Logo

Jajan Kuliner Kini Menjadi Cara Baru Bersosialisasi

Makanan sering menjadi alasan sederhana untuk bertemu, sementara percakapan membuat orang ingin tinggal lebih lama.
Reporter:,Editor:

Jumat, 25 September 2026 11:00 UTC

Jajan Kuliner Kini Menjadi Cara Baru Bersosialisasi

Ilustrasi: Bertemu Lewat Makanan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Jajan kuliner kini tidak selalu dilakukan karena seseorang sedang lapar. Bagi banyak orang, pergi mencari makanan juga menjadi aktivitas sosial untuk bertemu teman, keluarga, atau rekan kerja.

Kebiasaan tersebut tumbuh di tengah besarnya ekosistem kuliner Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman beroperasi pada 2024. Jumlahnya meningkat sekitar 8,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka itu menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai pilihan tempat makan yang sangat beragam. Dari warung sederhana hingga restoran, makanan menyediakan ruang pertemuan yang mudah dimasukkan ke rutinitas sehari-hari.

 

Jajan Kuliner Bukan Lagi Sekadar Urusan Perut

Ajakan bertemu sering kali dimulai dengan kalimat sederhana: cari makan. Tidak diperlukan acara khusus, agenda resmi, atau persiapan panjang untuk melakukannya.

Makanan menjadi titik temu karena aktivitas tersebut familiar bagi hampir semua orang. Teman lama dapat bertemu sambil makan bakso, keluarga berkumpul di rumah makan, sementara rekan kerja mampir mencari jajanan setelah pulang.

BPS mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan minuman jadi pada 2024 mencapai Rp254.585. Setahun sebelumnya, nilainya berada di angka Rp255.194 per kapita per bulan.

Data tersebut tidak berarti seluruh pengeluaran dilakukan untuk bersosialisasi. Namun, besarnya nilai konsumsi makanan siap santap memperlihatkan betapa dekat kategori ini dengan keseharian masyarakat.

Di sisi penyedia, pilihannya juga semakin banyak. Jumlah usaha makanan dan minuman meningkat dari sekitar 4,85 juta pada 2023 menjadi 5,28 juta pada 2024.

Artinya, dalam satu tahun terdapat pertambahan sekitar 430 ribu usaha berdasarkan pembulatan angka BPS. Pertumbuhan pilihan tersebut membuat kegiatan mencari makanan semakin mudah menjadi agenda bersama.

 

Tempat Makan Menjadi Ruang Sosial yang Fleksibel

Tempat makan memiliki karakter berbeda dari ruang pertemuan formal. Orang dapat datang dengan pakaian santai, memesan sesuai kemampuan, kemudian berbicara tanpa susunan acara.

Fleksibilitas itu membuat kuliner mudah masuk ke berbagai hubungan sosial. Pertemuan dapat berlangsung 30 menit saat makan siang atau berlanjut beberapa jam ketika suasana memungkinkan.

Restoran dan rumah makan mempunyai posisi besar dalam ekosistem tersebut. Data BPS 2024 mencatat sekitar 2,51 juta usaha masuk kelompok restoran dan rumah makan, setara 47,59 persen dari seluruh usaha penyediaan makanan dan minuman.

Pilihan yang luas turut menciptakan berbagai tipe ruang sosial. Ada tempat untuk keluarga, warung untuk percakapan santai, kedai untuk pertemuan singkat, hingga pusat kuliner yang cocok bagi kelompok besar.

Harga juga ikut menentukan pilihan. Ketika anggota kelompok mempunyai kemampuan belanja berbeda, tempat dengan menu beragam biasanya lebih mudah menjadi titik kompromi.

Karena itu, tempat makan yang nyaman tidak selalu identik dengan interior mahal. Kemudahan duduk bersama, kebersihan, harga yang jelas, serta suasana yang memungkinkan percakapan sering lebih penting.

 

Dunia Digital Memudahkan Ajakan Makan Bersama

Kebiasaan bersosialisasi lewat kuliner juga bertemu dengan kehidupan digital. Tempat makan sekarang dapat ditemukan, dibagikan, lalu disepakati tanpa harus didatangi terlebih dahulu.

Skala konektivitas masyarakat Indonesia cukup besar. Data APJII 2025 yang dikutip Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan 229,4 juta penduduk telah menggunakan internet, setara 80,66 persen populasi.

