Minggu, 18 October 2026 11:30 UTC

Ilustrasi: Pasar baru terjaga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pergi ke pasar pagi bukan sekadar kebiasaan generasi sebelumnya. Di tengah layanan pesan antar dan toko yang buka hingga malam, berbelanja sejak pagi tetap mempunyai keuntungan yang sulit digantikan.
Alasannya sangat praktis. Banyak komoditas pangan mempunyai karakter mudah rusak. Sayuran kehilangan kesegaran, ikan membutuhkan rantai dingin, sementara daging dan produk segar memerlukan penanganan yang tepat sejak distribusi hingga dibawa pulang.
Badan Pusat Statistik mencatat Indonesia memiliki 17.443 pasar rakyat pada 2024 dan 16.842 di antaranya aktif beroperasi. Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah pasar rakyat terbanyak, yakni 2.574 pasar.
Besarnya jaringan tersebut membuat pasar pagi masih menjadi bagian kehidupan sehari-hari banyak keluarga. Namun untuk mendapatkan pengalaman belanja yang lebih nyaman, waktu kedatangan ternyata cukup menentukan.
Mengapa Banyak Pasar Hidup Sejak Subuh?
Ritme pasar mengikuti perjalanan barang. Sayuran dari sentra produksi, ikan dari tempat pendaratan atau pemasok, ayam, telur, buah, hingga berbagai bahan pangan bergerak melalui rantai distribusi sebelum akhirnya sampai ke pedagang.
Sebagian proses itu berlangsung ketika banyak orang masih tidur. Karena itu, ketika pembeli datang pada pagi hari, banyak pedagang baru saja menerima atau menata barang dagangannya. Pilihan biasanya masih lebih lengkap dibandingkan setelah sebagian stok terjual. Kebiasaan berbelanja pagi juga berkaitan dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia.
BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita untuk makanan pada Maret 2025 sekitar Rp769 ribu per bulan. Angka tersebut setara dengan 49,28 persen dari keseluruhan rata-rata pengeluaran per kapita.
Pangan tetap mengambil bagian besar dalam anggaran rumah tangga. Memilih bahan dengan baik karena itu bukan urusan kecil.
Barang Segar Tetap Harus Diperiksa
Datang pagi bukan jaminan semua barang otomatis lebih baik. Pembeli tetap perlu memeriksa kondisi bahan pangan sebelum membelinya.
Pada ikan, misalnya, kesegaran dapat dilihat dari beberapa tanda fisik. Mata umumnya masih jernih dan menonjol, insang berwarna merah segar, daging elastis ketika ditekan, serta tidak mengeluarkan bau menyengat yang tidak wajar. Untuk sayuran, perhatikan warna, kekencangan batang atau daun, serta bagian yang mulai layu atau membusuk.
Buah mempunyai karakter berbeda lagi. Warna tidak selalu menjadi satu-satunya penanda kematangan karena setiap jenis memiliki ciri masing-masing.
Prinsip sederhananya adalah jangan hanya memilih berdasarkan penampilan bagian atas tumpukan. Periksa beberapa sisi barang. Tanyakan kapan barang datang.
Jika membeli dalam jumlah banyak, pastikan kondisinya cukup baik untuk disimpan sampai waktu penggunaan. Kebiasaan sederhana tersebut dapat mengurangi pangan yang akhirnya terbuang di rumah.
Indonesia Masih Menghadapi Masalah Sampah Makanan
Belanja berlebihan terlihat sepele ketika hanya terjadi pada satu rumah. Jika dilakukan jutaan rumah tangga, skalanya berubah. Kajian Bappenas mengenai food loss and waste memperkirakan timbulan kehilangan dan pemborosan pangan Indonesia pada periode 2000–2019 mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun atau setara sekitar 4–5 persen produk domestik bruto Indonesia berdasarkan perhitungan dalam kajian tersebut.
Angka itu tidak berarti seluruh makanan terbuang dari dapur rumah tangga. Kehilangan terjadi pada berbagai tahapan, mulai produksi, distribusi, penjualan hingga konsumsi. Namun konsumen tetap mempunyai peran. Salah satu cara paling sederhana adalah membeli sesuai kebutuhan.
