Logo

Sedekah sebagai Cara Sederhana Mengisi Kemerdekaan

Kemerdekaan terasa lebih dekat ketika ada ruang bagi orang lain untuk ikut menjalani hidup dengan layak.
Reporter:,Editor:

Senin, 17 August 2026 08:30 UTC

Sedekah sebagai Cara Sederhana Mengisi Kemerdekaan

Ilustrasi: Berbagi di Hari Merdeka. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Sedekah di Hari Kemerdekaan mungkin kalah meriah dibanding lomba, panggung hiburan, atau deretan bendera di jalan. Ia tidak membutuhkan acara besar. Kadang bentuknya hanya sebungkus makanan yang berpindah tangan.

Di Surabaya, kemungkinan semacam itu mudah ditemukan. Seusai lomba 17 Agustus, konsumsi masih tersisa di meja panitia. Pedagang tetap berjualan di ujung gang. Petugas kebersihan mulai membereskan jalan, sementara pengemudi dan pekerja informal terus bekerja saat sebagian warga menikmati hari libur.

Ada jarak yang cukup pendek antara perayaan dan kesempatan untuk berbagi.

Pada usia 81 tahun Republik Indonesia, sedekah juga menarik dilihat dari sisi yang lebih luas. Indonesia telah berhasil menurunkan

kemiskinan, tetapi puluhan juta penduduk masih hidup dengan kemampuan ekonomi terbatas. Di tengah situasi itu, instrumen sosial Islam seperti sedekah dan zakat mempunyai tempat yang sangat praktis.

 

Sepiring Makanan Bisa Punya Nilai yang Berbeda

Sedekah dalam Islam memiliki ruang yang luas. Uang adalah salah satu bentuknya, tetapi bantuan makanan, tenaga, waktu, keterampilan, hingga pertolongan kecil kepada orang lain juga dekat dengan semangat berbagi.

Persoalan makanan layak mendapat perhatian khusus. Badan Pusat Statistik mencatat garis kemiskinan Jawa Timur pada September 2025 sebesar Rp585.020 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, komponen makanan mencapai Rp447.332 atau 76,46 persen, sementara kebutuhan bukan makanan sebesar Rp137.688.

Komposisinya memberi gambaran tentang keseharian rumah tangga berpenghasilan rendah. Sebagian besar batas pengeluaran minimum mereka masih terserap untuk kebutuhan makan.

BPS juga menghitung rata-rata rumah tangga miskin di Jawa Timur terdiri atas 4,34 anggota. Jika diterjemahkan ke tingkat rumah tangga, garis kemiskinannya berada di kisaran Rp2.538.987 per bulan pada September 2025. 

Maka, satu paket sembako atau beberapa porsi makanan memang tidak otomatis mengubah keadaan ekonomi sebuah keluarga. Namun manfaat praktisnya mudah dipahami. Pengeluaran makan yang berkurang hari itu dapat memberi sedikit ruang bagi kebutuhan lainnya. Ini pula yang membuat berbagi makanan saat Agustusan terasa relevan tanpa harus dibuat terlalu simbolis.

 

Jawa Timur Masih Punya 3,8 Juta Penduduk Miskin

Surabaya menawarkan gambaran kemajuan yang mudah terlihat mata. Jalan raya padat kendaraan, pusat perdagangan hidup sampai malam, kawasan kuliner berkembang, dan berbagai sudut kota terus berubah.

Gambaran Jawa Timur secara keseluruhan tentu lebih beragam. Pada September 2025, BPS mencatat 3,804 juta penduduk Jawa Timur masih berada di bawah garis kemiskinan.

Persentasenya mencapai 9,30 persen, turun 0,20 poin persentase dibanding Maret 2025. Jumlah penduduk miskin juga berkurang sekitar 71,59 ribu orang dalam enam bulan tersebut. 

Perbaikan itu patut dicatat. Tetapi 3,8 juta orang tetap merupakan populasi yang besar. Perbedaan perkotaan dan perdesaan juga cukup lebar. Tingkat kemiskinan perkotaan Jawa Timur pada September 2025 sebesar 6,93 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 12,55 persen. 

Kesenjangan tersebut membantu menjelaskan mengapa pengalaman ekonomi setiap keluarga bisa sangat berbeda, bahkan ketika sama-sama tinggal di satu provinsi.

Di Surabaya, situasinya bisa muncul dalam bentuk yang lebih mikro. Dalam satu kawasan terdapat keluarga mapan, pekerja bergaji bulanan, pedagang kecil, pengemudi, pekerja harian, hingga lansia yang menggantungkan kebutuhan pada keluarga.

Sedekah bekerja di ruang antarmanusia semacam ini. Tidak seluruh kebutuhan harus dicari jauh-jauh.