Lebih dari 140 juta pengguna internet juga tercatat aktif berinteraksi melalui media sosial. Kondisi tersebut membuat rekomendasi tempat makan dapat berpindah cepat dari satu orang kepada orang lain.

Namun, peran digital tidak harus berhenti pada membuat konten. Pesan singkat seperti mengirim lokasi warung kepada grup pertemanan sudah menunjukkan bagaimana teknologi mempermudah pertemuan di dunia nyata.

Menariknya, pelaku kuliner sendiri berada dalam proses digitalisasi yang tidak seragam. Data BPS menunjukkan penggunaan media sosial, pesan instan, situs web, maupun platform digital oleh usaha makanan dan minuman berbeda cukup lebar antarprovinsi.

Artinya, pengalaman kuliner Indonesia tetap bergerak di dua ruang sekaligus. Ada tempat yang ditemukan melalui algoritma, tetapi masih banyak pula warung yang hidup terutama dari pelanggan sekitar dan rekomendasi personal.

 

Nilai Sosial Tidak Ditentukan Harga Makanan

Aktivitas kuliner mudah berubah menjadi tekanan konsumsi ketika pertemuan selalu diarahkan ke tempat mahal. Padahal, nilai sosial sebuah pertemuan tidak berasal dari nominal pada struk pembayaran.

Makan bersama dapat berlangsung dengan semangkuk mi, sepiring nasi, beberapa gorengan, atau menu yang dibagi ramai-ramai. Hal pentingnya adalah semua orang merasa nyaman mengikuti pertemuan tersebut.

Skala ekonomi kuliner memang sangat besar. Pada 2023, BPS mencatat nilai penjualan usaha penyediaan makanan dan minuman mencapai Rp998,37 triliun. Sektor itu juga menyerap sekitar 9,80 juta tenaga kerja.

Dibandingkan 2016, ketika tenaga kerjanya sekitar 8,13 juta orang, jumlah pekerja pada 2023 meningkat 20,48 persen. Nilai penjualannya juga tumbuh 48,04 persen dari Rp674,38 triliun pada 2016.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan makan di luar rumah mempunyai dimensi ekonomi yang luas. Namun, pada tingkat individu, pengeluaran tetap perlu mengikuti kemampuan.

Kelompok pertemanan dapat membiasakan diri membicarakan kisaran harga sebelum memilih tempat. Kebiasaan sederhana ini membuat acara makan terasa lebih inklusif dan mengurangi tekanan untuk mengikuti gaya konsumsi orang lain.

 

Makanan Hanya Pembuka, Percakapan Tetap Utama

Ada alasan jajan kuliner mudah bertahan sebagai kegiatan sosial. Makanan menyediakan aktivitas bersama ketika percakapan belum mengalir, sekaligus menciptakan jeda yang membuat suasana terasa lebih santai.

Kita tidak harus terus berbicara ketika sedang makan. Keheningan kecil terasa wajar, kemudian obrolan dapat kembali berjalan tanpa suasana canggung.

Namun, pengalaman bersama dapat kehilangan maknanya ketika seluruh perhatian berpindah ke layar masing-masing. Ponsel memang membantu menemukan lokasi atau menghubungi teman, tetapi tidak harus menguasai seluruh waktu di meja.

Dengan 80,66 persen populasi Indonesia telah terkoneksi internet pada 2025, ruang digital akan tetap menjadi bagian kuat kehidupan sosial. Tantangannya adalah memastikan teknologi membantu mempertemukan orang, bukan selalu mengambil perhatian setelah mereka bertemu.

Jajan kuliner akhirnya mempunyai fungsi yang lebih luas daripada memenuhi rasa lapar. Di tengah jutaan tempat makan dan kehidupan yang semakin terkoneksi, aktivitas sederhana tersebut menjadi salah satu cara masyarakat menjaga hubungan.

Tidak harus restoran baru, menu viral, atau makanan mahal. Kadang sebuah meja sederhana, hidangan yang disukai bersama, dan waktu untuk mendengarkan sudah cukup membuat pertemuan terasa berharga.

Jajan kuliner akan terus berubah mengikuti tren makanan dan teknologi. Namun, alasan manusia duduk bersama kemungkinan tetap sama: makanan membuka pertemuan, sedangkan hubungan sosial memberi alasan untuk mengulanginya.

 

 

Sumber data: Badan Pusat Statistik, Statistik Penyediaan Makanan dan Minuman 2023 dan 2024 serta data Susenas Maret 2024; Kementerian Komunikasi dan Digital; APJII 2025.