Jumat, 14 August 2026 00:00 UTC

no image available
JATIMNET.COM - Paket datang lagi. Di sebuah gang Surabaya, suara motor berhenti sebentar, disusul sapaan dari pagar. Beberapa menit kemudian kurir sudah bergerak menuju alamat berikutnya.
Adegan itu begitu biasa hingga mudah dianggap sepele. Padahal kebiasaan menerima barang di rumah merupakan bagian dari perubahan besar cara masyarakat Indonesia berbelanja.
Kurir menjadi sosok yang mempertemukan layar ponsel dengan dunia nyata: barang yang semalam masih berada di keranjang belanja, beberapa hari kemudian sudah berada di depan pintu.
Skalanya terus membesar. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah usaha e-commerce Indonesia pada 2024 meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam Statistik E-Commerce 2024, aktivitas perdagangan daring juga masih kuat terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Bagi Surabaya, kota perdagangan sekaligus simpul distribusi utama di Jawa Timur, pertumbuhan tersebut terasa langsung di jalan: lebih banyak paket, lebih banyak rute, serta ekspektasi pengiriman yang makin cepat.
Satu Klik Bisa Berakhir di Puluhan Kilometer Jalan
Belanja daring terlihat sederhana dari sisi pembeli. Pilih barang, tentukan alamat, bayar, lalu menunggu notifikasi. Di belakangnya terdapat rangkaian yang lebih panjang. Barang perlu diproses penjual, disortir, berpindah antargudang atau titik distribusi, masuk kendaraan pengiriman, kemudian dibawa kurir sampai ke alamat terakhir.
Nilai transaksi e-commerce Indonesia sepanjang 2024 mencapai sekitar Rp1.288,93 triliun, berdasarkan data BPS yang dihimpun dalam kajian Kementerian Perdagangan. Nilainya tumbuh 17,08 persen dibandingkan 2023. Sekitar 84,21 persen transaksi berasal dari kanal non-marketplace seperti media sosial dan aplikasi pesan instan, sedangkan marketplace menyumbang sekitar 15,79 persen.
Komposisi itu penting karena paket ternyata tidak selalu lahir dari tombol beli sebuah marketplace besar. Ada pesanan melalui WhatsApp, toko Instagram, situs milik penjual, hingga transaksi langsung usaha kecil dengan pelanggan tetap.
Kurir akhirnya menghadapi bentuk alamat dan karakter pengiriman yang sangat beragam. Sebuah paket bisa menuju apartemen di pusat kota, rumah di perkampungan padat, ruko, kantor, pasar, atau gang yang hanya cukup dilewati sepeda motor. Di Surabaya, variasinya mudah ditemui dalam satu hari perjalanan.
Kurir Paket Surabaya Bertemu Karakter Kota yang Berbeda
Rute pengiriman di kawasan Tunjungan tentu berbeda dengan permukiman di Tambaksari. Jalan besar memberi akses mudah, tetapi lalu lintas dan lokasi berhenti menjadi persoalan. Gang permukiman mungkin lebih tenang, namun nomor rumah dan akses masuk bisa lebih membingungkan.
Belum lagi panas Surabaya yang sering membuat pekerjaan lapangan terasa lebih berat menjelang siang. BPS mencatat 66,87 persen usaha e-commerce Indonesia pada 2024 melayani pengiriman ke Pulau Jawa, porsi terbesar dibandingkan wilayah lain.
Sumatra berada pada 19,17 persen, Kalimantan 6,87 persen, Bali dan Nusa Tenggara 6,08 persen, Sulawesi 5,67 persen, sedangkan Maluku dan Papua 1,55 persen.
Konsentrasi itu berkaitan dengan kepadatan konsumen, usaha, infrastruktur digital, serta jaringan logistik yang lebih matang di Jawa.
Namun, kepadatan pasar juga berarti ritme distribusinya tinggi. Kurir yang terlihat membawa beberapa paket dalam tas atau keranjang motor sebenarnya berada di bagian paling akhir dari jaringan yang volumenya sangat besar.
Pada tahap terakhir inilah persoalan kecil sangat menentukan. Nomor rumah yang tidak terlihat, pin lokasi yang bergeser, nomor telepon tidak aktif, penerima sedang keluar, atau gang dengan nama serupa dapat menambah waktu beberapa menit.
