Logo

Jadi Relawan, Cara Anak Muda Tumbuh Lewat Aksi Sosial

Kadang pengalaman paling berharga justru datang ketika kita mengerjakan sesuatu untuk orang lain,
Reporter:,Editor:

Sabtu, 17 October 2026 05:00 UTC

Jadi Relawan, Cara Anak Muda Tumbuh Lewat Aksi Sosial

Ilustrasi: Bergerak Bersama. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Menjadi relawan semakin layak dipandang sebagai bagian dari gaya hidup anak muda. Bukan hanya karena kegiatan sosial memberi manfaat kepada masyarakat, tetapi juga karena pengalaman tersebut membuka ruang belajar yang sulit ditemukan di ruang kelas.

Indonesia memiliki sekitar 64,22 juta pemuda berusia 16–30 tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024. Jumlah sebesar itu setara dengan sekitar seperlima penduduk Indonesia. Artinya, pilihan aktivitas generasi muda dapat memberi pengaruh besar terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Namun, besarnya jumlah pemuda belum otomatis berarti tingginya keterlibatan dalam organisasi. Data BPS yang digunakan dalam pengukuran pembangunan pemuda menunjukkan hanya sekitar 6,16 persen pemuda aktif mengikuti organisasi di luar sekolah atau tempat kerja.

Angka tersebut menarik karena menunjukkan adanya ruang yang sangat besar bagi kegiatan sosial yang lebih fleksibel. Anak muda tidak selalu harus menjadi pengurus organisasi untuk mulai memberi dampak.

 

Relawan Tidak Harus Menunggu Program Besar

Bayangan tentang relawan kadang terlalu serius. Harus bergabung dengan organisasi besar, mengenakan seragam tertentu, mengikuti pelatihan panjang, kemudian berangkat ke daerah yang jauh.

Padahal, kegiatan sosial bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Mengajar anak-anak membaca selama dua jam, membersihkan sungai, membantu bank sampah, mendampingi lansia, menanam pohon, atau mengelola perpustakaan kecil sudah merupakan bentuk partisipasi sosial.

BPS bahkan mendefinisikan keterlibatan sosial pemuda berdasarkan aktivitas kemasyarakatan di lingkungan sekitar dalam tiga bulan terakhir. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kontribusi sosial tidak harus berbentuk kegiatan berskala nasional.

Justru kegiatan kecil yang dilakukan secara rutin sering lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Seseorang tidak harus menunggu menjadi tokoh untuk mulai berguna.
 

Anak Muda Punya Energi, tetapi Perlu Ruang

Potensi tersebut penting karena persoalan anak muda tidak hanya berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan. Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) mengukur pembangunan generasi muda melalui lima domain, termasuk pendidikan dan pelatihan, kesehatan, ketenagakerjaan layak, partisipasi dan kepemimpinan, serta inklusivitas dan kesetaraan gender.

Dalam pengukuran dengan metode baru, IPP Indonesia tahun 2024 mencapai 62,88, meningkat dari 60,59 pada 2023. Namun, domain partisipasi dan kepemimpinan memperoleh skor 48,24, paling rendah dibandingkan empat domain lainnya.

Data itu memberi pesan sederhana: anak muda tidak cukup hanya dipersiapkan menjadi pelajar atau pekerja yang baik. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk terlibat, mengambil keputusan, mengelola kegiatan, dan berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat.

Jawa Timur memiliki alasan tambahan untuk memberi perhatian pada ruang semacam ini. BPS Jawa Timur secara khusus menempatkan pemuda sebagai agen perubahan, kontrol sosial, dan kekuatan moral dalam publikasi Statistik Pemuda Provinsi Jawa Timur 2025.

Ruang sosial akhirnya bukan sekadar tempat mengisi waktu luang. Ia bisa menjadi laboratorium kehidupan.
 

