Inggris Larang Penjualan Anak Anjing dan Kucing

Dyah Ayu Pitaloka

Rabu, 26 undefined 2018 - 14:33

JATIMNET.COM, Surabaya – Kementerian Kesejahteraan Hewan Inggris akan melarang penjualan anak kucing dan anjing. Sikap ini dilakukan untuk melindungi perlakuan buruk yang diterima anakan satwa lucu itu dari praktik jual beli yang mengabaikan kesejahteraan hewan.

Dikutip dari pengumuman Departemen Lingkungan Pangan dan Urusan Pedesaan (Defra), larangan itu muncul mengikuti terkumpulnya 95 persen dukungan dalam konsultasi publik terkait larangan penjualan anakan kucing dan anjing pada pihak ketiga.

“Larangan penjualan anak anjing dan kucing oleh pihak ketiga ini bagian dari komitmen kami, untuk memastikan hewan peliharaan ini mendapatkan hak yang tepat sejak awal kehidupannya,” kata Menteri Kesejahteraan Hewan David Rutley dikutip dalam laman Defra, 23 Desember 2018.

Larangan ini ditujukan pada penjual hewan pihak ketiga. Selain itu, juga untuk mendorong agar adopsi atau pembelian anakan di bawah usia enam bulan dilakukan langsung dari pemilik indukan hewan.

BACA JUGA: Anjing Hutan Di TN Alas Purwo Mengancam Populasi Banteng

Tujuannya untuk mencegah praktik jual beli anakan dari outlet yang tidak memperhatikan kesejahteraan hewan, baik yang berlisensi maupun tidak.

Praktik itu seperti pemisahan anakan dan indukan di usia dini, serta mencegah pengiriman jarak jauh yang sering terjadi pada anakan di usia dini.

Seluruh praktik tersebut meningkatkan risiko penyakit serta kurangnya kemampuan sosialisasi pada anakan anjing dan kucing.

Aturan ini melengkapi larangan penjualan anakan berusia di bawah delapan minggu yang telah dikeluarkan sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Rutley di laman yang sama.

BACA JUGA: Five Vi Elus-Elus Kucing Di Pasar Keputran

“Saya memberikan penghargaan terhadap kampanye hukum Lucy dan kampanye oleh beragam pihak terkait dengan sangat bersemangat terhadap larangan ini. Keputusan ini lahir dari tindakan sebelumnya, termasuk larangan penjualan anak anjing berusia di bawah delapan minggu dan menangkap praktik pembiakan anjing dengan kelainan genetika,” urainya.

Gerakan Lucy’s Law berawal dari kisah tragis Lucy, seekor anjing jenis Cavalier King Charles Spaniel. Dikutip dari BBC , Agustus 2018 yang menceritakan anjing betina itu ditemukan dalam kondisi pinggang yang menyatu, tulang belakang yang melengkung, botak dan epilepsi akibat perlakuan tak wajar di tempat pembiakannya.

Sebab anjing itu sebagian masa hidupnya dilewatkan di dalam kandang. Tahun 2013 seorang pencinta Anjing menyelamatkan Lucy dari sebuah peternakan anakan anjing. Lucy kemudian mendapat perlakuan dengan layak selama tiga tahun sebelum ia mati tahun 2016.

Baca Juga

loading...