Pasar pagi justru dapat membantu karena bahan dijual dalam ukuran yang fleksibel. Pembeli bisa membeli tiga buah tomat, beberapa batang daun bawang, seperempat kilogram cabai, atau bahan sesuai menu yang akan dimasak. Tidak semuanya harus dibeli dalam kemasan besar.
Jangan Datang Tanpa Tahu Mau Membeli Apa
Keuntungan pergi pagi dapat hilang jika seseorang datang tanpa rencana. Pasar penuh warna, aroma, dan pilihan. Barang yang awalnya tidak masuk kebutuhan sering terlihat menarik setelah berada di depan mata.
Karena itu, daftar belanja sederhana masih sangat berguna. Sebelum berangkat, periksa isi kulkas dan dapur. Tentukan menu beberapa hari ke depan. Catat bahan yang benar-benar habis. Langkah tersebut terdengar kuno, tetapi justru relevan ketika pilihan semakin banyak.
Data BPS menunjukkan kelompok makanan dan minuman jadi mengambil porsi besar dalam pengeluaran makanan masyarakat. Pada Maret 2025, rata-ratanya sekitar Rp285 ribu per kapita per bulan.
Memasak dari bahan yang dibeli sendiri bukan berarti selalu lebih murah dalam setiap keadaan. Namun perencanaan memberi kendali lebih besar terhadap jumlah, bahan, dan porsi makanan.
Ada keuntungan lain ketika datang lebih pagi: pembeli tidak perlu terburu-buru karena stok keburu habis. Waktu untuk membandingkan kualitas menjadi lebih panjang.
Bawa Tas, Wadah, dan Uang Secukupnya
Persiapan kecil dapat membuat belanja pasar jauh lebih nyaman. Tas belanja yang kuat membantu membawa sayuran dan barang kering. Wadah tertutup dapat digunakan jika membeli bahan yang berisiko bocor.
Tas berinsulasi berguna ketika membawa ikan, daging, atau produk dingin dalam perjalanan yang cukup lama. Pembayaran juga mulai berubah.
Kementerian Perdagangan mencatat 5.807 pasar rakyat telah tersentuh digitalisasi pada 2024 dengan 306.964 pedagang terdigitalisasi. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat jumlah pengguna QRIS telah mencapai 57 juta pada semester pertama 2025 dengan 39,3 juta merchant.
Meski demikian, membawa uang tunai dalam nominal kecil tetap praktis ketika pergi ke pasar. Tidak semua pedagang menggunakan pembayaran digital, jaringan internet pun tidak selalu stabil. Gabungan keduanya memberi fleksibilitas.
Pagi Menawarkan Pengalaman yang Berbeda
Ada bagian lain dari pasar pagi yang tidak tercatat dalam statistik.Suasananya. Pedagang baru membuka lapak. Barang datang menggunakan pikulan, motor, mobil bak, atau keranjang. Warung kopi mulai dipenuhi pelanggan. Penjual sarapan menyiapkan makanan. Percakapan mengenai harga hari itu mulai terdengar.
Pasar sedang berada pada fase paling aktif dari siklus hariannya. Bagi orang yang biasanya berbelanja melalui layar, suasana tersebut menawarkan pengalaman yang sangat berbeda.
Kita dapat melihat bentuk asli bahan makanan sebelum masuk kemasan. Kita dapat bertanya dari mana ikan berasal, memilih buah sendiri, atau mengetahui bahwa harga suatu sayuran sedang naik karena pasokannya berkurang. Pasar membuat rantai pangan terasa lebih dekat.
Tentu tidak semua orang dapat berbelanja pagi. Jam kerja, jarak rumah, pengasuhan anak, dan berbagai aktivitas membuat pola hidup setiap keluarga berbeda.
Namun ketika memiliki waktu, datang lebih pagi masih layak dicoba. Bukan karena semua yang dilakukan orang dahulu otomatis lebih baik. Alasannya jauh lebih sederhana: pilihan barang biasanya masih banyak, kita punya waktu memeriksa kualitas, dan belanja dapat dilakukan sebelum kesibukan hari benar-benar dimulai.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, satu jam di pasar pada pagi hari justru dapat membuat urusan makan beberapa hari berikutnya menjadi lebih terencana.