Pengalaman Sosial Mengajarkan Hal yang Tidak Ada di Kelas

Bayangkan lima mahasiswa diminta membuat kegiatan membaca untuk anak-anak kampung. Mereka harus menentukan lokasi, mencari buku, berbicara dengan warga, mengatur jadwal, membagi pekerjaan, mengatasi anak yang bosan, lalu mengevaluasi kegiatan.

Dalam satu proyek sederhana, mereka sebenarnya sedang belajar komunikasi, kepemimpinan, perencanaan, negosiasi, pemecahan masalah, dan kerja tim.

Pengalaman seperti ini berbeda dengan membaca teori kepemimpinan. Situasinya nyata dan konsekuensinya juga nyata.

Ketika seorang relawan datang terlambat, anggota lain harus mengambil pekerjaannya. Ketika rencana tidak berjalan, kelompok harus mencari jalan keluar. Ketika warga memiliki pandangan berbeda, mereka belajar mendengarkan.

Itulah sebabnya kegiatan sosial sebaiknya tidak diperlakukan hanya sebagai acara seremonial. Semakin besar kesempatan anak muda mengelola proyek secara mandiri, semakin banyak keterampilan kehidupan yang dapat tumbuh.
 

 

Jawa Timur Masih Punya Tantangan Anak Muda

Ada persoalan lain yang membuat ruang aktivitas produktif semakin penting. Data Sakernas 2025 yang dipublikasikan BPS menunjukkan 16,76 persen penduduk Jawa Timur berusia 15–24 tahun berada dalam kategori NEET, yakni tidak sedang sekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.

Secara nasional angkanya mencapai 19,44 persen. Dengan demikian, posisi Jawa Timur memang lebih baik dibandingkan rata-rata nasional, tetapi angka 16,76 persen tetap menunjukkan adanya kelompok muda yang membutuhkan lebih banyak jalan untuk kembali terhubung dengan pendidikan, keterampilan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.

Kegiatan kerelawanan tentu bukan pengganti pekerjaan atau pendidikan. Namun, pengalaman sosial dapat menjadi salah satu pintu untuk membangun kembali jejaring, kepercayaan diri, kebiasaan bekerja dalam tim, dan keterampilan praktis.

Seseorang yang awalnya datang untuk membantu acara kampung, misalnya, bisa menemukan kemampuan mengelola media sosial. Orang lain mungkin baru menyadari bahwa dirinya pandai mengajar anak-anak atau mengorganisasi kegiatan. Pengalaman kecil dapat membuka arah yang sebelumnya tidak terlihat.


 

Mulai dari Masalah yang Ada di Depan Mata

Menjadi relawan tidak harus dimulai dengan pertanyaan, “Organisasi mana yang harus saya ikuti?” Pertanyaan yang lebih sederhana justru bisa lebih berguna: masalah apa yang ada di sekitar saya?

Jika anak-anak kekurangan tempat membaca, buat kegiatan membaca. Jika lingkungan dipenuhi sampah plastik, mulai pemilahan sederhana. Jika pelaku usaha kecil kesulitan membuat foto produk, bantu memotretnya. Jika ada warga lanjut usia yang kesulitan menggunakan layanan digital, dampingi mereka.

Model seperti ini membuat aktivitas sosial lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak muda tidak datang membawa program yang terlihat hebat, tetapi menawarkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang benar-benar ada.

Lebih menarik lagi jika kegiatan dilakukan bersama tiga atau empat teman. Tentukan satu masalah, buat target sederhana, jalankan dalam waktu tertentu, kemudian catat hasilnya. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna.

Dari sekitar 64 juta pemuda Indonesia, perubahan sosial tidak membutuhkan semuanya bergerak pada saat bersamaan. Satu kelompok kecil yang konsisten memperbaiki satu persoalan di lingkungannya pun sudah berarti.

Karena menjadi relawan pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berhasil dibantu. Ada proses lain yang berlangsung bersamaan: anak muda sedang belajar menjadi manusia yang mampu melihat masalah, bekerja bersama orang lain, lalu berani melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Dan mungkin, dari situlah kepemimpinan yang sesungguhnya mulai tumbuh.