 

Zakat Memberi Gambaran Besarnya Potensi Berbagi

Ada baiknya membedakan sedekah dengan zakat. Sedekah bersifat lebih luas dan sukarela, sedangkan zakat memiliki ketentuan mengenai syarat, nisab, kadar, dan penerimanya.

Meski berbeda, data zakat dapat memberi gambaran tentang besarnya kapasitas filantropi Islam di Indonesia.

BAZNAS berdasarkan kajian Puskas BAZNAS menyebut potensi zakat nasional mencapai sekitar Rp327 triliun. Nilai itu merupakan estimasi potensi, sehingga tidak boleh dibaca sebagai jumlah zakat yang benar-benar telah terkumpul.  Yang lebih konkret terlihat pada dampak pengelolaannya.

Dalam kajian dampak zakat yang dipublikasikan pada 2026, BAZNAS mencatat pengelolaan zakat sepanjang 2025 membantu mengentaskan 302.994 jiwa dari kemiskinan. 

Skalanya tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Indonesia masih memiliki 23,36 juta penduduk miskin pada September 2025, setara 8,25 persen penduduk. Jumlah tersebut turun 700 ribu orang dibanding September 2024. 

Zakat, sedekah, program perlindungan sosial, penciptaan pekerjaan, pendidikan, serta pertumbuhan ekonomi memiliki fungsi masing-masing. Sedekah warga tentu tidak dirancang menggantikan tugas negara mengurangi kemiskinan.

Nilainya justru terletak pada kemampuan menjangkau hubungan sosial paling dekat.

Tetangga mungkin tahu seorang lansia tinggal sendirian. Pengurus lingkungan mengenal keluarga yang sedang kehilangan pekerjaan. Pedagang sekitar mengetahui siapa yang beberapa bulan terakhir kesulitan berjualan. Kedekatan membuat bantuan bisa menjadi lebih personal.


Agustusan Menyediakan Banyak Kesempatan Berbagi

Ada sisi praktis dari perayaan 17 Agustus yang jarang diperhatikan. Banyak sumber daya bergerak sekaligus dalam waktu singkat.
Warga mengumpulkan konsumsi. UMKM menerima pesanan. Panitia membeli hadiah. Orang memasak bersama. Anak-anak membawa makanan.

Setelah acara selesai, terkadang masih ada barang atau konsumsi yang dapat dimanfaatkan. Sedekah tidak harus dibuat sebagai agenda baru yang rumit.

Panitia bisa menghitung makanan dengan lebih baik dan menyalurkan kelebihan konsumsi yang masih layak. Warga dapat membeli hadiah lomba dari pedagang kecil sekitar. Keluarga yang memiliki rezeki lebih bisa menambahkan beberapa paket kebutuhan pokok untuk warga yang membutuhkan.

Ada satu batas penting: penerima tetap perlu diperlakukan dengan hormat.

Membagikan bantuan sambil merekam wajah seseorang dari jarak dekat demi konten media sosial dapat membuat niat baik terasa tidak nyaman. Dokumentasi kegiatan mungkin diperlukan, terutama oleh organisasi. Namun kebutuhan dokumentasi tidak otomatis menghapus privasi penerima. Berbagi juga tidak harus selalu terlihat.

Dalam suasana kampung Surabaya yang ramai saat Agustusan, terkadang bantuan paling nyaman justru diberikan setelah kerumunan berkurang.

 

Kemerdekaan Bisa Diisi dari Jarak Beberapa Rumah

Indonesia pada September 2025 memiliki tingkat kemiskinan perkotaan sebesar 6,60 persen, lebih rendah dibanding perdesaan yang mencapai 10,72 persen. Meski demikian, jumlah penduduk miskin perkotaan masih sekitar 11,18 juta orang. 

Fakta itu relevan bagi kota besar seperti Surabaya. Gedung tinggi, pusat belanja, kafe baru, dan kawasan bisnis tidak berarti kesulitan ekonomi menghilang dari kehidupan perkotaan.

Kemiskinan kota terkadang justru tidak terlalu terlihat. Orang tetap berangkat bekerja, berpakaian rapi, mengantar anak, dan beraktivitas seperti biasa sambil mengatur pengeluaran dengan sangat ketat.

Maka sedekah di Hari Kemerdekaan tidak membutuhkan konsep yang terlalu besar. Bisa dimulai dengan mengetahui keadaan orang-orang di sekitar, memberi sesuai kemampuan, lalu membiarkan bantuan tersebut sampai tanpa membuat penerimanya merasa lebih rendah.

Sore nanti, setelah lomba selesai, jalan-jalan kampung Surabaya mungkin masih penuh potongan pita merah putih dan kursi plastik yang belum dibereskan. Jika ada beberapa bungkus makanan yang kemudian sampai ke rumah orang yang membutuhkannya, perayaan kemerdekaan mendapat satu fungsi tambahan yang sangat sederhana.Makan malam seseorang menjadi sedikit lebih ringan.