Anjing Hutan di TN Alas Purwo Mengancam Populasi Banteng

Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Senin, 3 undefined 2018 - 17:25

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Ajak (Cuon alpinus) atau anjing hutan yang hidup di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi menjadi ancaman bagi kelangsungan populasi banteng di kawasan tersebut.

Ajak yang hidup berkelompok ini terekam memiliki pola makan bergantian . Mulai dari babi hutan, kijang, hingga banteng sehingga mempengaruhi jumlah populasinya.

Koordinator Pengelolaan Banteng Unit Sadengan Balai TN Alas Purwo Banda Nurhara mengatakan, pihaknya tidak bisa memburu ajak untuk mengurangi jumlah mereka meskipun mengancam populasi banteng yang dilindungi. Padahal sejak tahun 2014 jumlah populasi banteng terus menurun sampai tahun 2017.

“Tugas kami tidak hanya melindungi satu spesies saja, tapi melindungi alam, semua ekosistem agar lestari,” kata Banda, Senin 3 Desember 2018.

Dia memperkirakan ajak sedang kekurangan mangsa lain sehingga memburu banteng. Dari pengamatan yang mereka lakukan pada pola perburuan ajak, mereka mengutamakan memburu mangsa yang lebih mudah ditangkap dan baru memburu banteng jika mangsa lain sudah jarang ditemukan.

Awalnya kawanan ajak memangsa babi hutan, beralih ke rusa, dan beralih lagi ke banteng saat mangsa lain sulit ditemukan. Banteng yang diburu juga mereka pilih dari anakan dulu, kalau tidak ada anakan mereka mengejar banteng betina, bila tidak ada lagi baru memburu yang jantan.

Tahun 2009-2013 di TN Alas Purwo, ajak terekam rajin memangsa babi hutan di wilayah Plengkung. Tahun 2013-2015 mereka beralih memangsa rusa di savana Sadengan dan mulai memburu banteng sejak tahun 2015 hingga sekarang.


Pola pergantian spesies mangsa itu juga sesuai dengan menurunnya jumlah populasi banteng sejak tahun 2015, dari yang berjumlah 126 ekor pada tahun 2014, menjadi 120 ekor pada tahun 2015 hingga terakhir tercatat 92 ekor pada tahun 2017. Ancaman yang mengurangi jumlah populasi juga datang dari penyakit, di antaranya kematian disebabkan
masuk angin.

Banda mengatakan pihaknya berusaha mendukung pengembangan populasi banteng dengan memberikan aliran air dan penyiraman rumput sebagai pakan alami bagi kerbau di feeding area di savana Sadengan TN Alas Purwo. Belasan kolam air dari semen dibangun di 48 hektare feeding area yang dialiri air dari sumber di atas bukit, ditambah penyiraman
dengan water sprinkle.

Pemusnahan pohon invasif seperti Johar juga dilakukan untuk memastikan banteng tetap mendapatkan feeding area yang mencukupi kebutuhan mereka. Sampai saat ini 25 hektare dari kawasan savana masih terinvasi tanaman peneduh yang daunnya tidak disukai banteng.

“Ketika populasi babi hutan dan rusa sudah banyak, kawanan ajak akan beralih memangsa mereka dan meninggalkan banteng. Sehingga banteng bisa menambah jumlah mereka lagi,” katanya.

Banteng juga memiliki pola makannya sendiri dimana bulan-bulan pertama musim hujan mereka akan naik ke bukit dan mencari makan rebung bambu. Jagung petani desa penyangga juga jadi sasaran banteng, selain memakan rumput hijau feeding area.

“Ya seperti kita juga yang selalu ganti-ganti menu, kadang kita mau makan soto, kadang sate, besoknya memilih menu lainnya,” ujar Banda.

Di TN Alas Purwo banteng menjadi daya tarik wisatawan sebagai destinasi wisata alam. Banteng yang terlihat di savana dari bilangan belasan hingga ratusan. Di samping itu wisatawan bisa melihat rusa, merak, hingga burung jalak yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan banteng di lingkungan savana hijau.

Sebanyak 17 ribu pengunjung yang datang pada tahun 2017, memiliki berbagai pola perilaku, sebagian telah berwisata atau melakukan kegiatan peribadatan di lokasi lain yang datang untuk beristirahat. Sebagian yang lain datang berkelompok dari instansi tertentu atau rombongan siswa sekolah. Tahun ini juga tercatat 10 foto pre wedding dilakukan dengan latar belakang feeding area.

Baca Juga

loading...