Logo

Kisah Pamujo, Tukang Kayu yang Dua Dekade Ini Menekuni Servis Beduk

Reporter:,Editor:

Selasa, 10 March 2026 14:00 UTC

Kisah Pamujo, Tukang Kayu yang Dua Dekade Ini Menekuni Servis Beduk

Pamujo sedang memperbaiki beduk di rumahnya yang berada di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Badadan, Kabupaten Ponorogo. Foto: Satria

JATIMNET.COM,  Ponorogo – “Tok-tok”, suara itu terdengar berkali-kali dari teras salah satu rumah di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Badadan, Kabupaten Ponorogo.

Bukan bersumber dari pintu yang diketok. Bunyi itu juga tidak berasal dari aktivitas tukang batu yang sedang bekerja. Ternyata, dari proses perbaikan atau servis beduk yang dijalankan oleh Pamujo di kediamannya tersebut.

Sambil berdiri, ia sedang memasang kulit sapi pada beduk, Selasa siang, 10 Maret 2026. Palu yang digenggam di tangan kanannya sering kali dipukulkan ke badan beduk. Upaya ini untuk menancapkan pantek atau pasak yang bakal “mengunci” lembaran kulit beduk.

Di saat yang sama, seorang laki-laki yang jongkok di bawah Pamujo ikut menarik kulit sapi yang diikat tali tampar. Caranya, tali tampar itu diikat pada sebuah besi panjang. Lantas, besi yang diganjal bagian bawah beduk itu ditekan ke bawah.

Metode ini merupakan bagian terpenting dalam proses perbaikan beduk. Sebab, menentukan tingkat kekencangan kulit sapi dan memengaruhi kenyaringan suara ketika beduk ditabuh.

BACA: Dari Bejijong Mojokerto, Rasa Telur Asin Asap Ini Menyebar ke Luar Kota

Aktivitas ini dilakoni Pamujo sejak dua dekade lalu. Awalnya, dengan berbekal keterampilannya sebagai tukang kayu, pria yang kini berusia 78 tahun ini mencoba memperbaiki beduk milik masjid di sekar tempat tinggalnya.

Dengan pelan tapi pasti, usaha jasa dari pria yang akrab dipanggil Mbah Jo ini mulai dikenal. Sejumlah beduk mulai berdatangan ke rumahnya untuk diperbaiki. Maka, sejak 2028 telah ratusan beduk diperbaikinya.

Keahliannya membuat banyak pengurus masjid mempercayakan perawatan alat tabuh tradisional tersebut kepadanya, terutama saat bulan Ramadan.

“Tukang servis beduk masjid, bedug gajah-gajahan, kendang juga bisa, tapi kebanyakan beduk masjid. Kalau bulan puasa begini ya ada saja yang mau servis,” kata Mbah Jo saat ditemui di rumahnya.

Beduk yang datang ke rumahnya mayoritas berukuran besar dari masjid dan musala. Semuanya ingin dipastikan kembali nyaring menjelang malam takbiran. Kerusakan beduk, seperti kulit sapi semakin menipis atau robek mengakibatkan suaranya tak lagi nyaring saat ditabuh.

“Kebanyakan kerusakannya karena terlalu kencang menabuhnya. Jadi, gampang robekk,” jelas mbah Jo.

BACA: Menjemput Kenangan di Lorong Waktu, Serunya Berburu Kuliner Lawas di Pasar Giri Biyen

Untuk biaya perbaikan, Mbah Jo menyesuaikan dengan jenis kerusakan. Jika perbaikan hanya pada satu sisi beduk, ia memasang tarif Rp900 ribu. Rinciannya, Rp300 ribu untuk biaya jasa pemasangan dan Rp600 ribu untuk membeli kulit.  “Jadi, kalau kanan-kiri Rp 1,5 juta,” ujar Pamujo.

Selain kulit, bagian lain yang kerap diperbaiki adalah pantek atau pengikat kulit bedug. Jika pantek rusak, proses pengerjaan menjadi lebih rumit karena harus diganti satu per satu agar tetap presisi.

Dari rumahnya , Mbah Pamujo terus menjaga tradisi. Lewat ketelatenan tangannya, beduk-beduk masjid kembali siap ditabuh. Bunyi yang dihasilkan selalu mengiringi gema takbir di seantero jagat raya.