Selasa, 11 August 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Gang Bersolek Sambut Agustus. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Menghias gang Agustusan punya tantangan yang berbeda dibanding mendekorasi halaman rumah. Ruangnya digunakan bersama, dilewati motor, anak-anak bermain, kurir mengantar paket, hingga menjadi jalur warga beraktivitas sejak pagi.
Di Surabaya, situasinya makin terasa karena permukiman kota cukup padat. BPS mencatat jumlah penduduk Surabaya berdasarkan Sensus Penduduk 2020 mencapai sekitar 2,87 juta jiwa. Dengan luas wilayah sekitar 350 kilometer persegi, kepadatan penduduknya berada di kisaran 8.200 jiwa per kilometer persegi. Jadi, gang bukan kanvas kosong.
Merah putih boleh memenuhi pandangan sepanjang Agustus, tetapi dekorasi tetap harus berkompromi dengan ruang yang digunakan setiap hari.
Tentukan Satu Pola sebelum Warga Mulai Belanja
Masalah dekorasi lingkungan kadang muncul jauh sebelum pemasangan. Setiap orang membeli sesuatu berdasarkan selera masing-masing.
Satu rumah memilih umbul-umbul. Rumah sebelah memasang lampion. Ada pita plastik, ornamen gantung, bendera kecil, mural, sampai aksesori merah putih lain yang semuanya ingin mendapat tempat. Ketika dipasang bersamaan, gang bisa terasa sesak.
Cara yang lebih sederhana adalah menentukan satu elemen visual utama. Misalnya, deretan bendera dengan jarak seragam menjadi identitas sepanjang jalan. Dekorasi tambahan ditempatkan hanya di beberapa titik, seperti pintu masuk gang, pos warga, atau lokasi kegiatan 17 Agustus.
Pilihan tersebut juga lebih ramah terhadap anggaran. Tidak ada ketentuan bahwa kemeriahan harus diukur dari jumlah hiasan. Satu pola yang berulang justru membuat jalan terlihat lebih terencana ketika dipandang dari kejauhan.
Di sebuah gang sempit Surabaya, efeknya mudah terlihat. Deretan merah putih yang konsisten di antara pepohonan dan fasad rumah sudah cukup mengubah suasana tanpa menutup karakter asli lingkungan.
Jangan Lupakan Ukuran Gang yang Sebenarnya
Saat memasang dekorasi, orang cenderung melihat ke atas. Padahal persoalan paling praktis justru terjadi di bawah. Motor perlu berpapasan. Gerobak harus lewat. Mobil mungkin masuk pada gang yang lebih lebar. Petugas kebersihan dan kendaraan layanan juga membutuhkan akses.
Kepadatan Surabaya membuat persoalan ruang ini relevan. Data Sensus Penduduk 2020 BPS mencatat Kecamatan Simokerto sebagai salah satu wilayah terpadat di Surabaya, dengan kepadatan sekitar 33 ribu penduduk per kilometer persegi. Kecamatan Tambaksari juga berada pada kisaran lebih dari 20 ribu penduduk per kilometer persegi.
Angka tersebut membantu menggambarkan betapa intensifnya ruang digunakan di sebagian kawasan kota. Dekorasi yang menjorok terlalu jauh dari pagar dapat mengurangi ruang lewat. Tali yang dipasang rendah di atas jalan berisiko tersangkut kendaraan tinggi. Dudukan ornamen di sudut jalan juga bisa mengganggu pandangan pengendara ketika keluar dari gang.
Sebelum pemasangan selesai, ada tes sederhana: berjalanlah dari ujung gang sambil membayangkan membawa motor, sepeda, gerobak, atau barang berukuran besar. Sudut yang terasa sempit biasanya langsung terlihat.
Pintu Masuk Bisa Menjadi Titik Paling Ramai
Tidak semua meter jalan membutuhkan dekorasi dengan intensitas sama. Jika anggaran dan tenaga terbatas, pintu masuk lingkungan bisa mendapat perhatian lebih. Area ini menjadi titik transisi dari jalan kota menuju ruang permukiman sehingga dekorasi lebih mudah terlihat.
