Logo

Menjaga Persaudaraan sebagai Wujud Syukur Kemerdekaan

Persaudaraan tumbuh dari kebiasaan memperlakukan orang lain dengan layak, termasuk mereka yang hidup dan berpikir berbeda.
Reporter:,Editor:

Senin, 17 August 2026 11:00 UTC

Menjaga Persaudaraan sebagai Wujud Syukur Kemerdekaan

Ilustrasi: Merdeka dalam persaudaraan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Persaudaraan dalam kemerdekaan punya bentuk yang sangat kasatmata di Surabaya setiap 17 Agustus. Orang yang biasanya hanya berpapasan di gang bisa mendadak satu tim mengangkat meja, memasang tenda, menyiapkan konsumsi, atau mengatur lomba anak-anak.

Tidak semua saling mengenal dekat. Pilihan hidup dan kemampuan ekonominya pun beragam. Namun selama beberapa jam, perbedaan itu seperti kehilangan sebagian jaraknya.

Gambaran tersebut cocok dengan satu fakta penting tentang Indonesia. Negeri ini dibangun oleh masyarakat yang sangat beragam. Menjaga persaudaraan akhirnya bukan urusan slogan kebangsaan saja.

Dalam kehidupan Muslim, ia bersentuhan langsung dengan cara memperlakukan tetangga, pekerja, orang miskin, hingga mereka yang berbeda keyakinan.

Ada kabar cukup baik dari survei nasional terbaru. Indeks Kesalehan Umat Beragama 2025 yang dirilis Kementerian Agama mencapai 84,61 dan masuk kategori sangat tinggi.

Pengukurannya tidak berhenti pada ritual personal, tetapi juga melihat dimensi sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Justru bagian sosial itulah yang menarik dibicarakan pada Hari Kemerdekaan.

 

Satu Gang Bisa Berisi Kehidupan yang Sangat Berbeda

Kampung perkotaan mempunyai karakter unik. Jarak rumah bisa hanya beberapa meter, sementara keadaan ekonomi penghuninya terpaut jauh.

Surabaya tidak terkecuali. Ada warga yang berangkat bekerja dari rumah menggunakan mobil. Tetangganya mungkin mengendarai motor untuk mencari penumpang atau mengantar pesanan. Ada pemilik usaha, pegawai kantoran, pedagang, pekerja harian, pensiunan, sampai keluarga yang sedang kehilangan sumber pendapatan.

Data ketimpangan membantu melihat perbedaan tersebut dalam skala lebih besar. BPS mencatat Gini Ratio Jawa Timur pada September 2025 sebesar 0,359, turun dari 0,369 pada Maret 2025.

Untuk wilayah perkotaan Jawa Timur, angkanya mencapai 0,376.  Gini Ratio bergerak antara nol hingga satu. Semakin mendekati nol, distribusi pengeluaran semakin merata. Jadi, penurunan Jawa Timur merupakan perkembangan yang positif.

Ukuran lain memberikan gambaran tambahan. Kelompok 40 persen penduduk dengan pengeluaran terendah di Jawa Timur menerima 19,60 persen dari total pengeluaran pada September 2025. Di perkotaan, porsinya sebesar 18,92 persen. Berdasarkan kriteria Bank

Dunia yang digunakan BPS, angka tersebut berada dalam kategori ketimpangan rendah. Tetapi statistik distribusi tidak selalu sama dengan pengalaman sehari-hari.

Dua keluarga yang rumahnya bersebelahan tetap bisa mempunyai kemampuan berbeda ketika harus membayar sekolah, memperbaiki motor, membawa anak berobat, atau menghadapi penghasilan yang mendadak berkurang.

Persaudaraan menjadi relevan justru karena kehidupan tidak dibagikan dalam porsi yang sama.

 

Surabaya Digerakkan Jutaan Aktivitas Kerja

Coba melihat Surabaya pada hari biasa setelah perayaan Agustus selesai. Pagi dimulai oleh orang yang membuka warung, membersihkan jalan, mengantar barang, menjaga toko, menyiapkan makanan, menjalankan angkutan, hingga masuk ke gedung perkantoran. Sore hari, kelompok lain mengambil giliran kerja.

BPS Kota Surabaya mencatat angkatan kerja kota ini pada Agustus 2025 mencapai sekitar 1,64 juta orang, bertambah 16,6 ribu dibanding setahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja berada pada 70,59 persen. 

Struktur pekerjaannya sangat mencerminkan watak kota. Sekitar 80,01 persen penduduk bekerja di Surabaya berada pada sektor jasa, sedangkan 19,79 persen bekerja pada sektor manufaktur. Sekitar 948 ribu orang atau 60,73 persenpekerja berada dalam kegiatan formal. 

Angka itu membuat istilah “warga kota” menjadi sangat luas. Orang yang menyiapkan kopi pagi, mengemudikan kendaraan, menjaga pusat belanja, bekerja di rumah sakit, mengirim paket, memperbaiki pendingin ruangan, sampai membersihkan ruang publik merupakan bagian dari mesin kehidupan yang sama.

