Senin, 17 August 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Doa untuk negeri. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Doa untuk negeri terdengar lebih sering setiap 17 Agustus. Ada yang dibacakan selepas upacara, dalam majelis keagamaan, di masjid, hingga acara sederhana yang digelar warga di lingkungan tempat tinggal.
Di Surabaya, pagi Hari Kemerdekaan punya ritmenya sendiri. Gang-gang sudah ramai, bendera bergerak terkena angin, pengeras suara mulai terdengar, sementara sebagian warga baru pulang dari masjid sebelum mengikuti kegiatan lingkungan.
Pada HUT ke-81 Republik Indonesia, doa seperti ini sebenarnya memiliki konteks yang sangat luas. Indonesia telah mencatat banyak kemajuan, tetapi masih menghadapi persoalan kesejahteraan, ketimpangan, pekerjaan, hingga kehidupan jutaan keluarga yang berada dekat garis kemiskinan.
Mendoakan negeri akhirnya menjadi sesuatu yang jauh lebih manusiawi ketika kita mengetahui apa yang sedang dihadapi orang-orang di dalamnya.
Mendoakan Negeri Punya Jejak dalam Ajaran Islam
Doa mengenai keamanan suatu tempat bukan gagasan yang asing dalam Islam. Al-Qur'an merekam doa Nabi Ibrahim dalam Surah Al-Baqarah ayat 126 agar sebuah negeri menjadi tempat yang aman dan penduduknya memperoleh rezeki.
Dua hal tersebut—rasa aman dan kecukupan—masih sangat relevan dengan kehidupan modern.
Orang membutuhkan lingkungan yang aman untuk membesarkan anak. Pedagang memerlukan ketenangan untuk membuka usaha. Pekerja membutuhkan kepastian untuk mencari nafkah. Keluarga juga membutuhkan daya beli yang cukup untuk makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan.
Maka doa untuk negeri tidak harus dibayangkan sebagai permintaan yang abstrak. Isinya bisa sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat: keamanan, pemimpin yang adil, pekerjaan yang layak, rezeki, kesehatan, pendidikan, serta hubungan sosial yang damai.
Di kota padat seperti Surabaya, kebutuhan tersebut terasa dalam rutinitas. Kota bergerak sejak dini hari melalui pasar, jalan raya, kawasan perdagangan, pelabuhan, rumah sakit, sekolah, hingga permukiman yang saling berhimpitan.
Ada 23,36 Juta Penduduk yang Masih Hidup dalam Kemiskinan
Kemerdekaan Indonesia memasuki tahun ke-81 dengan catatan sosial yang bergerak ke arah lebih baik. Namun, skala persoalannya tetap tidak kecil.
Badan Pusat Statistik mencatat tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2025 berada di 8,25 persen, turun dari 8,57 persen pada September 2024. Jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 700 ribu orang dalam periode tersebut.
Meski menurun, Indonesia masih memiliki sekitar 23,36 juta penduduk miskin pada September 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 11,18 juta orang tinggal di perkotaan dan 12,18 juta orang berada di perdesaan. Jawa Timur menghadapi pekerjaan rumah serupa.
BPS Provinsi Jawa Timur mencatat penduduk miskin pada September 2025 mencapai sekitar 3,804 juta orang, setara 9,30 persen penduduk. Jumlah tersebut berkurang sekitar 71,59 ribu orang dibanding Maret 2025.
Persentase memang memudahkan kita membaca perkembangan. Namun, kehidupan rumah tangga berlangsung dalam rupiah.
Garis kemiskinan Jawa Timur pada September 2025 sebesar Rp585.020 per kapita per bulan. Rata-rata rumah tangga miskin memiliki 4,34 anggota, sehingga garis kemiskinan rata-rata per rumah tangga mencapai sekitar Rp2,539 juta per bulan.
Di titik ini, doa agar masyarakat memperoleh rezeki yang cukup menjadi sangat konkret. Ada keluarga yang harus mengatur uang tersebut untuk makanan, listrik, transportasi, sekolah anak, kebutuhan rumah, dan pengeluaran lain yang datang tanpa jadwal.
Rezeki Menjadi Persoalan Besar dalam Kehidupan Keluarga
Satu bagian dari data kemiskinan Jawa Timur cukup menarik diperhatikan. Dari garis kemiskinan Rp585.020 per kapita per bulan tadi, sekitar Rp447.332 atau 76,46 persen berasal dari kebutuhan makanan. Sisanya, Rp137.688, merupakan komponen bukan makanan.
