Kisah Relawan Mudik, Bekerja untuk Biayai Adik Sekolah

Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Rabu, 5 Juni 2019 - 15:14

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Jutaan orang pemudik kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan sanak saudara pada Lebaran. Tak jarang uang tabungan setahun ludes untuk membiayai silaturahmi setahun sekali itu.

Bagi sebagian orang, mudik memang identik dengan menghabiskan uang. Tapi tidak bagi Sandi, pelajar kelas 3 SMK Gilimandala. Bagi pemuda 18 tahun itu, musim mudik adalah waktu bekerja mengumpulkan uang.

“Tugas saya ikut mengatur antrean pemudik. Tinggal ikuti intruksi jalur antrean mana yang akan masuk ke kapal," katanya pada Jatimnet.com, awal Juni 2019.

Sandi adalah relawan mudik Pelabuhan Gilimanuk di Jembrana, Bali. Hari itu, Jatimnet.com melihatnya mengenakan kaus biru. Dia berdiri di tengah kepulan asap kendaraan bermotor dan debu. Untuk kerja sepanjang 12 jam per hari, ia mendapat upah Rp 100 ribu.

BACA JUGA: Setengah Juta Pemudik Seberangi Selat Bali Sebelum Lebaran

Ia mengatakan uang hasil kerjanya akan digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolahnya, serta untuk adiknya yang kini masih duduk di bangku kelas 4 SD. "Ibu sudah meninggal, kami tinggal dengan bapak, kakek, dan nenek," katanya.

Dalam bekerja, Sandi tak sendirian. Ia bersama sembilan pelajar lain menjadi relawan mudik di pelabuhan pada Lebaran tahun ini.

Tugas mereka menjaga pintu antrean kendaraan yang mengular di halaman parkir Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Berdiri di depan barisan kendaraan, mereka menjaga portal di Dermaga 1 dan Dermaga Landing Craft Machine (LCM).

BACA JUGA: Sensasi Pijatan di Atas Kapal Penyeberangan Selat Bali

Dalam bekerja, relawan dituntut selalu berkoordinasi dengan pegawai pelabuhan, tentara, dan polisi yang bertugas di pelabuhan. Mereka pun dituntut sabar, karena tak jarang kendaraan yang tak terburu-buru masuk kapal membunyikan klakson berkali-kali. Suaranya bising memekakkan telinga.

Bagi sebagian relawan, bekerja pada masa mudik juga masa mengumpulkan uang saku Lebaran. Angger (19), relawan rekan Sandi, mengatakan tak ingin meminta uang dari orang tua. Ia berniat memenuhi kebutuhan lebaran dari hasil kerjanya sendiri.

Pemuda yang baru lulus SMA itu menceritakan tahu ada lowongan relawan mudik pelabuhan dari pengumuman kepala desa. Menurut dia, tiap tahun Kepala Desa Gilimanuk mengabarkan lowongan itu pada warganya.

"Ditawari mau atau tidak, kalau mau ya disuruh melamar. Terus saya ajukan lamaran," katanya.

Baca Juga

loading...