JATIMNET.COM, Surabaya - Celana Dalam. Hampir semua manusia modern di planet bumi ini memakainya. Tapi, sedikit sekali orang membicarakan. Misalnya bagaimana sejarah asal usulnya, transformasi model, teknologi, dan cara kerjanya; untuk melindungi organ vital, tips nyaman dan sehat (menghindari perut kembung) dan lainnya.

Dikutip dari www.theconversation.com, jenis celana dalam pertama itu cawat (subligaculum) yang dikenakan oleh orang Mesir kuno. Istilah lainnya juga dikenal sebagai schenti kain pendek untuk cawat. Terbuat dari bahan tenunan, umumnya kapas dan rami, dilengkapi dengan ikat pinggang. Cawat pada masa Firaun ini digunakan masyarakat kelas menengah ke atas.

Sementara itu untuk kelas bawah dan budak hampir telanjang. Jadi secara teknis, di mesir cawat ini menjadi pakaian dalam sekaligus pakaian luar. Dalam literatus sejarah manusia Mesir dari Tahun 1189-1077 SM yang ditemukan di Valley of The King--sebuah komplek tera kota berisi mumi raja-raja dan harta karun--menunjukkan para firaun mengenakan pakaian luar semata berupa cawat sekaligus celana dalam itu.

Lalu di Eropa, selama Abad Pertengahan (500-1500 M), pakaian dalam terdiri dari kemeja yang terbuat dari linen halus atau katun untuk pria dan wanita. Suatu bentuk celana dalam kembali diidentifikasi pada abad ke-15 dan ke-16 dalam bentuk celana dalam pria berukuran pendek sebatas atas dengkul.

Celana itu ditambahi codpiece empuk (tepat di depan kelamin) untuk memberikan perlindungan ekstra bagi pria. Codpiece juga berfungsi sebagai simbol energi seksual, dirancang untuk mewadahi dan menyembunyikan penis pria.

Pada awal hingga pertengahan abad ke-19, baik pria maupun wanita mengenakan celana dalam bercabang--sejenis celana pendek dengan tinggi atas dengkul. Gaya sederhana dari celana dalam ini lebih tipis dan membuatnya lebih mudah diatur, terutama jika memakai pakaian luar rok atau celana panjang.

Celana dalam selangkangan untuk wanita (pantalette) baru muncul pada pertengahan hingga akhir abad ke-19. Pada tahun 1882, seorang reformator pakaian, Gustave Jaeger, berpendapat bahwa memakai serat wol alami untuk kulit akan membantu melepaskan racun tubuh sebab memberi ruang kulit untuk bernafas. Dia juga merasa kualitas bahan elastis dari pakaian rajutan lebih memungkinkan untuk digunakan dalam olahraga.

Abad ke-19 menjadi titik reformasi celana dalam pria. Waktu itu, celana panjang pria yang semakin populer memengaruhi perubahan model celana dalam pria. Dalaman pria ini dibuat memanjang sampai pergelangan kaki. Bahannya terbuat dari sutra untuk orang kaya dan kain flanel, kemudian kain wol untuk masyarakat biasa.

Pada 1960-an celana dalam menjadi lebih pendek--sebatas menutupi selangkangan--untuk pria dan wanita. Celana dalam bergambar dengan motif bermacam-macam sangat populer kala itu. Kemudian pada 1970-an, desain celana dalam masih sama, namun tampilannya tidak hanya bergambar, kadang juga polosan tanpa desain sablonan.

Singkat cerita, sejak 1970-an celana dalam tidak banyak mengalami perubahan untuk modelnya. Para desainer cenderung hanya bermain-main pada bahan dan modifikasi desain saja. Mereka juga berinovasi pada fungsi. Misalnya celana dalam untuk olahraga jelas berbeda dengan desain celana dalam untuk hari-hari biasa. Untuk modelnya juga berkutat pada tiga model, celana dalam panjang, pendek setinggi dengkul sampai celana menutupi selangkangan saja.