Porsi tersebut menggambarkan betapa dominannya kebutuhan paling dasar dalam anggaran kelompok berpenghasilan rendah.
Kenaikan harga beras, telur, minyak goreng, atau kebutuhan dapur mungkin terlihat kecil dalam satu transaksi. Bagi rumah tangga dengan ruang finansial sempit, akumulasi kenaikan beberapa komoditas bisa memaksa mereka mengubah menu, mengurangi pengeluaran lain, atau menunda kebutuhan.
Pengalaman seperti itu mudah ditemukan di kota besar. Surabaya memiliki mal, restoran, kawasan bisnis, dan pusat perdagangan yang terus bergerak. Beberapa kilometer dari keramaian tersebut, ada pula keluarga yang menghitung belanja harian dengan sangat hati-hati.
Kontras tersebut tidak berarti kemajuan kota perlu dicurigai. Pertumbuhan ekonomi tetap diperlukan untuk menciptakan kesempatan. Yang perlu dijaga adalah agar semakin banyak warga dapat masuk dan menikmati kesempatan tersebut.
Ketimpangan Membaik, Jarak Kehidupan Masih Terasa
Ada kabar positif lainnya. Ketimpangan pengeluaran nasional mengalami penurunan cukup nyata. BPS mencatat Gini Ratio Indonesia pada September 2025 berada di 0,363. Setahun sebelumnya, September 2024, nilainya masih 0,381. Untuk wilayah perkotaan, angkanya turun dari 0,402 menjadi 0,383 pada periode yang sama.
Dalam ukuran distribusi pengeluaran Bank Dunia yang digunakan BPS, kelompok 40 persen penduduk terbawah memperoleh 19,28 persen dari keseluruhan pengeluaran masyarakat pada September 2025. Khusus perkotaan, porsinya sebesar 18,32 persen.
Data tersebut penting karena kehidupan masyarakat tidak berlangsung pada titik keberangkatan yang sama.
Ada keluarga yang mempunyai cadangan ketika kendaraan rusak atau anggota keluarga sakit. Ada pula yang harus memilih kebutuhan mana yang bisa ditunda. Sebagian anak memiliki banyak pilihan pendidikan, sementara keluarga lain harus menghitung ongkos menuju sekolah.
Di tengah realitas seperti itu, ajaran tentang zakat, infak, dan sedekah mendapatkan konteks sosialnya. Bantuan langsung memang tidak menggantikan kebijakan ekonomi, penciptaan pekerjaan, pendidikan, ataupun perlindungan sosial. Namun, ia membuat kepedulian tidak berhenti sebagai gagasan.
Doa dan tindakan juga tidak perlu dipertentangkan. Seseorang dapat mendoakan kesejahteraan masyarakat sekaligus membantu tetangganya. Keduanya berjalan pada ruang yang berbeda.
Setelah Amin, Ada Kehidupan yang Harus Dijalani
Pada 17 Agustus, banyak doa ditutup dengan harapan agar Indonesia tetap aman, sejahtera, bersatu, dan dijauhkan dari berbagai kesulitan.
Setelah kata “amin” selesai diucapkan, warga Surabaya akan kembali ke rutinitas masing-masing. Ada pedagang yang membuka warung. Pengemudi kembali ke jalan.
Tenaga kesehatan menjalani giliran kerja. Orang tua menyiapkan kebutuhan sekolah anak. Sebagian warga mungkin melanjutkan lomba di kampung sampai sore.
Barangkali hubungan antara doa dan kemerdekaan memang sesederhana itu. Doa memberi arah pada sesuatu yang kita harapkan, sedangkan kehidupan sehari-hari menyediakan tempat untuk mengusahakannya.
Data terbaru BPS bahkan memperlihatkan bahwa kemiskinan Indonesia terus turun, dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025. Jawa Timur juga bergerak dari 9,50 persen pada Maret 2025 menjadi 9,30 persen pada September 2025.
Perbaikannya nyata, tetapi 23,36 juta penduduk miskin membuat pekerjaan belum pantas dianggap selesai. Itulah salah satu alasan doa untuk negeri di Hari Kemerdekaan masih relevan pada usia Indonesia yang ke-81. Ada banyak hal yang bisa disyukuri, sekaligus cukup banyak nama, keluarga, dan kehidupan nyata yang layak dimasukkan dalam harapan kita.
