Jumat, 14 August 2026 03:00 UTC

Ilustrasi: Menjaga Wajah Kota. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pagi di Surabaya memiliki ritme yang khas. Saat warung kopi mulai membuka pintu dan kendaraan perlahan memenuhi jalan, petugas kebersihan sudah lebih dahulu berhadapan dengan daun kering, plastik, sisa makanan, hingga sampah yang tertinggal sejak malam.
Petugas kebersihan menjadi bagian penting dari sistem yang menjaga Surabaya tetap berjalan nyaman. Pekerjaan mereka mungkin terlihat sederhana dari balik kaca kendaraan. Skalanya sama sekali tidak kecil ketika dilihat dari jumlah sampah yang harus ditangani sebuah kota besar setiap hari.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mencatat timbulan sampah kota mencapai sekitar 1.800 ton per hari pada 2026. Volume sebesar itu membuat kebersihan kota bergantung pada rantai pekerjaan panjang, mulai pengumpulan di lingkungan, penyapuan jalan, pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan akhir.
Sebelum Jalanan Surabaya Benar-Benar Sibuk
Ada pekerjaan kota yang hasilnya justru paling terasa ketika jejak pekerjaannya nyaris tak terlihat. Jalan yang sudah bersih pukul tujuh pagi membuat orang jarang membayangkan apa yang terjadi beberapa jam sebelumnya.
Di Surabaya, pengangkutan sampah bahkan harus menyesuaikan ritme lalu lintas. DLH menyebut pengambilan sampah dari sejumlah lembaga pengelola sampah di tepi jalan dimulai sekitar pukul 04.00. Salah satu pertimbangannya sederhana: pekerjaan pada siang hari dapat mengganggu arus kendaraan.
Bayangkan jalur-jalur yang kemudian padat seperti kawasan pusat kota, koridor perdagangan, hingga jalan penghubung antarkecamatan. Ruang tersebut harus sudah relatif siap ketika pekerja berangkat, sekolah mulai aktif, toko membuka pintu, dan kendaraan barang masuk.
Pekerjaan kebersihan akhirnya mengikuti jam hidup kota. Ada yang menyapu jalan, menangani sampah, membersihkan ruang publik, hingga memastikan material yang terkumpul dapat diteruskan ke sistem pengangkutan.
Sampah 1.800 Ton Tak Selesai dengan Sapu
Melihat persoalan kebersihan hanya dari keberadaan petugas lapangan mudah membuat tanggung jawab warga terlupakan. Dengan sekitar 1.800 ton sampah muncul setiap hari, sistem akan cepat kewalahan bila seluruh material langsung dibebankan pada pengangkutan dan tempat pemrosesan akhir.
Surabaya memiliki infrastruktur yang cukup luas. Dokumen perencanaan DLH mencatat 190 tempat penampungan sementara (TPS), 9 TPS 3R, 26 rumah kompos, dan 4 PLTSa mini dalam basis sarana-prasarana yang digunakan ketika dokumen tersebut disusun.
Infrastruktur itu memperlihatkan bahwa urusan sampah berlangsung dalam banyak tahap, bukan perjalanan lurus dari tong sampah menuju TPA.
Pengolahan organik juga memberi gambaran konkret mengenai nilai pemilahan. Data Pemkot Surabaya pada Januari 2026 menyebut 27 rumah kompos mampu menghasilkan penghematan biaya pengangkutan sekitar Rp6,73 miliar per tahun.
Sampah organik yang selesai diolah lebih dekat dari sumbernya tidak perlu seluruhnya menempuh perjalanan panjang menuju tempat pemrosesan akhir.
Di level rumah tangga, kebiasaan memisahkan sisa makanan, material daur ulang, dan residu mungkin terasa kecil. Namun pekerjaan petugas di hilir menjadi berbeda ketika sampah sudah lebih tertata sejak dari rumah.