Gapura dapat dibersihkan dan dicat ulang tanpa harus mengganti desain setiap tahun. Tanaman dalam pot bisa ditempatkan di sisi yang tidak mengganggu kendaraan. Ornamen buatan warga kemudian digunakan sebagai aksen.
Setelah melewati pintu masuk, dekorasi bisa dibuat lebih ringan.Pendekatan seperti ini cocok dengan karakter Surabaya yang memiliki ribuan lingkungan administratif. Data Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan kota ini terdiri dari 31 kecamatan dan 153 kelurahan. Di bawahnya terdapat jaringan RT dan RW yang membuat karakter satu lingkungan bisa berbeda jauh dari lingkungan berikutnya.
Ada kampung dengan jalan lebar dan pohon besar. Ada kawasan dengan gang yang hanya cukup untuk sepeda motor. Sebagian permukiman baru bahkan tidak memiliki gapura tradisional. Desain yang bagus adalah desain yang mengikuti ruangnya.
Bahan Bekas Boleh Dipakai, tetapi Jangan Terlihat Seperti Sampah
Botol plastik, kardus, gelas bekas, kain lama, dan kemasan dapat menjadi bahan dekorasi Agustusan. Ide tersebut menarik karena warga tidak selalu harus membeli ornamen baru.
Namun penggunaan barang bekas membutuhkan seleksi. Botol sebaiknya dicuci dan dikeringkan. Tepi kemasan yang tajam perlu dipotong dengan aman. Kardus yang akan ditempatkan di luar harus dipertimbangkan kembali karena mudah rusak terkena air.
Warna juga tidak harus datang dari cat baru.
Kain merah putih dari dekorasi tahun sebelumnya bisa digunakan kembali jika masih bersih dan tidak rusak. Pertimbangan mengenai sampah cukup relevan bagi Surabaya. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah kota ini pada 2024 mencapai 660.946,82 ton per tahun.
Dinas Lingkungan Hidup Surabaya pada awal 2026 juga menyebut timbulan harian berada di kisaran 1.800 ton. Dekorasi lingkungan tentu bukan penyumbang terbesar. Namun membeli banyak barang sekali pakai untuk digunakan beberapa minggu tetap menghasilkan tambahan material yang kemudian harus disimpan atau dibuang.
Barang bekas paling berguna ketika hasil akhirnya cukup kuat untuk dipakai lagi tahun depan.
Sisakan Ruang untuk Kehidupan Gang
Dekorasi sering terlihat paling bagus ketika baru selesai dipasang. Semuanya rapi, jalan sedang kosong, dan warga masih berkumpul setelah bekerja bersama.
Keesokan paginya, gang kembali pada fungsi sebenarnya. Ada penjual makanan lewat. Anak berangkat sekolah. Motor dipanaskan di depan rumah. Paket datang. Tetangga menjemur pakaian. Menjelang sore, kursi plastik mungkin keluar karena warga ingin mengobrol di depan pagar.
Maka, menghias gang Agustusan sebaiknya tidak menghilangkan ruang untuk semua aktivitas tersebut. Bendera dapat dipasang pada titik yang konsisten. Ornamen gantung ditempatkan cukup tinggi dan kuat. Dekorasi lantai atau pot diletakkan di bagian yang tidak mempersempit jalan.
Kabel untuk lampu hias, bila digunakan, perlu ditata agar tidak menjadi bahaya tersandung atau terkena air. Bendera Negara juga tetap perlu dibedakan dari ornamen dekoratif. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 menetapkan proporsi Bendera Merah Putih dengan lebar dua pertiga dari panjangnya, dengan bidang merah dan putih sama besar. Undang-undang tersebut juga melarang penggunaan bendera yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam.
Menjelang malam, hasil penataan biasanya baru terasa utuh. Lampu rumah mulai menyala, warga pulang bekerja, dan deretan merah putih terlihat memanjang di antara pepohonan serta atap kampung.
Tidak semua pagar harus dihias. Tidak setiap tiang perlu diberi ornamen. Kadang satu gang Surabaya sudah terasa sangat Agustus hanya karena benderanya rapi, jalannya bersih, dan orang masih punya cukup ruang untuk berhenti sebentar menyapa tetangga.
