Kisah “Azan Pitu” di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Hari Istiawan

Reporter

Hari Istiawan

Sabtu, 18 Mei 2019 - 22:31

JATIMNET.COM, Cirebon – Tradisi “Azan Pitu” atau mengumandangkan azan yang dilakukan tujuh orang setiap Salat Jumat hanya dilakukan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon, Jawa Barat.

Seorang muazin 'azan pitu' yang juga pengurus DKM Masjid Agung Sang Cipta Rasa Moh Ismail menceritakan, asal mula dikumandangkannya azan tujuh itu merupakan siasat Nyi Mas Pakung Wati yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.

"Saat itu Masjid Agung Sang Cipta Rasa mendapat serangan dari Menjangan Wulu," kata Ismail.

BACA JUGA: Liem Fuk San, Dai dari Masjid Cheng Hoo Surabaya

Ismail menceritakan, Menjangan Wulu merupakan tokoh sakti yang cemburu karena banyak masyarakat Cirebon berbondong-bondong memeluk Islam.

Menurutnya ornamen masjid yang kental dengan agama Hindu membuat masyarakat penasaran untuk datang ke masjid, terlebih lagi saat azan dikumandangkan, masyarakat yang saat itu belum memeluk Islam ditambah penasaran.

"Menjangan Wulu ini tidak suka dengan banyaknya masyarakat yang masuk Islam dan akhirnya mencari tahu kenapa banyak orang datang ke masjid, kesimpulannya ternyata karena azan," ujarnya.

BACA JUGA: Ngalap Berkah di Masjid Tertua di Surabaya

Menjangan Wulu kemudian melancarkan siasat liciknya agar azan tidak berkumandang di masjid. Melalui kesaktiannya dia menaruh racun di atas masjid.

Racun itu kata Ismail, bereaksi ketika ada orang azan dan menyerang muazin yang mengakibatkan sakit akhirnya tidak bisa azan.

"Kemudian Nyi Mas Pakung Wati memerintahkan agar muazinnya itu jangan satu," tuturnya.

Instruksi Nyi Mas Pakung Wati pun langsung dilaksanakan oleh para muazin dan azan kemudian dikumandangkan oleh dua orang akan tetapi masih terkena serangan racun.

BACA JUGA: Berkunjung ke Masjid Tua Sewulan di Kabupaten Madiun

Dan muazinnya terus ditambah untuk menangkal serangan racun itu sampai enam orang yang azan, akan tetapi masih juga terkena serangan racun.

"Kemudian di tambah lagi, di mana yang azan jadi tujuh orang, ternyata sampai selesai azan tidak ada serangan racun," katanya.

Saat azan dikumandangkan oleh tujuh muazin, dikatakan Ismail, tiba-tiba dari atap masjid terdengar ledakan keras dari racun milik Menjangan Wulu itu. Azan tujuh pun berlanjut setiap kali salat lima waktu yang tujuannya untuk mengantisipasi serangan susulan.

Setelah dirasa sudah kondusif, azan tujuh dialihkan hanya untuk saalat jumat dan itu berlanjut sampai sekarang masih dikumandangkan.(ant)

Baca Juga

loading...