Senin, 10 August 2026 02:00 UTC

Ilustrasi: Lagu Menyambut Merdeka. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Lagu kemerdekaan punya musimnya sendiri. Memasuki Agustus, lagu-lagu bertema Indonesia kembali terdengar di sekolah, kantor, pusat perbelanjaan, lingkungan permukiman, sampai panggung kampung.
Di Surabaya, suasananya mudah dikenali. Bendera mulai memenuhi gang, gapura mendapat warna baru, dan pengeras suara sesekali memutar lagu nasional di sela persiapan lomba. Musik kemudian menjadi bagian dari atmosfer kota, sama wajarnya dengan merah putih yang muncul di sepanjang jalan.
Kebiasaan itu bertahan ketika cara masyarakat menikmati musik sudah berubah jauh. Lagu yang dahulu banyak dikenali lewat radio, televisi, kaset, atau upacara kini hidup berdampingan dengan streaming, video pendek, dan playlist digital.
Lagu Lama Bertemu Cara Mendengar yang Baru
Perubahan terbesar mungkin bukan pada lagunya, tetapi pada pintu masuk menuju lagu tersebut. Survei APJII 2024 mencatat pengguna internet Indonesia mencapai 221.563.479 orang, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen.
Survei itu melibatkan 8.720 responden di 38 provinsi. Gen Z menyumbang 34,40 persen dari komposisi pengguna internet, sedangkan milenial mencapai 30,62 persen.
Basis pengguna digital sebesar itu membuat musik semakin mudah berpindah tempat. Sebuah lagu perjuangan tidak harus menunggu diputar radio atau acara resmi. Orang dapat mencarinya ketika sedang menyusun playlist kantor, membuat video lomba, menyiapkan acara RT, atau sekadar ingin menghadirkan suasana Agustus di rumah.
Perilaku mendengarkan musik secara global juga semakin tersebar ke banyak kanal. Laporan Engaging with Music 2023dari IFPI menemukan rata-rata waktu mendengarkan musik mencapai 20,7 jam per minggu. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 43.000 responden berusia 16–64 tahun di 26 negara.
Dalam laporan yang sama, pendengar rata-rata menggunakan lebih dari tujuh metode berbeda untuk berinteraksi dengan musik. Audio streaming mengambil porsi 32 persen dari waktu mendengarkan, video streaming 31 persen, sedangkan radio 17 persen.
Pola tersebut membantu menjelaskan kenapa lagu yang sudah berusia puluhan tahun masih bisa hadir dalam keseharian generasi yang lahir jauh setelah masa perjuangan kemerdekaan.
Agustus Memberi Lagu Sebuah Konteks
Coba bayangkan Minggu pagi di sebuah kampung Surabaya menjelang 17 Agustus. Ada warga mengecat pembatas jalan, anak-anak mencoba lomba, ibu-ibu menyiapkan konsumsi, sementara beberapa orang sibuk memasang umbul-umbul.
Lagu kemerdekaan yang terdengar dari pengeras suara mungkin tidak sedang didengarkan dengan serius. Orang tetap bekerja dan mengobrol. Namun musik memberi latar yang langsung membuat kegiatan biasa terasa seperti bagian dari Agustusan.
Fungsi semacam ini sulit digantikan dekorasi semata. Musik bekerja melalui ingatan. Seseorang bisa mengenali melodi yang dahulu dinyanyikan saat sekolah, lalu bertahun-tahun kemudian mendengarnya kembali ketika menemani anak mengikuti lomba 17 Agustus.
Ada pula unsur kebersamaan yang sangat praktis. Lagu dengan melodi familiar membuat orang lebih mudah ikut bernyanyi meski tidak datang untuk menonton pertunjukan. Pada acara lingkungan, hal kecil seperti itu cukup untuk mencairkan suasana sebelum lomba atau pembagian hadiah dimulai.
Lagu kemerdekaan akhirnya memiliki dua kehidupan sekaligus: sebagai karya yang membawa cerita Indonesia dan sebagai soundtrack kegiatan warga setiap Agustus.
Playlist Digital Mengubah Cara Lagu Ditemukan
Dulu orang harus mengumpulkan lagu satu per satu. Sekarang sebuah playlist dapat berpindah dari satu ponsel ke pengeras suara dalam hitungan detik.
