Logo

Lagu Daerah Membawa Kekayaan Budaya Indonesia

Lagu yang terdengar sederhana sering menyimpan jejak bahasa, tempat, dan kebiasaan yang jauh lebih panjang.
Reporter:,Editor:

Senin, 10 August 2026 05:00 UTC

Lagu Daerah Membawa Kekayaan Budaya Indonesia

Ilustrasi: Nada dari Nusantara. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Lagu daerah Indonesia terasa sangat pas didengarkan kembali pada Agustus. Saat lagu kemerdekaan memenuhi ruang publik, musik dari berbagai daerah mengingatkan bahwa Indonesia yang dirayakan memang datang dari banyak bahasa, tradisi, dan lingkungan budaya.

Di Surabaya, musik daerah juga tidak selalu hadir dalam suasana formal. Suaranya bisa muncul dari latihan pentas kampung, pertunjukan sekolah, panggung komunitas, hingga acara warga menjelang 17 Agustus. Kadang aransemennya sudah jauh berbeda dari yang dikenal generasi sebelumnya.

Perubahan itu justru menarik. Di tengah akses musik yang semakin global, lagu daerah menghadapi pekerjaan yang cukup sederhana tetapi penting: tetap akrab di telinga.

 

 

Indonesia Memang Punya Banyak Suara

Keragaman lagu daerah tidak muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh di negara dengan bentang budaya yang sangat besar.

Badan Pusat Statistik melalui publikasi berbasis Sensus Penduduk 2010 mengelompokkan masyarakat Indonesia ke dalam lebih dari 1.300 kategori suku bangsa. Sensus tersebut mencatat penduduk Indonesia ketika itu sebanyak 237.641.326 jiwa.

Keragaman tersebut berkelindan dengan bahasa, tradisi lisan, kesenian, lingkungan geografis, sampai kebiasaan masyarakat. Musik kemudian menjadi salah satu medium yang membawa semuanya dari satu generasi menuju generasi berikutnya.

Itulah sebabnya lagu dari Jawa Timur dapat memiliki karakter berbeda dibanding musik tradisional dari Sumatra, Maluku, Sulawesi, Bali, atau Papua. Perbedaan itu terdengar pada bahasa yang digunakan, cara bernyanyi, instrumen, tempo, bahkan tema yang dibicarakan.

Pendengar sebenarnya tidak perlu memahami seluruh latar sejarah sebuah lagu untuk menikmatinya. Sering kali kedekatan dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: melodi yang mudah diingat atau lirik yang pernah didengar dari orang tua.

 

 

Di Surabaya, Musik Daerah Bisa Sangat Cair

Surabaya memberi contoh menarik tentang bagaimana kebudayaan hidup di kota besar. Kota ini bergerak cepat. Jalanan ramai, pusat perdagangan padat, perumahan terus berkembang, dan masyarakatnya datang dari berbagai latar. Namun bahasa Jawa dengan karakter Suroboyoan tetap mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari.

Musiknya ikut bergerak. Lagu berbahasa Jawa hari ini dapat muncul dalam format campursari, keroncong, pop Jawa, dangdut, hingga aransemen akustik yang dimainkan anak muda. Sebagian terdengar dari panggung, sebagian lainnya justru ditemukan melalui layar ponsel.

Perubahan bentuk tersebut kadang memunculkan kekhawatiran bahwa musik tradisional kehilangan keasliannya. Kekhawatiran itu bisa dipahami, terutama ketika aransemen baru menghilangkan terlalu banyak unsur asli.

Namun ada sisi lain yang layak dilihat. Musik yang tidak pernah disentuh generasi baru justru berisiko berhenti menjadi bagian dari keseharian mereka.

Tradisi musik sejak dulu juga tidak sepenuhnya diam. Pemain, penyanyi, instrumen, lingkungan pertunjukan, dan selera pendengar selalu ikut membentuk bagaimana sebuah lagu dimainkan.

 

Ponsel Menjadi Pintu Masuk Generasi Baru

Jalur menemukan musik sekarang sangat berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Survei APJII 2024 memperkirakan jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 221.563.479 orang dari populasi 278.696.200 jiwa tahun 2023. Tingkat penetrasinya sudah mencapai 79,5 persen, naik dari 78,19 persen pada tahun sebelumnya.

