Minggu, 18 October 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Seni menawar harga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pergi ke pasar rakyat membawa pengalaman yang semakin jarang ditemukan dalam belanja modern. Harga tidak selalu menjadi angka mati. Pembeli bertanya, pedagang menjawab, lalu percakapan kecil dimulai sampai keduanya merasa menemukan harga yang masuk akal.
Di tengah transaksi digital yang tumbuh pesat, kebiasaan tersebut ternyata belum kehilangan ruangnya. Indonesia masih memiliki jutaan pedagang dan puluhan juta pekerja yang kehidupannya bersentuhan dengan sektor perdagangan.
Kementerian Perdagangan, mengutip data BPS, mencatat sektor perdagangan pada 2025 menyumbang 13,17 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Sektor ini juga menyerap sekitar 27,45 juta pekerja atau 18,73 persen dari total tenaga kerja Indonesia.
Pasar rakyat berada di dalam ekosistem besar tersebut. Di sinilah transaksi ekonomi sering kali berlangsung dengan cara paling sederhana: bertemu, berbicara, lalu bersepakat.
Menawar Bukan Berarti Harus Mendapat Harga Termurah
Kesalahan yang sering terjadi ketika berbelanja di pasar adalah menganggap keberhasilan menawar ditentukan oleh seberapa jauh harga dapat diturunkan. Padahal, tawar-menawar pada dasarnya adalah negosiasi.
Pedagang memiliki harga beli, biaya angkut, risiko barang rusak, biaya kios, serta margin yang digunakan untuk menjalankan usahanya. Pembeli memiliki anggaran dan perkiraan harga yang dianggap wajar.
Karena itu, membuka penawaran terlalu rendah terkadang justru membuat percakapan tidak nyaman. Cara yang lebih sederhana adalah bertanya terlebih dahulu. Setelah mengetahui harga, pembeli dapat mengajukan angka yang masih masuk akal.
Kalimat seperti “Kalau saya ambil dua kilo, boleh kurang?” biasanya terasa lebih wajar dibanding langsung memangkas harga secara ekstrem. Jumlah pembelian memberi alasan ekonomi bagi pedagang untuk mempertimbangkan potongan harga.
Kenali Barang Sebelum Mulai Menawar
Kemampuan menawar sebenarnya berhubungan dengan pengetahuan tentang barang. Harga cabai, bawang, telur, ikan, buah, dan berbagai bahan pangan dapat berubah mengikuti pasokan. Harga hari ini belum tentu sama dengan pekan lalu. Karena itu, pembeli sebaiknya tidak berangkat dengan asumsi bahwa harga lama masih berlaku.
Pemerintah bahkan memiliki Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok untuk mengikuti perkembangan harga berbagai komoditas. Badan Pangan Nasional juga memantau harga pangan di berbagai daerah. Informasi semacam ini membuat posisi pembeli lebih rasional.
Jika harga pasar memang sedang meningkat, memaksa pedagang menjual dengan harga lama tentu tidak realistis. Sebaliknya, ketika selisih harga terlalu jauh, pembeli mempunyai dasar untuk bertanya. Menawar akhirnya bukan soal siapa yang lebih keras, tetapi siapa yang mempunyai informasi lebih baik.
Pasar Juga Sedang Belajar Menjadi Modern
Pemandangan menarik kini muncul di banyak pasar: negosiasi dilakukan secara tradisional, tetapi pembayarannya digital. Transformasi tersebut cukup besar.
Kementerian Perdagangan mencatat sebanyak 5.807 pasar rakyat telah tersentuh digitalisasi pada 2024. Jumlah pedagang yang terdigitalisasi mencapai 306.964 orang. Pada tingkat nasional, perkembangan pembayaran digital jauh lebih besar lagi.
Bank Indonesia mencatat hingga semester pertama 2025, QRIS telah digunakan oleh 57 juta pengguna dan tersedia pada 39,3 juta merchant. Sebanyak 93,16 persen merchant tersebut merupakan UMKM.
Dalam enam bulan pertama 2025 saja, transaksi QRIS mencapai 6,05 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp579 triliun. Angka itu memperlihatkan bahwa pembayaran tanpa uang tunai tidak lagi identik dengan pusat perbelanjaan besar. Warung, usaha kecil, hingga pedagang pasar ikut memasuki ekosistem tersebut.
Menariknya, digitalisasi pembayaran tidak menghapus budaya tawar-menawar. Harga masih dapat disepakati melalui percakapan. Setelah itu, ponsel menggantikan perpindahan uang tunai.
Jangan Menawar Semua Barang
Tidak semua situasi membutuhkan negosiasi. Jika pedagang sudah memasang harga tetap atau menjelaskan bahwa barang tidak dapat ditawar, pembeli sebaiknya menghormatinya.
Barang dengan margin kecil juga tidak selalu mempunyai ruang besar untuk mendapatkan potongan. Pada kondisi tertentu, selisih seribu atau dua ribu rupiah mungkin terasa kecil bagi pembeli, tetapi berarti bagi pedagang yang menjual puluhan barang setiap hari. Ada pula cara mendapatkan harga lebih baik tanpa terus meminta diskon.
Membeli dalam jumlah lebih banyak, menjadi pelanggan tetap, memilih paket barang, atau datang ketika pedagang sedang menghabiskan stok dapat membuka peluang harga berbeda. Hubungan jangka panjang bahkan sering lebih menguntungkan dibanding keberhasilan menawar sekali.
Pedagang yang sudah mengenal pelanggan kadang memberikan harga khusus, memilihkan barang yang lebih bagus, memberi tambahan, atau memberi tahu ketika stok baru datang. Nilainya tidak selalu tercetak pada struk.
Pasar Tetap Bertahan karena Ada Hubungan
Modernisasi pasar rakyat kini semakin serius dilakukan pemerintah. Pada 2026, Kementerian Perdagangan mendorong penerapan SNI 8152:2025 Pasar Rakyat sebagai acuan pembangunan, revitalisasi, pengelolaan, dan pengembangan pasar.
Tujuannya antara lain menciptakan lingkungan belanja yang lebih bersih, aman, sehat, dan nyaman. Transformasi tersebut penting karena cara konsumen memilih tempat belanja juga berubah. Namun, pasar rakyat memiliki sesuatu yang tidak mudah dibangun melalui fasilitas fisik saja: kedekatan antara manusia.
Pembeli dapat mempunyai pedagang sayur langganan. Pedagang buah mengingat buah kesukaan pelanggan. Penjual ikan mengetahui potongan yang biasa diminta sebuah keluarga. Bahkan tawar-menawar kecil ikut membangun hubungan tersebut.
Ada candaan, penolakan, angka baru, kemudian kesepakatan. Tidak ada tombol “checkout”, tetapi ada percakapan. Karena itu, kemampuan menawar di pasar rakyat sebaiknya tidak dipahami sebagai seni mendapatkan harga serendah-rendahnya. Tujuannya adalah menemukan harga yang terasa adil bagi kedua pihak.
Teknologi mungkin terus mengubah cara masyarakat membayar. Pasar pun akan semakin bersih, tertata, dan digital. Tetapi selama pembeli masih bertanya, “Boleh kurang sedikit, Bu?”, lalu pedagang tersenyum sambil menyebut angka baru, ada satu bagian dari pasar rakyat yang masih tetap sama: kesepakatan lahir dari perjumpaan manusia.
