Rp 40 juta, sudah termasuk biaya membuat 8 meja tempat selada ditanam dengan air jernih mengalir. Pembiayaan rutin yang dikeluarkan Rp 1.000 per bibit dan kurang dari Rp 150 ribu per bulan untuk bayar listrik penggerak pompa air.

Bibit yang baru ditanam membutuhkan waktu 40 hari hingga bisa dipanen. Namun Zulfi menerapkan tanam bergantian pada 8 meja di green house miliknya sehingga bisa panen 2 minggu sekali. Sedangkan setiap meja akan menghasilkan 30 kilogram selada premium setiap panen.

Tidak hanya keuntungan ekonomi, petani hidroponik seperti Zulfi tidak perlu seharian di ladang sehingga memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga dan bersosial. Selain itu penampilan mereka lebih bersih dan siap kapanpun menerima tamu yang ingin melihat ladang yang dikelola.

Baca Juga

loading...