Kementerian ESDM Kaji Potensi Cadangan Batu Bara Bawah Permukaan

Teknologi UCG akan diujicobakan di Kalimantan Timur
David Priyasidharta

Sabtu, 11 Mei 2019 - 14:17

JATIMNET.COM, Jakarta - Patra peneliti Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (TekMIRA) Kementerian ESDM akan melakukan kajian potensi cadangan batu bara untuk pemanfaatan teknologi gasifikasi batubara bawah permukaan Underground Coal Gasification (UCG) di salah satu blok tambang batu bara di Kalimantan Timur. Kegiatan ini akan berlangsung selama empat bulan dari 1 Juni 2019 sampai 30 September 2019.

"Kajian meliputi unsur geologi, hidrologi, hidrogeologi, geoteknik dan keekonomian, sehingga akan didapatkan kajian yang komprehensif terkait keekonomian, keamanan dan nilai cadangan batu bara untuk pengembangan UCG di perusahaan batu bara di Kalimantan Timur," ungkap Kepala Puslitbang tekMIRA, Hermansyah di Jakarta, Jumat 10 Mei 2019.

Hermansyah menuturkan, kajian ini dilatarbelakangi oleh status tambang terbuka perusahaan yang sudah mencapai kedalaman 200 meter. Kondisi ini hampir mencapai pit limit, dimana batas lubang galian tambang batu bara terbuka baik luas permukaan tambang maupun sisi/dinding tambang dan luas dasar tambang yang dapat dibuka, mencapai batas ekonomis serta keamanan.

BACA JUGA: India dan Cina Kurangi Suplai Batu Bara Indonesia

Hal ini menyebabkan ongkos produksi akan semakin besar dibandingkan dengan nilai jual batu bara tersebut. Akan tetapi, sumber daya batu bara di bawah 200 meter tentunya masih sangat besar dan sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan secara optimal, apalagi luas area perusahaan batu bara tersebut lebih dari 7.000 hektar.

Puslitbang Tekmira menawarkan salah satu metode pemanfaatan batu bara di kedalaman lebih dari 200 meter, dengan teknologi Gasifikasi Batubara Bawah Permukaan (UCG) dilakukan dengan mengekstrak dan mengkonversikan batu bara di bawah permukaan menjadi synthetic nature gas (syn-gas/SNG) secara insitu.

Teknologi unkonvensional ini tidak memerlukan penggalian batuan penutup dan lapisan batu bara terlebih dahulu. Selain dapat dimanfatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik, teknologi non-konvensional ini juga menghasilkan syngas untuk berbagai keperluan seperti bahan kimia industri petrokimia (amonia, methanol, dan sebagainya) dan pembuatan BBM/BBG sintentis dan bahan kimia industri.

UCG juga menghasilkan karbondioksida (CO2) sebagai bahan enhance oil recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi minyak nasional. UCG. Biaya produksi syngas UCG lebih murah dibandingkan impor LNG.

BACA JUGA: Indonesia Butuh Energi Terkait Batu Bara Berkelanjutan

Teknologi UCG membantu perusahaan batu bara dalam menggunakan batubara lapisan dalam, yang secara ekonomi tidak layak ditambang. Biaya modal dan operasionalnya lebih rendah dibandingkan gasifikasi batu bara di permukaan. Perusahaan pun dapat mengurangi dampak lingkungan serta biaya reklamasi dan pasca tambang karena tidak merubah bentang alam.

Teknologi UCG telah dimanfaatkan secara komersial di Uzbekistan sejak tahun 1945 sampai sekarang. Sejumlah negara seperti Selandia Baru, China, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Afrika Selatan dan India. Juga telah melakukan penelitian dan ujicoba UCG.

Berdasarkan data dari Badan Geologi (2013), menunjukkan ada sekitar 40 miliar ton batu bara yang berada di bawah tanah (kedalaman lebih dari 150 meter) yang dapat menjadi sumber energi untuk listrik. Diperkirakan potensi gas batubara yang dapat dihasilkan dari teknologi UCG sekitar 13,5 kali lipat dari potensi gas saat ini.

 

Baca Juga

loading...