Indonesia Butuh Energi Terkait Batu Bara Berkelanjutan

Rochman Arief

Senin, 1 April 2019 - 10:28

JATIMNET.COM Jakarta – Pemerintah Indonesia perlu melaksanakan kebijakan terkait transisi energi batu bara secara berkelanjutan. Sebab komoditas tersebut sangat diandalkan di sejumlah provinsi untuk kepentingan industri.

"Yang menjadi pertanyaan, kalau ingin transisi berkeadilan, apa sih yang harus diantisipasi dan dilakukan," kata Direktur Institute for Essential Serices Reform (IESR) Fabby Tumiwa dalam seminar bertajuk Transisi Energi Global dan Masa Depan Batubara di Indonesia di Jakarta, Senin 1 April 2019.

Menurutnya, salah satu faktor yang perlu diperhatikan antara lain produksi batu bara yang meningkat signifikan di tataran global, sehingga menyebabkan tekanan internasional agar Indonesia mengekspor batu bara.

Apalagi, ia mengingatkan bahwa Indonesia sejak  2017 menjadi negara pengekspor terbesar di dunia, melampaui Australia yang sebelumnya dikenal sebagai negara pengekspor terbesar komoditas batu bara.

BACA JUGA: PT Timah Reklamasi Bekas Tambang Seluas 400 Hektar

Febby juga mengingatkan bahwa penggunaan batu bara masih dominan dan dipakai di 78 negara di dunia serta menghasilkan 40 persen dari seluruh listrik dunia.

Namun perlu juga diperhatikan bahwa di sejumlah negara terdapat kebijakan dan rencana untuk mengurangi bahkan menghilangkan PLTU batu bara. Dari 78 negara, ada sekitar 30 negara yang berencana menutup PLTU Batu bara sebelum 2030 atau tidak lagi membangun PLTU batu bara yang baru.

Di dalam negeri semakin hari batu bara juga menjadi komoditas andalan yang dinilai hampir sama seperti sawit. “Kebutuhan di dalam negeri juga memiliki dinamikanya,” ucapnya.

Konsumsi listrik Indonesia meningkat sekitar 26 persen dalam empat tahun terakhir, dari 812 kWh per kapita pada 2014 menjadi 1.021 kWh per kapita pada 2017.

BACA JUGA: Jawa Bali Dapat Pasokan Energi Listrik 660 MW

Lebih dari 88 persen listrik yang dihasilkan, berasal sekitar 60 persen dari batu bara, 22 persen dari gas alam, dan enam persen dari minyak, dan hanya 12 persen yang dihasilkan dari energi terbarukan.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN terbaru yang diterbitkan pada Februari 2019, kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan meningkat dari 90 juta ton per tahun saat ini menjadi sekitar 150-160 juta ton pada tahun 2028-2030.

Selama empat tahun terakhir pula, pendapatan batu bara yang diterima mencapai rata-rata sekitar Rp 31 triliun per tahun atau mencapai rata-rata mendekati 80 persen dari total pendapatan non migas. Tetapi kontribusi pendapatan batu bara untuk anggaran negara hanya sekitar 1,5 - 2 persen dari total pendapatan negara.

Sumber dan produksi batu bara Indonesia sebagian besar hanya tersebar di empat provinsi yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Bahkan di Kaltim, sektor batu bara menyumbang sekitar 35 persen dari Produksi Domestik Bruto (PDB) provinsi pada tahun 2017. (ant)

Baca Juga

loading...