
Reporter
Bayu PratamaRabu, 16 Oktober 2019 - 22:54
Editor
Rochman Arief
Ilustrasi: GIlas Audi.
JATIMNET.COM, Surabaya – Anggota Jaringan Indonesia Positif Focal Point Surabaya, Setia Budiyanto mengajak sejumlah komunitas akan terus melawan stigma buruk terhadap orang dengan HIV / AIDS (ODHA), dengan cara lebih membuka diri.
“Secara pribadi saya akan terbuka, menyampaikan yang terjadi, walaupun dulu kehidupanku juga jelek. Dengan begitu barangkali penerimaan akan lebih baik,” ungkap Setia ditemui di sela Diskusi Terfokus Komunitas Pendamping dan Penyandang HIV/AIDS di Sekretariat Gusdurian, Surabaya, Rabu 16 Oktober 2019.
Sebagai salah satu penderita HIV/AIDS, Setia menceritakan saat ini yang bias dilakukan adalah mengonsumsi obat setelah mengetahui positif sebagai penderita.
BACA JUGA: Delapan Pekerja Seks yang Positif HIV Akan Dipulangkan
Obat berbentuk kapsul itu dikonsumsi dalam rentang waktu 12 jam atau 24 jam per hari. Obat itu diterima dari pemerintah melalui dinas kesehatan secara gratis.
Menurutnya, dia harus terus mengonsumsi obat. Jika terlambat mengonsumsi dampaknya bias drop. Selain itu, virus akan menempel dan berkembang di sel darah putih yang diserang karena tidak dibentengi.
“Saya sampaikan seperti ini, karena banyak yang tidak tahu. Konseling dan pelayanan harusnya diberikan untuk bekal teman-teman lainnya,” Setia menambahkan.
BACA JUGA: Dipecat Karena Penyuka "Burung"
Setia mengakui berat untuk memberikan pendampingan atau membantu sesama penderita, karena tidak banyak penderita yang mau terbuka sepertinya. Bahkan memurutnya, awalnya dia enggan untuk lebih terbuka.
“Saya teringat sebuah kampanye, jauhi penyakitnya dan sayangi orangnya. Inilah yang menjadi pemikiran saya,” tegasnya
Hingga kini, Jaringan Indonesia Positif Focal Point bersama komunitas lain mencoba membangun jejaring pendamping penderita HIV/AIDS. Salah satunya melalui Koalisi Surabaya Wani Waras (KOSWARA) untuk melakukan sejumlah kegiatan.
Salah satunya pelatihan paralegal dan pendampingan, pertemuan rutin, dan advokasi permasalahan penderita ODHA di Surabaya dan Jatim.