Menjaga Kota Juga Berarti Menghadapi Kebiasaan Warganya
Surabaya mempunyai budaya kerja bakti yang masih terlihat di banyak kampung. Pada 2025, DLH mencatat kegiatan Surabaya Bergerak rata-rata berlangsung di 150 sampai 200 titik setiap Minggu, dengan kuota maksimal 200 lokasi per pekan. Sampah hasil kerja bakti kemudian dijadwalkan untuk diangkut.
Skala partisipasi warga terlihat lebih besar saat korve Sungai Kalimas pada Maret 2026. Pemerintah Kota Surabaya mencatat 7.269 orang terlibat membersihkan Kalimas dan berbagai titik kota.
Kementerian Lingkungan Hidup pada kesempatan tersebut menyebut tingkat penanganan sampah Surabaya telah berada di kisaran 95 persen.
Capaian tinggi tetap menyisakan pekerjaan sehari-hari. Sungai Pegirian, misalnya, harus rutin dibersihkan karena sampah masih terbawa dari saluran sekunder di kawasan permukiman. DLH bahkan merencanakan pemasangan penyaring pada aliran sekunder agar sampah dapat diambil sebelum bergerak lebih jauh ke saluran primer.
Cerita semacam ini membuat persoalan kebersihan terasa lebih dekat. Satu kantong plastik yang dibuang sembarangan memang kecil. Ketika kebiasaan serupa dilakukan berulang oleh banyak orang, petugas di lapangan menerima akumulasinya.
Pekerjaan Fisik yang Layak Dilihat sebagai Profesi
Petugas kebersihan bekerja di ruang terbuka, berdampingan dengan lalu lintas dan menghadapi material yang tidak selalu aman. Sopir armada sampah pun memikul risiko berbeda karena kendaraan besar harus bergerak melewati jalan kota.
DLH Surabaya menjalankan pelatihan keselamatan berkendara bagi sopir truk sampah serta pemeriksaan kelaikan kendaraan secara berkala. Pada 2026, pengawasan armada juga diperkuat untuk mencegah kebocoran air lindi yang dapat menimbulkan bau dan membuat permukaan jalan licin.
Sisi kesejahteraan pekerja tak kalah penting. DLH menyatakan petugas kebersihan menerima penghasilan langsung dari pemerintah kota serta fasilitas JKN BPJS dan seragam melalui APBD. Model tersebut dipertahankan agar pekerjaan kebersihan tidak sepenuhnya dialihkan kepada pihak ketiga dengan risiko penghasilan pekerja lebih rendah.
Cara masyarakat memperlakukan profesi ini juga berpengaruh. Memberi ruang ketika petugas sedang bekerja, tidak meletakkan sampah sembarangan setelah jalan selesai disapu, atau memilah sampah rumah tangga adalah bentuk dukungan yang jauh lebih berguna daripada apresiasi sesaat.
Kota Bersih Dimulai Jauh Sebelum Sampah Diangkut
Surabaya terus mengembangkan pengolahan sampah. Pemerintah juga merencanakan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tahap berikutnya dengan target kapasitas sekitar 800 ton per hari. Namun Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menekankan bahwa pengelolaan paling ideal tetap dimulai melalui pemilahan dari rumah tangga.
Pesannya cukup praktis untuk kehidupan sehari-hari. Infrastruktur besar diperlukan, armada dibutuhkan, petugas kebersihan tetap menjadi tulang punggung pelayanan lapangan. Tetapi volume pekerjaan mereka sangat dipengaruhi oleh apa yang dilakukan warga beberapa meter dari dapur masing-masing.
Menjelang perayaan kemerdekaan, Surabaya biasanya berubah lebih semarak. Merah putih muncul di gang, kampung berhias, jalan ramai kegiatan warga. Setelah acara selesai, gelas plastik, bungkus makanan, daun, dan berbagai sisa kegiatan juga harus pergi ke suatu tempat.
Esok paginya, ketika jalan kembali bersih dan aktivitas kota berjalan seperti biasa, petugas kebersihan mungkin sudah berpindah ke ruas berikutnya. Dari sekitar 1.800 ton sampah yang dihasilkan Surabaya setiap hari, pekerjaan menjaga kota memang tidak pernah benar-benar mengenal tombol selesai.
