Minggu, 18 October 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Melanjutkan usaha keluarga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Pedagang pasar sering digambarkan sebagai pekerjaan generasi tua. Padahal, di balik kios sayur, toko kelontong, lapak pakaian, hingga pedagang bahan pangan, terdapat usaha yang dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Skala ekonominya tidak kecil.
Badan Pusat Statistik mencatat sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor menyerap sekitar 27,45 juta pekerja pada 2025. Jumlah tersebut setara dengan 18,73 persen dari keseluruhan tenaga kerja Indonesia.
Kontribusinya terhadap perekonomian nasional juga mencapai 13,17 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada tahun yang sama.
Di dalam ekosistem sebesar itu, pasar rakyat menjadi salah satu ruang usaha yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Indonesia memiliki 17.443 pasar rakyat pada 2024. Sebanyak 16.842 di antaranya tercatat aktif beroperasi.
Jawa Timur mempunyai 2.574 pasar rakyat, jumlah terbanyak di Indonesia. Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah pasar akan tetap ada, melainkan siapa yang akan menjalankan usaha di dalamnya pada masa mendatang.
Menjadi Pedagang Bukan Lagi Sekadar Menunggu Pembeli
Model usaha pasar dahulu relatif sederhana. Pedagang membuka lapak, menata barang, kemudian menunggu pembeli datang. Pelanggan tetap menjadi salah satu modal terpenting. Pola tersebut belum hilang, tetapi teknologi menambahkan banyak kemungkinan baru.
Pesanan dapat masuk melalui WhatsApp. Foto stok terbaru bisa dibagikan melalui media sosial. Pelanggan dapat meminta barang disiapkan sebelum datang. Pembayaran dilakukan menggunakan QRIS. Pengiriman bahkan dapat menggunakan layanan kurir lokal. Perubahan itu membuat batas antara toko fisik dan toko digital semakin tipis.
Kementerian Perdagangan mencatat 5.807 pasar rakyat telah tersentuh digitalisasi pada 2024. Sebanyak 306.964 pedagang tercatat terdigitalisasi. Artinya, transformasi pasar bukan lagi sebatas wacana. Kios tetap berada di tempat yang sama, tetapi jangkauan penjualannya dapat berubah.
Generasi Muda Membawa Keterampilan Berbeda
Anak pedagang yang tumbuh pada era ponsel pintar mempunyai pengalaman berbeda dari orang tuanya. Mereka terbiasa memotret produk, menggunakan aplikasi pencatatan, melakukan transfer bank, mencari pemasok melalui internet, membandingkan harga, dan berkomunikasi dengan pelanggan melalui pesan instan.
Keterampilan tersebut dapat menjadi modal besar ketika masuk ke usaha keluarga. Perubahan sederhana saja sudah berpengaruh.
Stok yang dahulu hanya diingat dapat mulai dicatat. Barang paling cepat terjual dapat diketahui. Utang pelanggan dapat direkap lebih rapi. Keuntungan tidak lagi sekadar dihitung dari uang yang tersisa di laci. Inilah bagian yang sering terlupakan ketika membicarakan digitalisasi pasar.
Teknologi bukan hanya QRIS. Digitalisasi juga berarti menggunakan informasi untuk mengetahui bagaimana usaha sebenarnya berjalan.
Peluang Digital untuk Usaha Kecil Semakin Besar
Ekonomi digital membuka ruang yang dahulu sulit dimasuki pedagang berskala kecil. BPS dalam Survei E-Commerce 2024 mencatat jumlah usaha e-commerce meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebanyak 96,91 persen usaha yang tercakup dalam profil usaha e-commerce tersebut merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Angka itu penting karena menunjukkan bahwa berjualan secara digital bukan hanya milik perusahaan besar. Pedagang kecil dapat menjalankan model yang sangat sederhana.
Seorang pedagang buah, misalnya, tidak harus membangun situs web sendiri. Ia dapat mengirim foto buah yang baru datang kepada pelanggan tetap. Pesanan dikumpulkan melalui pesan instan, pembayaran dilakukan secara digital, lalu barang diambil atau dikirim.
Pedagang sembako dapat menawarkan paket kebutuhan bulanan. Pedagang sayuran dapat menyiapkan paket bahan masakan. Penjual bumbu dapat menerima pesanan berdasarkan daftar belanja. Barangnya tetap sama. Yang berubah adalah cara menjualnya.