Komposisi penggunanya juga relevan untuk masa depan lagu daerah. Gen Z menyumbang 34,40 persen pengguna internet Indonesia, sedangkan milenial mencapai 30,62 persen.

Bagi kelompok usia tersebut, menemukan lagu dari daerah lain tidak memerlukan perjalanan fisik atau menunggu program khusus di televisi. Sebuah rekomendasi video dapat membawa pendengar Surabaya menemukan musik Minang, Batak, Bugis, Bali, Sunda, atau Maluku dalam beberapa menit.

Skala kebiasaan mendengarkan musik juga besar. Studi global IFPI Engaging with Music 2023, yang melibatkan lebih dari 43.000 orang di 26 negara, menemukan rata-rata pendengar menikmati musik selama 20,7 jam setiap minggu. Mereka menggunakan lebih dari tujuh metode berbeda untuk berinteraksi dengan musik.

Ruang 20 jam lebih dalam seminggu itu diperebutkan jutaan lagu. Musik daerah sekarang berdampingan langsung dengan pop internasional, K-pop, hip-hop, elektronik, dan berbagai genre yang sedang viral.

Persaingannya memang berat. Kesempatannya juga jauh lebih terbuka.

 

Lagu Daerah Tidak Harus Menunggu Acara Seremonial

Ada kebiasaan yang tanpa sadar membuat lagu daerah terasa jauh: musik ini terlalu sering ditempatkan dalam acara khusus. Lagu daerah muncul ketika ada pentas budaya, peringatan nasional, pelajaran sekolah, atau perlombaan. Setelah acara selesai, lagunya ikut menghilang.

Padahal kehidupan musik modern bekerja melalui pengulangan sehari-hari. IFPI menemukan pendengar global menggunakan rata-rata lebih dari tujuh cara untuk menikmati musik. Sebanyak 79 persen responden juga merasa pilihan cara mendengarkan musik sekarang lebih banyak dibanding sebelumnya.

Peluangnya berarti tidak terbatas pada panggung. Musik daerah bisa masuk playlist perjalanan, menjadi teman memasak, diputar saat keluarga berkumpul, digunakan dalam konten perjalanan, atau menemani perjalanan mobil dari Surabaya menuju kota lain di Jawa Timur.

Aransemen baru juga dapat menjadi pintu perkenalan. Orang mungkin pertama kali menyukai versi pop atau akustiknya, kemudian mencari versi yang lebih tradisional karena penasaran.

Jalur seperti ini terasa lebih alami dibanding meminta generasi muda mencintai sebuah lagu semata-mata karena lagu tersebut merupakan warisan budaya.

 

Dari Mengenal Lagu, Orang Bisa Mengenal Daerahnya

Musik punya satu kelebihan yang sering luput ketika membicarakan pelestarian budaya: ia mudah bepergian. Seseorang tidak harus berada di Ambon untuk menikmati lagu Maluku.

Pendengar di Surabaya dapat mengenal musik Sumatra Barat tanpa pernah menginjakkan kaki di Padang. Sebuah lagu kemudian dapat memancing rasa ingin tahu terhadap bahasa, makanan, tarian, atau daerah asalnya.

Dalam studi IFPI 2023, 57 persen responden global menganggap akses terhadap musik dari seluruh dunia penting. Sebanyak 55 persen juga merasa bangga ketika musisi dari negaranya meraih keberhasilan secara global.

Ada paradoks yang menyenangkan di era streaming. Pilihan musik manusia menjadi semakin internasional, tetapi akses terhadap karya lokal juga menjadi jauh lebih mudah.

Agustus memberi momentum yang bagus untuk memanfaatkannya. Playlist perayaan kemerdekaan tidak harus berisi lagu dengan karakter yang seragam. Memasukkan lagu dari berbagai daerah justru membuat gambaran Indonesia terdengar lebih utuh.

Sore menjelang malam di Surabaya, mungkin yang terdengar adalah lagu Jawa dari panggung kampung. Beberapa rumah kemudian memutar musik berbeda. Di ponsel seorang warga, bisa jadi ada lagu dari ujung Indonesia yang berjarak ribuan kilometer.

Bagi lagu daerah Indonesia, cara bertahan barangkali sesederhana itu: tetap dimainkan, ditemukan, dan diberi kesempatan menjadi bagian dari kebiasaan mendengar musik hari ini.