Kalikan gangguan kecil itu dengan banyak alamat dalam sehari, dan selisih waktunya menjadi berarti.
Kebiasaan Belanja Berubah, Ekspektasi Ikut Naik
Perubahan pekerjaan kurir tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya jumlah masyarakat yang hidup berdampingan dengan internet.
Survei APJII 2024 memperkirakan Indonesia memiliki 221.563.479 pengguna internet dengan penetrasi mencapai 79,5 persen penduduk.
Angka penetrasi tersebut naik dari 78,19 persen pada 2023. Sebagai pembanding, pada 2018 penetrasi internet Indonesia masih sekitar 64,8 persen.
Ketika semakin banyak aktivitas pindah ke layar, cara konsumen memandang pengiriman juga berubah. Dulu orang relatif terbiasa menunggu barang beberapa hari tanpa mengetahui posisinya.
Sekarang perjalanan paket dapat dipantau hampir setiap tahap. Ada status barang disortir, dibawa ke pusat distribusi, menuju kota tujuan, hingga sedang dibawa kurir.
Transparansi memberi kenyamanan, sekaligus menciptakan ekspektasi baru. Ketika tulisan “sedang diantar” muncul pada aplikasi, sebagian penerima membayangkan paket segera sampai.
Kenyataannya, satu kurir dapat membawa banyak alamat dalam satu rute. Urutannya harus disesuaikan dengan wilayah, akses jalan, kondisi lalu lintas, hingga efisiensi perjalanan.
Di kota sebesar Surabaya, jarak beberapa kilometer pun tidak selalu identik dengan perjalanan singkat.
Alamat Jelas Bisa Membuat Pekerjaan Jauh Lebih Ringan
Ada bagian dari pekerjaan kurir yang sebenarnya dapat dibantu pelanggan tanpa usaha besar. Alamat yang lengkap masih sangat berguna meskipun aplikasi sudah menyediakan titik lokasi. Nama jalan, nomor rumah, RT/RW bila diperlukan, patokan yang relevan, serta nomor telepon aktif dapat memperpendek pencarian.
Memberikan pin lokasi yang tepat juga berbeda dengan sekadar membagikan lokasi kawasan. Pada perumahan besar atau kampung dengan banyak cabang gang, selisih beberapa ratus meter bisa membawa kurir ke jalan berbeda. Hal sederhana lain adalah kesiapan menerima paket.
Untuk pembayaran di tempat, menyiapkan pembayaran sebelum kurir datang mengurangi waktu berhenti. Bila rumah kosong, informasi kepada anggota keluarga atau penjaga rumah dapat mencegah pengiriman ulang.
Kebiasaan tersebut tampak remeh dari sisi satu pelanggan. Dari sudut rute yang terdiri atas banyak alamat, beberapa menit yang tersimpan di tiap titik dapat membantu perjalanan sepanjang hari.
Di Balik Belanja Cepat, Ada Pekerjaan yang Sangat Fisik
Ekonomi digital sering dibicarakan melalui aplikasi, data transaksi, pembayaran elektronik, dan kecanggihan teknologi. Namun ujung dari perdagangan barang tetap sangat fisik.
Kardus perlu diangkat. Motor tetap menempuh jalan. Paket harus dibawa menuju pintu rumah.
BPS sendiri menemukan penggunaan marketplace memungkinkan penjual menjangkau pasar yang lebih luas dan mengalirkan transaksi lintas wilayah Indonesia melalui beragam metode serta jasa pengiriman.
Infrastruktur digital memperluas jarak antara penjual dan pembeli, sementara sektor logistik menghubungkan jarak tersebut secara nyata. Itulah alasan kurir semakin akrab dengan kehidupan perkotaan.
Menjelang 17 Agustus, ruas-ruas Surabaya mulai penuh merah putih. Kurir melewati gapura kampung yang dihias warga, pedagang yang mulai ramai, jalan pusat kota yang padat, lalu masuk lagi ke gang untuk mencari nomor rumah berikutnya.
Paket yang sampai mungkin hanya berisi kaus, makanan, perlengkapan rumah, hadiah kecil, atau barang kebutuhan sehari-hari. Bagi penerima, urusannya selesai saat kardus berpindah tangan. Bagi kurir, ponsel kembali dibuka. Masih ada titik lain di peta.