Tantangan Besarnya Ada pada Regenerasi
Indonesia sedang mengalami perubahan struktur tenaga kerja. BPS mencatat jumlah penduduk bekerja pada Februari 2025 mencapai 145,77 juta orang. Sementara jumlah angkatan kerja mencapai 153,05 juta orang.
Generasi muda memasuki pasar kerja dengan pilihan pekerjaan yang jauh lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya.
Bekerja di kantor, menjadi pekerja kreatif, masuk perusahaan teknologi, menjadi pengemudi berbasis aplikasi, membuka toko daring, hingga menjadi pembuat konten terlihat lebih dekat dengan kehidupan modern dibandingkan menjaga kios keluarga.
Karena itu, regenerasi pedagang tidak dapat hanya mengandalkan kalimat, “Nanti toko ini kamu teruskan.” Usaha tersebut harus terlihat mempunyai masa depan.
Anak muda perlu mengetahui berapa omzetnya, bagaimana margin usahanya, siapa pelanggannya, bagaimana pertumbuhan bisnisnya, dan apa yang dapat dikembangkan.
Tanpa pencatatan yang baik, sebuah kios yang sebenarnya menghasilkan pendapatan stabil bisa terlihat seperti pekerjaan yang tidak menjanjikan. Sebaliknya, ketika dikelola sebagai bisnis, persepsinya dapat berubah.
Pasar Juga Membutuhkan Wirausaha Muda
Pasar rakyat sebenarnya menawarkan sesuatu yang mahal bagi pengusaha pemula: pasar yang sudah terbentuk. Orang datang karena memang ingin membeli.
Pedagang tidak selalu harus menciptakan kebutuhan baru atau menghabiskan biaya besar untuk membuat konsumen mengetahui keberadaan produknya. Di pasar, arus pembeli sudah tersedia. Yang diperlukan adalah membaca kebutuhan mereka.
Generasi baru dapat mengembangkan usaha dari titik tersebut. Kios bahan makanan dapat menerima pesanan restoran kecil. Pedagang buah dapat membuat paket buah kantor.
Penjual bumbu dapat menawarkan bumbu siap masak. Pedagang pakaian dapat menggabungkan penjualan lapak dengan siaran langsung di media sosial.
Pasar fisik menjadi basisnya, sedangkan kanal digital memperluas jangkauan. Model semacam ini membuat istilah “pedagang pasar” memperoleh makna yang lebih luas.
Meneruskan Usaha Tidak Berarti Kembali ke Masa Lalu
Ada nilai besar dalam usaha keluarga yang telah berjalan bertahun-tahun. Pedagang lama memiliki pengetahuan yang sulit diperoleh melalui buku bisnis. Mereka mengetahui pemasok yang dapat dipercaya, karakter pelanggan, musim penjualan, kualitas barang, waktu terbaik membeli stok, hingga cara menghadapi perubahan harga.
Generasi muda membawa modal berbeda: teknologi, pencatatan, pemasaran, desain, jaringan digital, dan cara baru membaca konsumen. Jika keduanya bertemu, usaha pasar justru mempunyai peluang berkembang.
Indonesia memiliki puluhan juta orang yang menggantungkan hidup pada sektor perdagangan. Jawa Timur sendiri memiliki jaringan 2.574 pasar rakyat.
Di balik angka itu terdapat ribuan usaha keluarga yang suatu hari harus menghadapi pertanyaan yang sama: siapa yang akan meneruskannya? Jawabannya tidak harus berupa anak muda yang duduk di kios dengan cara persis seperti orang tuanya.
Mereka dapat mengubah sistem pencatatan, menerima pesanan melalui ponsel, membuat katalog digital, menawarkan pengiriman, memperbaiki kemasan, bahkan membangun merek sendiri.
Pasarnya tetap ada. Pelanggannya tetap manusia yang membutuhkan beras, sayur, buah, pakaian, bumbu, dan kebutuhan sehari-hari. Cara melayaninya yang berubah.
Mungkin masa depan pasar rakyat memang tidak hanya bergantung pada pembangunan gedung yang lebih baik. Ia juga bergantung pada apakah generasi berikutnya melihat kios keluarga bukan sebagai pekerjaan masa lalu, melainkan sebagai bisnis yang masih bisa tumbuh.