Skala budaya playlist bahkan sudah sangat besar. Pada Agustus 2025, YouTube menyebut penggunanya telah membuat lebih dari 4 miliar playlist, termasuk sekitar 1,8 miliar playlist publik di platform tersebut.
Kemudahan ini memberi peluang menarik bagi lagu kemerdekaan. Pengguna tidak perlu membatasi daftar putarnya pada lagu wajib nasional. Lagu daerah, pop Indonesia, karya musisi lokal, hingga lagu kontemporer bertema kebangsaan dapat ditempatkan dalam satu rangkaian.
Hasilnya bisa jauh lebih ramah untuk acara sehari-hari. Playlist untuk kerja bakti tentu berbeda dengan musik pengiring upacara. Musik untuk lomba anak juga berbeda dengan daftar lagu yang diputar pada malam perayaan warga.
Kurasi semacam itu membuat lagu bertema Indonesia tidak terasa seperti materi yang hanya keluar setahun sekali. Pendengar memperoleh ruang untuk menemukan hubungan baru dengan musik sesuai usia, lingkungan, dan seleranya.
Selera Musik Tetap Punya Akar Lokal
Kemudahan menemukan musik dunia ternyata tidak otomatis menghilangkan kedekatan terhadap musik dari lingkungan sendiri.
IFPI mencatat 57 persen responden global menganggap akses terhadap musik dari berbagai belahan dunia penting.
Pada saat bersamaan, 52 persen menyebut musik memberi mereka rasa identitas sosial dan budaya. Sebanyak 55 persen juga merasa bangga ketika musisi dari negaranya berhasil secara global.
Temuan tersebut menarik bila dibawa ke suasana Agustus di Indonesia. Pilihan musik masyarakat hari ini memang sangat luas, dari pop Korea sampai musik elektronik. Namun pada momen tertentu, lagu yang dekat dengan bahasa, pengalaman, dan sejarah sendiri memperoleh ruang yang berbeda.
Surabaya memiliki lapisan tambahan karena identitas Kota Pahlawan begitu kuat dalam kehidupan kotanya. Nuansa kemerdekaan muncul di ruang publik, kampung, sekolah, pusat aktivitas warga, sampai berbagai acara komunitas.
Tidak semua orang perlu memaknai sebuah lagu dengan cara yang sama. Ada yang tertarik pada liriknya. Ada yang menyukai aransemen baru. Sebagian lainnya mungkin sederhana saja: lagu tersebut mengingatkan pada lomba masa kecil atau suara pengeras suara dari ujung gang.
Lagu Kemerdekaan Tak Harus Terdengar Kuno
Tantangan mempertahankan lagu lama sebenarnya cukup sederhana. Musik harus tetap punya kesempatan untuk ditemukan.
Teknologi justru memperbesar kesempatan tersebut.
Lagu dapat masuk playlist, digunakan sebagai latar video keluarga, dimainkan dalam pertunjukan komunitas, atau diperkenalkan melalui aransemen yang lebih dekat dengan pendengar sekarang.
Tetapi modernisasi juga mempunyai batas yang layak diperhatikan. Dalam studi IFPI 2023, 79 persen responden menilai kreativitas manusia tetap penting dalam penciptaan musik.
Sebanyak 76 persen berpendapat musik atau vokal artis tidak semestinya digunakan oleh AI tanpa izin, sementara 74 persen menolak kloning atau peniruan artis tanpa otorisasi.
Di tengah teknologi yang memungkinkan suara diproduksi dan dimodifikasi semakin mudah, keaslian ternyata masih dihargai pendengar.
Itu pula yang membuat lagu kemerdekaan punya modal panjang. Kekuatan utamanya tidak bergantung pada format penyimpanan atau platform tertentu. Kaset berganti MP3, MP3 bergeser ke streaming, dan playlist sekarang bisa mengikuti pengguna ke mana-mana.
Menjelang sore di Surabaya, musik dari pengeras suara kampung mungkin bercampur dengan suara motor, pedagang lewat, dan anak-anak yang sedang latihan lomba. Besok playlist-nya bisa berubah.
Namun selama lagu kemerdekaan masih mendapatkan tempat dalam pengalaman sehari-hari, suasana Agustus akan tetap mempunyai bunyi yang mudah dikenali.
