Logo

Bermain di Halaman Rumah Menjadi Kenangan Banyak Orang

Halaman rumah pernah menjadi ruang pertama tempat persahabatan, imajinasi, dan keberanian tumbuh bersama.
Reporter:,Editor:

Kamis, 16 July 2026 08:00 UTC

Bermain di Halaman Rumah Menjadi Kenangan Banyak Orang

Ilustrasi: Ceria Bermain Sore. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Bermain di halaman rumah pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil banyak orang Indonesia. Menjelang sore, anak-anak berkumpul tanpa perlu membuat janji melalui aplikasi.

 

Mereka cukup keluar rumah, lalu permainan dimulai begitu teman-teman berdatangan. Suasana seperti itu kini semakin jarang dijumpai, terutama di kawasan perkotaan yang berkembang pesat.

 

Perubahan gaya hidup anak-anak terlihat dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Pada 2024, sekitar 39,71 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan.

 

Urbanisasi yang terus meningkat membuat ruang bermain di lingkungan permukiman semakin terbatas, sementara aktivitas anak lebih banyak berlangsung di dalam rumah atau ruang tertutup.

 

Di sisi lain, laporan UNICEF mengenai aktivitas fisik anak menunjukkan semakin banyak anak di berbagai negara menghabiskan waktu dengan perangkat digital dibanding bermain aktif di luar ruangan.

 

Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi perkembangan teknologi, tetapi juga perubahan pola hidup keluarga dan lingkungan.

 

 

Halaman Rumah Dulu Menjadi Tempat Belajar Bersosialisasi

 

 

Bermain di luar rumah tidak sekadar mengisi waktu luang. Anak-anak belajar bergiliran, menyelesaikan konflik kecil, membuat aturan permainan, hingga bekerja sama tanpa disadari.

 

Permainan seperti petak umpet, gobak sodor, bentengan, lompat tali, hingga bola bekel mengajarkan banyak keterampilan sosial. Semua berlangsung secara alami tanpa arahan khusus dari orang dewasa.

 

Organisasi World Health Organization (WHO) juga menekankan bahwa aktivitas bermain aktif memiliki peran penting terhadap perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.

 

WHO merekomendasikan anak usia 5 hingga 17 tahun melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi rata-rata minimal 60 menit setiap hari.

 

Bermain di halaman rumah menjadi salah satu cara sederhana memenuhi kebutuhan tersebut sebelum kehadiran gawai mengubah pola hiburan anak.

 

 

Lingkungan Perkotaan Membentuk Cara Bermain yang Baru

 

 

Pertumbuhan kota membawa banyak manfaat, mulai dari fasilitas pendidikan hingga akses transportasi. Namun, perubahan itu juga memengaruhi ruang bermain anak.

 

Di kota besar seperti Surabaya, banyak kawasan permukiman kini memiliki lalu lintas kendaraan yang lebih padat dibanding dua dekade lalu.  Orang tua pun cenderung memilih aktivitas yang dianggap lebih aman di dalam rumah atau area yang diawasi.

 

Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya terus mengembangkan ruang terbuka hijau dan taman kota. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap kota menargetkan penyediaan 30 persen ruang terbuka hijau dari luas wilayah, terdiri atas ruang publik dan privat.

 

Kehadiran taman kota menjadi salah satu alternatif agar anak tetap memiliki ruang untuk bergerak dan bermain. Meski demikian, suasana bermain spontan di depan rumah tetap memiliki karakter yang berbeda karena melibatkan interaksi sehari-hari dengan tetangga dan teman sebaya.

 

 

Nostalgia Permainan Tradisional Masih Memiliki Nilai

 

 

Permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Banyak di antaranya mengandung unsur strategi, kerja sama, hingga kemampuan mengambil keputusan.

 

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga terus mendorong pelestarian permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai pendidikan.

 

Beberapa sekolah bahkan mulai menghadirkan kembali permainan tradisional saat kegiatan luar kelas atau peringatan hari tertentu. Langkah ini memberi kesempatan kepada anak mengenal permainan yang pernah akrab bagi generasi sebelumnya.

 

Di sejumlah kampung di Surabaya, suasana bermain bersama masih bisa ditemui ketika akhir pekan atau saat peringatan Hari Kemerdekaan. Anak-anak berkumpul mengikuti lomba tradisional, sementara orang tua ikut mengenang masa kecil mereka.

 

 

Ruang Bermain Tetap Penting di Era Digital

 

 

Teknologi telah membuka banyak kesempatan belajar dan berkreasi bagi anak. Permainan digital juga mampu melatih kemampuan tertentu apabila digunakan secara seimbang.

 

Namun, pengalaman berlari, tertawa bersama teman, dan menciptakan permainan secara langsung tetap memiliki manfaat yang tidak mudah digantikan oleh layar.

 

Halaman rumah mungkin kini tidak lagi seluas dulu, bahkan sebagian sudah berubah menjadi area parkir atau bangunan tambahan. Meski begitu, semangat bermain bersama masih dapat dihadirkan melalui taman lingkungan, lapangan kecil, atau ruang terbuka yang aman.

 

Kenangan bermain di halaman rumah mengingatkan bahwa masa kecil tidak selalu membutuhkan fasilitas yang rumit. Kebersamaan, ruang bergerak, dan tawa bersama teman sering kali menjadi pengalaman sederhana yang terus melekat hingga seseorang tumbuh dewasa.