Liem Fuk San, Dai dari Masjid Cheng Hoo Surabaya

Dyah Ayu Pitaloka

Senin, 13 Mei 2019 - 18:24

JATIMNET.COM, Surabaya – Hasan Basri sedang mengingat jadwal undangan tauziah selama Ramadan kali ini. Pria terlahir dengan nama Liem Fuk San itu, mengaku banyak menerima undangan memberi ceramah agama, meskipun tak pernah pasang tarif.

“Dibayar Rp 2.500 pernah, sampai merasakan seperti dai yang pasang tarif, juga pernah,” kata Hasan, Kamis 9 Mei 2019.

Laki-laki kelahiran Palembang 26 Desember, 34 tahun lalu, sehari-harinya menjadi Ketua Pelaksana Harian di Masjid Cheng Hoo Surabaya.

Lulusan UIN Sunan Ampel tahun 2009 itu, saat kecil tak pernah menduga akan menjadi dai dan berkegiatan di masjid.

Lahir di keluarga beragama Budha, Hasan kecil dikenal sangat nakal hingga merepotkan orang tuanya. Ditambah matanya yang sipit, dan kulitnya yang kuning, membuat Hasan sering terlibat pertengkaran dengan anak sebayanya.

BACA JUGA: Suasana Ramadan di Masjid Cheng Hoo Surabaya

“Teman-teman sering mengejek saja dengan sebutan Cino Kulup (Cina tidak sunat). Bapak kemudian mengirim saya ke pondok pesantren Wali Songo di Ponorogo, waktu umur 13 tahun, biar tidak nakal,” kata Hasan.

Di usia 20 tahun, Hasan mantap mengikrarkan diri menjadi muslim, diikuti bapaknya, dan kemudian ibunya. Menurutnya, memeluk Islam tak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak pengalaman spiritual yang membuatnya yakin menjadi muslim.

“Sampai sekarang, saya sering diminta menyisipkan pengalaman jadi mualaf ketika ceramah,” katanya.

Tak Pasang Tarif

Pendai dengan dua anak itu mengingat pengalaman yang paling berkesan di awal kegiatannya menjadi dai.

Saat itu, di tahun 2008, sekelompok mahasiswa Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), kebingungan mencari pengisi ceramah agama, di sebuah kegiatan Ramadan, di perkampungan nelayan, di Kenjeran.

Hasan menawarkan diri, karena tak ada satupun penceramah yang bisa datang sore itu.

“Ceramah di kampung nelayan, mereka kemudian memberikan amplop dan tak bisa saya tolak. Waktu itu kalau dirupiahkan sekarang ya sekitar Rp 2.500,” katanya mengingat.

Hasan tak sakit hati. Setelah itu, banyak permintaan selalu dipenuhinya.

Hingga tahun 2011, seorang jurnalis setempat memprofil kegiatannya secara besar. Dalam profil itu, Hasan menyebut jika ia tak pernah pasang tarif.

Akibatnya, namanya meroket, dan undangan ceramah pun semakin membanjir. Hasan pernah menerima hingga Rp 10 juta, hanya untuk ceramah sesaat.

Namun, ia tak pernah pasang tarif sejak itu. “Kata teman saya, yang wartawan itu, kalau saya pasang tarif, dia bakal pensiun jadi wartawan,” katanya.

BACA JUGA: Tarawih di Mall, Antara Ibadah dan Belanja

Ceramah Sambil Bercanda

Undangan ceramah banyak berdatangan terutama di seputar hari besar Islam. Seperti Idul Adha, Ramadan, dan juga hajatan tertentu.

Ia menyebut sejumlah daerah telah didatangi, seperti sejumlah wilayah di Madura, berbagai perkantoran dan pabrik di Surabaya, Purwokerto, Banyuwangi, Rembang, hingga Kalimantan.

Bahkan, ia pernah diundang dua hingga tiga kali di tempat yang sama, dalam satu tahun. Tak jarang, Hasan harus menolak permintaan tuan rumah dengan halus, bila dirasa sudah terlalu sering.

“Di Purwokerto saya pernah sampai tiga kali setahun, kali ke empatnya, saya sarankan untuk mencari dai yang lain dulu, gantian. Biar warganya juga tidak bosan,” katanya.

BACA JUGA: Ramadan, Produsen Cincau Madiun Ketiban Rezeki

Ketika berceramah, Hasan mengaku sering melibatkan beragam materi lawakan yang didapat dari sesama dai, salah satunya dari Jadi Galajapo.

Menurutnya, lawakan penting agar pendengar tidak bosan dan bersemangat mendengarkan materi.

“Pernah ada yang teriak, “lapar”, “kapan makan”, ya dijawab dengan lelucon, “ Lo kalo lapar berarti normal’,” katanya menyebutkan salah satu lelucon di atas panggung.

Sebagai dai, menurutnya harus sabar dalam menghadapai penonton. Tak boleh gampang emosi.

Bahkan jika ada yang menghinanya karena bermata sipit dan terlahir sebagai keturunan Cina.

“Tidak perlu emosi, besarnya Islam itu bukan dengan ejekan, tapi dengan silaturahmi, dengan kasih sayang, tanpa membedakan suku, dan ras, sehingga menjadi Islam Kamil, Islam sempurna seperti yang diajarkan Rasulullah (Nabi Muhammad SAW).

Baca Juga

loading...