JATIMNET.COM, Madiun - Banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan menuju sejahtera. Sadar potensi keindahan alamnya terbatas, Pemerintah Kabupaten Madiun melirik sektor agrowisata untuk menarik wisatawan ke daerahnya. Strateginya, melalui festival durian.

Sabtu 26 Januari 2019, festival itu digelar di perkebungan durian Desa Segulung Kecamatan Dagangan. Pengunjung dimanjakan dengan durian kelas wahid dengan harga terjangkau.

"Ini festival kedua yang kami gelar," kata Camat Dagangan Syahrowi. Festival perdana digelar tahun lalu di depan kantor kecamatan. "Yang kedua ini digelar di Bukit Setepong (Desa Segulung)."

Segulung berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota Madiun. Perjalanan menuju desa itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan kendaraan bermotor. Dan, bukit Setepong dikenal sebagai sentra durian di Dagangan.

BACA JUGA: Menikmati Aneka dan Cita Rasa Durian di Banyuwangi

Di Madiun, Dagangan tercatat sebagai satu dari empat kecamatan penghasil durian. Tiga yang lain Dolopo, Kare, dan Gemarang. Tapi pemerintah kini berkonsentrasi mengembangkan Segulung di Dagangan sebagai pusat pengembangan agrowisata.

Maka, panitia festival pun sengaja menggelar festival tahun ini di sana, agar pecinta durian berdatangan dan Setepong kian mashur di kalangan pelancong.

Kalau sudah begitu, kata Rowi-begitu Pak Camat itu disapa-roda ekonomi di Segulung berputar. Masyarakat bisa mendapat keuntungan dari perdagangan dan kedatangan wisatawan, petani durian pun terangkat kesejahteraannya.

Pada festival itu, panitia menyediakan lebih dari 6 ribu durian. Festival diklaim sukses karena antusiasme pengunjungnya membludak. Mereka tak hanya datang dari Madiun, tapi juga daerah tetangga; Ngawi dan Ponorogo.

BACA JUGA: "Raja Tupai" Kaki Argopuro, Durian Khas Krucil Probolinggo

Lokasi festival sejatinya bermedan sulit. Terletak di lereng Gunung Wilis, tempat itu tak mudah dijangkau. Untuk mencapai lokasi, hanya pengunjung dengan kendaraan roda dua yang diperbolehkan masuk. Adapun pengendara roda empat harus turun dan berjalan kaki karena jalan ke bukit yang sempit dan curam.

Jalan Raya Segulung-Dagangan yang menjadi akses menuju bukit pun dipadati antrean panjang kendaraan bermotor. Toh, suasana itu tak menyurutkan niat pecinta durian datang.

Kartiko, salah satunya. Ia sengaja datang ke sana untuk menikmati buah durian langsung dari kebunnya. Menurut dia, durian Segulung rasanya manis, lembut, dan sedikit pahit.

"Saya sangat senang dengan durian Segulung. Orang sini menyebutnya Durian Kawuk. Saat duriannya dibuka, dagingnya berwarna kuning, rasanya manis, lembut, dan ada pahitnya sedikit," kata pria asal Ngawi ini.

Ramainya pengunjung mendatangkan berkah bagi penduduk desa. Adalah Mustofa, seorang penjual durian, mengatakan 200 lebih buah durian yang ia perdagangkan ludes dibeli pengunjung festival.

Meski harga jual lebih murah dibanding biasanya, ia tetap gembira. Sebutir durian berukuran sedang, yang biasa dijual seharga Rp 70 ribu, di festival ditawarkan dengan harga Rp 40 ribu-Rp 50 ribu. "Harga di sini memang lebih murah," kata lelaki yang juga petani durian itu.

BACA JUGA: ‘Watu Rumpuk’ Alternatif Wisata Baru di Madiun

Pemerintah Kabupaten Madiun punya komitmen menjadikan festival sebagai agenda tahunan pariwisata. Harapannya, bisa menjadikannya sebagai produk unggulan wisata daerah. "Kami punya potensi produk durian. Di sini ini (Dagangan) prioritas dan titik wisatanya," kata Bupati Ahmad Dawami.

Selain mengenalkan potensi agrowisata Kabupaten Madiun, festival tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan nilai jual durian sehingga menguntungkan para petaninya. Di antara caranya, dengan menjual hasil olahan buah durian, semisal jadi kue tertentu.

"Harapannya, saat panen raya, harga durian yang biasanya jatuh karena stok banyak bisa bertahan," kata Bupati yang akrab disapa Kaji Mbing ini.(ant)