Senin, 19 October 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Obrolan Selepas Senja. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Ada yang datang untuk bertemu teman. Ada pekerja yang singgah sebelum pulang. Sebagian membuka ponsel sambil menikmati kopi, sedangkan pelanggan lainnya cukup duduk dan mengikuti percakapan di meja sebelah.
Fenomena tersebut menarik karena warung kopi bertahan ketika pilihan tempat berkumpul semakin banyak. Kafe modern tumbuh, layanan pesan antar berkembang, dan kopi dapat dibuat sendiri di rumah. Namun warung kopi tidak kehilangan seluruh pengunjungnya. Jawabannya mungkin karena yang dijual sebenarnya lebih luas daripada minuman.
Kopi Memiliki Basis Produksi yang Besar
Budaya minum kopi Indonesia ditopang oleh produksi yang nyata. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi kopi Indonesia pada 2023 mencapai sekitar 758,7 ribu ton. Jawa Timur ikut berada dalam ekosistem tersebut.
Data Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur yang dimuat BPS Jawa Timur menunjukkan produksi kopi perkebunan rakyat pada 2025 mencapai sekitar 51,46 ribu ton. Angka itu menggambarkan bahwa kopi bukan barang asing dalam kehidupan ekonomi daerah.
Hubungan masyarakat Jawa Timur dengan kopi juga terbentuk dari bentang produksi yang panjang. Sejumlah daerah memiliki kawasan perkebunan kopi, sementara di tingkat konsumen muncul beragam bentuk tempat menikmatinya. Kopi akhirnya hadir dalam banyak kelas ruang sosial.
Ada kopi di hotel, kedai modern, rumah, kantor, hingga warung sederhana di tepi jalan. Cara menyajikannya berbeda, tetapi fungsi sosialnya sering kali bertemu pada satu hal: kopi memberi alasan untuk duduk lebih lama.
Orang Jawa Timur Banyak Membelanjakan Uang untuk Makanan Jadi
Kebiasaan makan dan minum di luar rumah juga dapat dibaca melalui pengeluaran masyarakat. BPS Jawa Timur mencatat rata-rata pengeluaran penduduk untuk makanan pada 2025 mencapai Rp715.989 per kapita per bulan.
Dari jumlah tersebut, kelompok makanan dan minuman jadi mencapai Rp237.712 per kapita per bulan. Nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan pengeluaran rata-rata untuk beberapa kelompok bahan makanan yang dimasak sendiri.
Di perkotaan Jawa Timur, pengeluaran makanan dan minuman jadi bahkan mencapai Rp263.602 per kapita per bulan. Sementara di perdesaan nilainya Rp202.807.
Data itu tentu tidak berarti seluruh uang tersebut dibelanjakan di warung kopi. Kelompok makanan dan minuman jadi mencakup berbagai produk siap konsumsi.
Namun angkanya memperlihatkan satu kebiasaan penting: membeli sesuatu yang siap disantap atau diminum sudah menjadi bagian cukup besar dari konsumsi makanan masyarakat Jawa Timur. Warung kopi berada di dalam lanskap kebiasaan tersebut.
Harga Secangkir Kopi Membeli Waktu untuk Bersosialisasi
Ada karakter yang membedakan warung kopi dengan banyak ruang komersial lainnya. Orang bisa berada cukup lama tanpa harus membeli banyak barang.
Secangkir kopi, teh, gorengan, mi instan, atau makanan ringan sudah cukup menjadi tiket tidak resmi untuk duduk. Pengunjung dapat mengobrol selama satu jam tanpa merasa harus segera meninggalkan tempat. Inilah yang membuat warung kopi memiliki fungsi sosial.
Bagi anak muda, tempat itu bisa menjadi lokasi bertemu teman. Bagi pekerja, warung menjadi ruang transisi sebelum pulang. Bagi warga sekitar, meja kopi dapat berubah menjadi tempat bertukar kabar tentang lingkungan. Percakapan yang muncul pun tidak harus direncanakan.
Orang membicarakan sepak bola, pekerjaan, harga barang, keluarga, politik, kendaraan, sampai kabar tetangga. Seseorang bahkan bisa datang sendirian dan pulang setelah berbicara dengan beberapa orang.
Dalam kehidupan perkotaan yang semakin individual, ruang sosial murah seperti ini mempunyai nilai yang sulit dihitung dengan rupiah.
Ponsel Tidak Membunuh Budaya Nongkrong
Menariknya, digitalisasi tidak serta-merta menghilangkan warung kopi. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Sebanyak 68,65 persen penduduk juga tercatat memiliki atau menguasai telepon seluler. Artinya, warung kopi sekarang dihuni masyarakat yang sangat terhubung secara digital.
Pemandangan orang memegang ponsel di meja kopi sudah biasa. Mereka bisa membaca berita, membalas pesan, menonton pertandingan, bekerja, atau menunjukkan video kepada teman di sebelahnya. Teknologi justru bercampur dengan pola interaksi lama.
Satu orang menemukan sesuatu dari internet, kemudian memperlihatkannya kepada tiga orang di meja. Informasi digital berubah menjadi percakapan langsung.
Dalam situasi seperti itu, ponsel tidak selalu membuat orang menjauh. Perangkat yang sama kadang menjadi bahan pembuka obrolan.
Warung Kopi Menawarkan Sesuatu yang Tidak Bisa Dipesan Online
Kopi kini mudah dikirim sampai rumah. Makanan pun dapat dipesan tanpa meninggalkan kamar. Tetapi ada satu hal yang tidak ikut masuk ke dalam kantong pengantaran: suasana.
Suara sendok mengenai gelas, orang yang datang dan pergi, sapaan pemilik warung, percakapan meja sebelah, motor berhenti di depan warung, hingga kesempatan bertemu seseorang tanpa membuat janji merupakan pengalaman yang hanya muncul ketika orang berada di tempat yang sama.
Itulah sebabnya warung kopi sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai tempat menjual minuman. Ia merupakan bagian dari infrastruktur sosial masyarakat.
Tidak semua orang membutuhkan tempat mahal untuk berinteraksi. Banyak orang hanya membutuhkan meja, kursi, minuman hangat, dan lingkungan yang membuat mereka merasa boleh tinggal sebentar. Di situlah warung kopi menemukan kekuatannya.
Ketika kehidupan masyarakat semakin digital dan banyak kebutuhan bisa diselesaikan dari rumah, warung kopi justru mempertahankan sesuatu yang sangat analog: kehadiran manusia lain.
Mungkin itulah sebabnya ketika malam turun dan sebagian toko mulai menutup pintunya, lampu warung kopi masih menyala.
