Logo

Khawatir Saluran Irigasi Rusak, Petani Tolak Tambang Galian C di Mojokerto

Reporter:,Editor:

Rabu, 11 March 2026 04:30 UTC

Khawatir Saluran Irigasi Rusak, Petani Tolak Tambang Galian C di Mojokerto

Beberapa warga membentang poster penolakan aktivitas tambang galian C di wilayah Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto yang berpotensi merusak saluran irigasi pertanian..Foto: Hasan

JATIMNET.COM, Mojokerto – Aktivitas tambang galian C di lahan pertanian yang masuk Dusun Sambikerep, Desa Pekukuhan, Kacamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto mendapat penolakan dari warga.

Penolakan ini datang dari beberapa warga Desa Mojotamping, Kecamatan Bangsa. Mereka bersama sejumlah mahasiswa sengaja mendatangi lokasi tambang untuk mendesak aktivitas tambang dihentikan, Rabu pagi, 11 Maret 2026.

Dalam aksi itu, perwakilan warga juga mendesak agar alat berupa berupa backhoe ditarik dari area tambang. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi merusak lahan pertanian produktif milik warga.

Selain itu, warga juga khawatir kegiatan tersebut dapat mengganggu jaringan irigasi yang selama ini menjadi sumber pengairan sawah para petani.

Sultoni, salah seorang warga mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat yang menolak tambang galian C adalah petani. Mereka menggantungkan hidup dari lahan pertanian di sekitar lokasi.

“Warga, utamanya para petani menolak adanya galian C ini karena merusak irigasi. Kalau ini diteruskan pasti akan rusak. Dampaknya tanah bisa jadi tandus dan tidak bisa ditanami lagi,” katanya di lokasi.

Sultonimenjelaskan bahwa, penggalian diketahui baru dimulai beberapa hari lalu, tepatnya pada Sabtu 7 Maret 2026.

Namun hingga kini, menurutnya tidak ada pemberitahuan maupun komunikasi dari pihak pengusaha kepada warga ataupun pemerintah desa.

“Petani kumpul semua menolak karena khawatir irigasi rusak. Tapi pengusaha tetap diteruskan, tidak bilang sama petani dan pihak desa, langsung menggali saja,” ujarnya.

Kepala Desa Mojotamping, Sumanan juga mengaku pihak tidak pernah menerima laporan ataupun pemberitahuan mengenai rencana kegiatan penambangan tersebut.

“Semua kegiatan di sini, dari awal tidak pernah melapor ke desa. Setelah ada gejolak, semua warga kelompok tani saya panggil ke kantor," terangnya.

Ia menambahkan, keberatan warga terutama dipicu oleh kekhawatiran akan rusaknya lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat desa.

“Hari ini saya putuskan untuk berhenti atau menarik backhoe dari lokasi. Penduduk saya tidak setuju dengan adanya galian ini, karena betul-betul merusak. Dulu sudah pernah ditolak, kok sekarang masuk lagi,” tegasnya.

Penolakan terhadap aktivitas penambangan tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan mahasiswa. Perwakilan PMII Mojokerto Fikri Ahmad menyampaikan bahwa pihaknya turun langsung ke lokasi setelah menerima laporan dari masyarakat mengenai dugaan aktivitas galian C ilegal.

“Setelah aksi demo menolak galian C ilegal di Polres Mojokerto, selang tiga hari kami mendapatkan aduan dari masyarakat adanya galian C ini,” ujarnya.

Fikri mengatakan warga mengeluhkan dampak yang mungkin timbul dari aktivitas penggalian tersebut, terutama terkait kerusakan saluran irigasi dan lahan pertanian di sekitar lokasi.

“Warga mengeluh dengan adanya galian C ini, sehingga kami melakukan pendampingan ke lokasi untuk melakukan penutupan galian C,” pungkasnya.