Logo

Media Sosial Mengubah Cara Kita Memilih Tempat Makan

Rekomendasi makan kini sering datang dari layar, bahkan sebelum aroma masakan sampai ke meja
Reporter:,Editor:

Jumat, 25 September 2026 08:00 UTC

Media Sosial Mengubah Cara Kita Memilih Tempat Makan

Ilustrasi: Pilihan dari Layar. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Media sosial mengubah cara memilih tempat makan dalam kehidupan sehari-hari. Restoran yang sebelumnya ditemukan lewat papan nama atau rekomendasi teman kini bisa dikenal melalui video berdurasi beberapa detik.

Perubahan tersebut berlangsung di tengah masyarakat Indonesia yang semakin terkoneksi. Data APJII 2025 yang dikutip Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat pengguna internet mencapai 229,4 juta orang atau 80,66 persen populasi. Lebih dari 140 juta di antaranya aktif berinteraksi melalui media sosial.

Artinya, rekomendasi kuliner tidak lagi bergerak hanya dari mulut ke mulut. Foto, ulasan singkat, video menu, lokasi, hingga komentar pelanggan ikut membentuk keputusan sebelum seseorang berangkat makan.

 

Media Sosial Menjadi Etalase Tempat Makan

Dahulu, mencari restoran baru sering dimulai dengan bertanya kepada teman. Cara tersebut masih bertahan, tetapi kini rekomendasinya kerap dilengkapi tautan unggahan atau video.

Seseorang dapat mengetahui tampilan makanan, kisaran suasana tempat, kepadatan pengunjung, hingga menu populer sebelum datang. Informasi itu membuat proses memilih terasa lebih praktis.

Kondisi tersebut bertemu dengan industri kuliner yang sangat besar. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman beroperasi di Indonesia pada 2024. Jumlahnya naik sekitar 8,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 2,51 juta merupakan restoran dan rumah makan. Kelompok ini mengambil porsi 47,59 persen dari keseluruhan usaha penyediaan makanan dan minuman pada 2024.

Pilihan yang begitu banyak membuat konsumen membutuhkan cara untuk menyaringnya. Media sosial kemudian berfungsi seperti etalase awal sebelum keputusan makan benar-benar dibuat.

 

Video Pendek Mempercepat Rasa Penasaran

Konten kuliner mempunyai keuntungan visual. Lelehan keju, kuah panas, sambal yang baru diulek, atau potongan daging dapat terlihat menarik tanpa narasi panjang.

Video pendek membuat pengalaman tersebut semakin cepat. Dalam beberapa detik, calon pelanggan bisa melihat makanan disiapkan, disajikan, lalu dicicipi.

Rasa penasaran kemudian mendorong perilaku sederhana. Pengguna menyimpan unggahan, mengirimnya kepada teman, mencari lokasi, atau memasukkannya ke daftar tempat yang ingin dikunjungi.

Skalanya besar karena internet sudah digunakan mayoritas penduduk. Penetrasi 80,66 persen pada 2025 berarti sekitar delapan dari setiap sepuluh orang Indonesia telah terhubung dengan internet.

Bagi usaha kuliner, kondisi tersebut membuka peluang yang dahulu sulit diperoleh usaha kecil. Warung sederhana dapat dikenal lebih luas ketika menu atau suasananya menarik perhatian pengguna.

Namun, viralitas bukan jaminan pengalaman yang selalu sama. Potongan video terbaik belum tentu menggambarkan antrean, pelayanan, ukuran porsi, kebersihan, atau konsistensi rasa sehari-hari.

 

Ramai di Layar Belum Tentu Cocok di Lidah

Salah satu tantangan memilih tempat makan dari media sosial adalah kecenderungan menilai sesuatu berdasarkan bagian yang paling menarik secara visual.

Video berdurasi pendek biasanya menampilkan menu unggulan. Sementara itu, pengalaman konsumen sebenarnya terdiri dari lebih banyak unsur, termasuk rasa, harga, kenyamanan, kebersihan, dan pelayanan.

Karena itu, popularitas sebaiknya diperlakukan sebagai pintu masuk informasi, bukan satu-satunya alasan berkunjung.

