Selasa, 30 June 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Menulis di tengah kota. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kebiasaan menulis mungkin terlihat semakin jarang dibicarakan di tengah dominasi video pendek, podcast, dan media sosial.
Namun di balik derasnya arus informasi digital, aktivitas menulis justru tetap bertahan sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengolah pikiran, menyimpan gagasan, dan membangun kemampuan berpikir yang lebih terstruktur.
Fenomena ini menarik karena terjadi di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi internet. Laporan Digital Indonesia 2025 menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai sekitar 212 juta orang atau 74,6 persen dari total populasi.
Pada saat yang sama, pengguna media sosial mencapai sekitar 143 juta akun identitas aktif. Angka tersebut menunjukkan masyarakat semakin terbiasa mengonsumsi dan memproduksi konten digital setiap hari.
Di tengah lingkungan yang sangat digital tersebut, menulis tidak lagi sekadar aktivitas akademik atau pekerjaan profesional. Menulis berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern, mulai dari membuat jurnal pribadi, mencatat ide bisnis, menulis konten media sosial, hingga menyusun refleksi harian.
Menulis Menjadi Ruang Berpikir yang Semakin Langka
Era digital membuat manusia terbiasa menerima informasi dalam hitungan detik. Notifikasi datang tanpa henti. Konten berganti setiap beberapa detik. Akibatnya, banyak orang mengonsumsi informasi lebih cepat daripada mengolahnya.
Di sinilah menulis memiliki fungsi yang unik. Ketika seseorang menulis, otak dipaksa memperlambat proses berpikir. Ide yang semula berantakan harus disusun menjadi kalimat yang masuk akal.
Menulis juga membantu seseorang membedakan antara asumsi dan fakta. Proses ini membuat pemikiran menjadi lebih terstruktur dibandingkan sekadar menyimpan gagasan di kepala.
Tidak mengherankan jika banyak profesional, mahasiswa, peneliti, hingga pelaku bisnis tetap mempertahankan kebiasaan menulis meskipun hampir seluruh aktivitas mereka sudah berbasis digital.
Dari Buku Harian hingga Catatan Digital
Kebiasaan menulis saat ini tidak selalu identik dengan buku dan pena. Banyak orang memilih aplikasi catatan, platform blog, atau dokumen digital sebagai media utama.
Perubahan media tidak mengubah manfaat dasarnya. Yang berubah hanyalah cara orang menyimpan dan mengakses tulisan mereka.
Generasi muda juga mulai memanfaatkan jurnal digital untuk mencatat target keuangan, rencana perjalanan, ide usaha, hingga perkembangan karier. Menulis tidak lagi dipandang sebagai aktivitas sastra semata, tetapi sebagai alat pengelolaan hidup sehari-hari.
Menariknya, berbagai survei global menunjukkan semakin banyak kreator konten yang memproduksi informasi secara rutin. Namun UNESCO pernah mengingatkan bahwa sebagian kreator digital masih jarang melakukan verifikasi informasi secara memadai sebelum membagikannya. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kemampuan berpikir kritis, yang salah satunya dapat dilatih melalui kebiasaan menulis dan menyusun argumen secara sistematis.
Menulis Membantu Meningkatkan Literasi di Tengah Banjir Informasi
Indonesia mengalami perkembangan literasi yang cukup positif dalam beberapa tahun terakhir. Di sektor keuangan misalnya, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2024 yang dilakukan OJK bersama BPS menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 65,43 persen. Angka tersebut meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Peningkatan literasi tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca. Menulis juga berperan penting karena membantu seseorang memahami, mengolah, dan menjelaskan kembali informasi yang diterimanya.
Ketika seseorang menulis ringkasan buku, membuat catatan kuliah, atau menyusun opini pribadi, sebenarnya ia sedang melakukan proses pembelajaran yang lebih mendalam.
Inilah alasan mengapa banyak dosen dan praktisi pendidikan masih mendorong mahasiswa untuk membuat catatan sendiri daripada sekadar menyimpan materi dalam bentuk file digital.
Kebiasaan Menulis yang Mudah Diterapkan Sehari-hari
Banyak orang menganggap menulis membutuhkan bakat khusus. Padahal kebiasaan ini lebih dekat dengan rutinitas daripada kemampuan alami.
Memulai dari lima hingga sepuluh menit setiap hari sering kali lebih efektif dibanding menunggu waktu luang yang sempurna.
Sebagian orang memilih menulis sebelum tidur untuk merekam pengalaman harian. Ada pula yang menulis di pagi hari untuk menyusun prioritas pekerjaan.
Bagi mahasiswa dan pekerja muda, menulis dapat dimulai dari hal sederhana seperti mencatat ide, target mingguan, pelajaran yang dipetik setiap hari, atau evaluasi pengeluaran bulanan.
Semakin sering dilakukan, semakin mudah seseorang mengenali pola pikir, kebiasaan, dan keputusan yang ia ambil dalam kehidupan sehari-hari.
Menulis Tetap Memiliki Tempat di Masa Depan
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih cepat. Namun teknologi tidak menghilangkan kebutuhan manusia untuk berpikir, merefleksikan pengalaman, dan membangun sudut pandang pribadi.
Justru ketika informasi semakin melimpah, kemampuan menyusun gagasan secara jelas menjadi semakin berharga.
Menulis membantu seseorang memperlambat ritme berpikir di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Ia memberi ruang untuk memahami pengalaman, mengevaluasi keputusan, dan menemukan makna dari berbagai peristiwa sehari-hari.
Karena itu, kebiasaan menulis kemungkinan tidak akan hilang. Bentuknya mungkin berubah mengikuti perkembangan teknologi,
tetapi fungsinya sebagai alat berpikir dan belajar akan tetap relevan di era serba digital.
