Masjid 10 Lantai di Malang, Wisatawan Rusia Pun Kepincut

Dyah Ayu Pitaloka

Jumat, 24 Mei 2019 - 16:13

JATIMNET.COM, Malang – Nama Masjid Tiban populer di antara warga Malang. Bangunan masjid dan pondok pesantren yang berada di Jalan Kh. Wahid Hasyim Gang Anggur, Nomor 10, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, banyak dijadikan tujuan ngabuburit, karena menyajikan berbagai fasilitas, yang tersebar di 10 lantainya.

Bukan hanya warga muslim saja yang tertarik berkunjung ke pondok pesantren bernama Bihaaru Bahri Asali Fadlaairil Rahmah itu, wisatawan dari Malaysia, Brunei, hingga Rusia yang non muslim pun, tertarik untuk mengunjungi bangunan setinggi 45 meter itu.

Masjid tiban awalnya adalah pondok pesantren yang didirikan sejak tahun 1989. Setelah itu, pendiri pondok kemudian mulai membangun masjid secara bertahap sejak tahun 1999, dan tidak berhenti hingga saat ini.

Pondok dan masjid yang terletak di dalam gang, serta proses pembangunan yang berjalan menerus oleh santri setempat, awalnya tidak disadari oleh penduduk sekitar.

BACA JUGA: Empat Masjid Tujuan Saat Ramadan di Malang

Sehingga, ketika masjid besar dengan gaya timur tengah lengkap dengan menara yang menjulang muncul, warga pun terkejut, dan menyebutnya tiban, atau mendadak.

“Ada yang bilang dibangun oleh jin dalam semalam, itu tidak benar. Karena pembangunannya menerus dan dilakukan sendiri oleh santri,” kata Santri piket Iphoeng HD Purwanto, dihubungi lewat selulernya, Jumat 24 Mei 2019.

10 Lantai

Pondok Pesantren dan Masjid ini memang berbeda. Bangunan utama dengan 10 lantai memiliki beragam fasilitas di dalamnya.

Lantai tiga di sisi Timur, ada berbagai satwa serupa kebun binatang. Di sini ada budi daya hamster dan kelinci. Pengunjung boleh membeli ternaknya. Sementara di pusatnya, ada musala sebagai fasilitas salat.

BACA JUGA: Jemaah Masjid Baitu Ilmin Girilaya Sumbang Warga Gaza

Ketika Ramadan, Taman Adenium di lantai lima banyak dikunjungi menjelang berbuka, karena panitia menyiapkan takjil dan makanan untuk berbuka.

Di lantai ini pula, terdapat tempat salat dengan ukuran lebih luas yang digunakan untuk salat Asar, Magrib dan Isya,  juga salat Id saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Deretan pelaminan untuk penganten di Lantai Lima.

Seperti halnya masjid, di kawasan ini juga terdapat beduk dari kulit sapi berukuran besar untuk ditabuh.

Ada pula pelaminan, tempat mempelai duduk ketika menikah. Ya, di lantai ini, juga sering dijadikan tempat untuk merayakan pernikahan, lengkap dengan kamar bulan madu.

BACA JUGA: Bacaan Niat Iktikaf di Bulan Ramadan Agar Pahala Berlipat

Di lantai tujuh dan delapan, ada toko besar yang didesain menyerupai mall, serta kios aneka panganan buatan santri setempat.

Lantai delapan bagian Timur, terhampar beragam sayur mayur seperti kangkung, cabai hingga jagung, yang dimasak untuk kebutuhan penghuni pondok.

Tak berhenti di situ, meniti anak tangga yang disediakan pengurus masjid, lantai 10 menjadi puncak bangunan. Di sini terlihat kubah dan menara serta pemandangan yang luas untuk melihat ke bawah.

Menarik Minat Wisatawan Rusia

Keunikan lain, seluruh bangunan dengan luas 2,5 hektare itu dibangun tanpa menggunakan peralatan canggih, alias manual.

Memasang kubah di lantai 10 misalnya, maka pekerja akan membawa material ke atas dengan cara manual.

BACA JUGA: Ngalap Berkah di Masjid Tertua di Surabaya

Pembangunan yang dilakukan berdasarkan hasil istikharah pemimpin pesantren juga menyebabkab masjid tak memiliki cetak biru.

Keunikan itu membuat pondok dan masjid ini menarik minat pelancong. Bahkan, wisatawan dari luar negeri semakin banyak datang.

“Tidak semua wisatawan yang kesini adalah muslim, ada wisatawan dari Rusia, Malaysia dan Brunei. Mereka tertarik dengan pembangunan masjid secara manual,” kata Iphoeng.

Pembangunan pondok dan masjid dilakukan secara manual. Sebab, banyak santri dan umat yang ingin beramal ataupun menyumbang membangun dengan tenaga, bisa terlibat dengan cara ini.

Baca Juga

loading...