Besarnya bisnis kuliner juga menunjukkan mengapa konsumen perlu lebih selektif. Pada 2023 saja, BPS mencatat terdapat 4,85 juta usaha penyediaan makanan dan minuman dengan nilai penjualan sekitar Rp998,37 triliun.

Sektor tersebut menyerap sekitar 9,80 juta tenaga kerja pada tahun yang sama. Dibandingkan 2016 yang mencatat 8,13 juta pekerja, jumlah tenaga kerja pada 2023 meningkat 20,48 persen.

Angka tersebut memperlihatkan luasnya ekosistem kuliner Indonesia. Dalam pasar sebesar itu, wajar bila pengalaman antara satu tempat dan lainnya sangat beragam.

Calon pelanggan dapat menggunakan media sosial untuk menemukan pilihan, kemudian melengkapinya dengan informasi lain. Harga terbaru, alamat, jam buka, menu, dan ulasan pelanggan dapat membantu membangun gambaran yang lebih utuh.

 

Konten Viral Bisa Mengubah Arus Pengunjung

Bagi usaha makanan skala kecil, perhatian di media sosial dapat membawa perubahan cepat. Tempat yang sebelumnya dikenal warga sekitar tiba-tiba bisa didatangi pelanggan dari wilayah lain.

Fenomena semacam ini semakin mungkin terjadi karena jumlah usaha kuliner juga bertambah. BPS mencatat 4,85 juta usaha pada 2023, kemudian jumlahnya meningkat menjadi sekitar 5,28 juta pada 2024.

Persaingan mendapatkan perhatian konsumen pun menjadi lebih ketat. Sebuah usaha bukan hanya bersaing dengan tempat di sebelahnya, tetapi juga dengan berbagai rekomendasi yang muncul pada layar pelanggan.

Namun, lonjakan pengunjung membutuhkan kesiapan. Stok bahan, waktu pelayanan, kapasitas tempat duduk, kebersihan, dan konsistensi kualitas harus mengikuti peningkatan permintaan.

Konten yang berhasil menarik pelanggan pertama kali tidak otomatis membuat mereka kembali. Setelah rasa penasaran selesai, kualitas pengalaman menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.

Di sinilah media sosial dan pelayanan nyata mempunyai peran berbeda. Media sosial dapat membuka pintu, sementara makanan dan layanan menentukan apakah pelanggan ingin datang lagi.

 

Memilih Tempat Makan dengan Lebih Cermat

Media sosial tetap menjadi alat yang berguna untuk menemukan pengalaman kuliner baru. Masalah muncul ketika keputusan sepenuhnya bergantung pada satu video yang sedang ramai.

Ada baiknya melihat beberapa unggahan dengan waktu berbeda. Cara ini membantu mengetahui apakah sebuah tempat konsisten menarik perhatian atau hanya muncul sesaat karena satu konten viral.

Perhatikan pula kebutuhan pribadi. Restoran yang cocok untuk nongkrong ramai belum tentu nyaman untuk membawa keluarga. Tempat dengan menu unik juga belum tentu sesuai dengan anggaran makan harian.

Harga pada konten lama juga dapat berubah. Informasi praktis seperti jam operasional dan ketersediaan menu sebaiknya diperiksa kembali sebelum melakukan perjalanan khusus.

Cara memilih tempat makan akhirnya memang berubah. Dengan lebih dari 229 juta pengguna internet dan jutaan usaha kuliner di Indonesia, layar ponsel telah menjadi salah satu titik pertemuan penting antara konsumen dan penjual.

Media sosial dapat mempertemukan kita dengan warung kecil, menu daerah, atau restoran yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Namun, rekomendasi digital paling berguna ketika dipakai sebagai referensi, bukan sebagai jaminan.

Pada akhirnya, cara memilih tempat makan yang lebih bijak tetap membutuhkan kombinasi rasa penasaran dan pertimbangan sederhana. Viral boleh menjadi alasan pertama datang, tetapi rasa, harga, kebersihan, pelayanan, dan kenyamananlah yang menentukan pengalaman sebenarnya.

 

Sumber data: Badan Pusat Statistik, Statistik Penyediaan Makanan dan Minuman 2023 dan 2024; Kementerian Komunikasi dan Digital; Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2025 berdasarkan data APJII 2025.