Dalam konteks Islam, hubungan semacam itu tidak selesai pada transaksi. Seseorang tetap mempunyai martabat ketika pekerjaannya berbeda. Nilai manusia tidak naik karena jabatan dan tidak otomatis turun karena jenis pekerjaan yang dilakukan.

Prinsip tersebut terasa sederhana sampai kita mengujinya pada kebiasaan sehari-hari: cara berbicara kepada pelayan restoran, memperlakukan kurir yang terlambat, bernegosiasi dengan pedagang, atau merespons petugas yang sedang menjalankan pekerjaannya.

 

Persaudaraan Tak Mensyaratkan Semua Orang Seragam

Ada kecenderungan menganggap kerukunan berarti orang harus selalu sepakat. Kehidupan nyata jelas tidak bekerja seperti itu.
Bahkan satu keluarga bisa berbeda pendapat mengenai hal kecil. Lingkungan yang berisi ratusan keluarga tentu jauh lebih rumit.

Islam mempunyai landasan yang cukup jelas mengenai keberagaman manusia. Surah Al-Hujurat ayat 13 berbicara tentang manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

Kata “mengenal” terasa penting di sini. Masyarakat dapat tinggal berdekatan bertahun-tahun tanpa benar-benar mengenal satu sama lain. Hubungan kemudian mudah dibentuk oleh prasangka, potongan informasi, atau percakapan di media sosial. Ruang nyata terkadang bekerja sebaliknya.

Ketika warga bersama-sama mengecat gapura menjelang Agustusan, identitas yang semula terasa besar bisa menjadi lebih cair. Yang sedang dibutuhkan saat itu mungkin cuma orang yang bisa memegang tangga, membawa kuas, atau menyediakan kopi.

Tidak perlu dibuat lebih filosofis dari itu. Kerja bersama memang membuat orang lebih sering berbicara.
Dan percakapan langsung memberi sesuatu yang sulit diperoleh dari layar: kesempatan melihat manusia secara utuh.

 

Kesenjangan yang Mengecil Tetap Perlu Dijaga

Secara nasional, distribusi pengeluaran Indonesia sedang membaik. Gini Ratio Indonesia turun dari 0,381 pada September 2024 menjadi 0,363 pada September 2025. Penurunannya mencapai 0,018 poin dalam satu tahun. Untuk kawasan perkotaan, Gini Ratio turun dari 0,402 menjadi 0,383. 

Perkembangan tersebut berjalan bersamaan dengan dunia kerja yang terus bergerak. Pada Agustus 2025, Indonesia memiliki 154 juta angkatan kerja, dengan 146,54 juta orang bekerja. Jumlah penduduk bekerja bertambah sekitar 1,90 juta dibanding Agustus 2024. 

Tetap ada sisi yang perlu diperhatikan. Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada 4,85 persen, sementara rata-rata upah buruh nasional sekitar Rp3,33 juta per bulan. 

Itu sebabnya persaudaraan sosial tidak perlu diterjemahkan sebagai bantuan terus-menerus. Bentuknya bisa berupa membuka kesempatan kerja, membayar pekerjaan secara pantas, tidak meremehkan profesi tertentu, membeli dari usaha tetangga, atau sekadar tidak menambah kesulitan orang lain.

Bagi sebagian orang, memberi bantuan Rp100 ribu mungkin ringan. Bagi yang lain, memperlakukan pekerja dengan hormat adalah tindakan yang lebih mungkin dilakukan hari ini. Keduanya mempunyai tempat.

 

Agustusan Selesai, Tetangganya Tetap Sama

Sore 17 Agustus di Surabaya biasanya meninggalkan pemandangan yang khas. Ada kursi plastik bertumpuk, gelas air mineral di meja panitia, anak-anak masih memainkan hadiah lomba, dan orang dewasa mulai membongkar dekorasi. Besok, kehidupan kembali biasa.

Tetangga yang tadi menjadi rekan satu tim kembali berangkat bekerja. Pedagang membuka lapaknya. Pengemudi kembali ke jalan. Gang yang dipakai lomba kembali dipenuhi kendaraan.

Mungkin justru setelah itu persaudaraan dalam kemerdekaan mendapat ujian yang lebih realistis. Tidak perlu menunggu perayaan berikutnya untuk menyapa orang yang berbeda pilihan.

Tidak harus menunggu kerja bakti untuk mengenal tetangga baru. Dan seseorang tidak harus menjadi sahabat dekat agar layak diperlakukan dengan hormat.

Data Jawa Timur memberi sedikit alasan untuk optimistis: Gini Ratio turun menjadi 0,359, sementara porsi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah mencapai 19,60 persen pada September 2025. 

Kemajuan statistik itu tetap membutuhkan kehidupan sosial yang sehat untuk menemani. Setelah bendera dan umbul-umbul Agustus nanti diturunkan dari gang-gang Surabaya, orang-orang yang tinggal di balik pintu rumah tersebut masih akan bertemu hampir setiap hari.

Menjaga hubungan dengan mereka barangkali menjadi praktik persaudaraan yang paling sederhana sekaligus paling sering tersedia.