Logo

Pertama Kali Ikut Lomba Robotika, Begini Pengalaman Siswa Almadany Gresik

Reporter:,Editor:

Sabtu, 08 August 2026 12:00 UTC

Pertama Kali Ikut Lomba Robotika, Begini Pengalaman Siswa Almadany Gresik

Dua peserta dari SD Almadany Gresik tengah melakukan coding untuk robot miliknya yang akan melintasi sirkuit yang ditentukan panitia MEA Award 2026 di UMM, Sabtu, 8 Agustus 2026. Foto/Agus Salim.

JATIMNET.COM, Malang – Stik es krim yang biasanya digunakan untuk membuat kerajinan tangan disulap menjadi robot oleh siswa SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (Almadany) Gresik.

Robot rakitan tersebut harus mampu bergerak sesuai program dan melewati lintasan dengan sejumlah rintangan.

Robot itu menjadi bagian dari pengalaman dua siswa Almadany, Emeraldo Gustian Abdillah dan Roihan, saat mengikuti Kompetisi Robotika Muhammadiyah Education Awards (ME Awards) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu, 8 Agustus 2026.

Bagi Emeraldo, siswa kelas IV, kompetisi tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba robotika. Bersama Roihan, ia tidak hanya belajar membuat coding, tetapi juga terlibat dalam proses merancang dan merakit robot.

“Senang dan bangga bisa ikut lomba robotik dan bertemu banyak teman,” ujarnya.

Kompetisi Robotika ME Awards 2026 digelar Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) PWM Jatim. Sebanyak 102 siswa dari jenjang SD, MI, SMP, MTs hingga SMA ambil bagian.

Peserta berasal dari sekolah Muhammadiyah di Jawa Timur, serta sejumlah sekolah dari Jawa Tengah dan Bali.

Dalam kompetisi tersebut, siswa tidak sekadar dituntut mampu membuat program. Robot yang mereka rakit harus mampu menjalankan perintah saat melewati sirkuit yang dilengkapi sejumlah rintangan dan titik pemeriksaan atau checkpoint.

Proses itu membuat siswa harus memadukan kemampuan coding dengan keterampilan merancang dan merakit perangkat. Ketika robot tidak berjalan sesuai perintah, mereka dituntut mencari penyebab dan menentukan solusi agar robot dapat kembali bekerja.

Ketua Pelaksana Kompetisi Robotika ME Awards 2026, Miftahul Ulum, mengatakan konsep kompetisi memang dirancang agar siswa mendapatkan pengalaman teknologi secara lebih utuh.

“Selain coding, peserta belajar merakit robot menggunakan stik es krim. Kami juga mengajarkan keselamatan kerja atau K3, termasuk cara menggunakan alat dan memotong bahan dengan aman,” katanya.

Menurut Miftahul, robotika tidak sebatas mengajarkan siswa cara mengoperasikan mesin. Proses merancang, merakit, dan memprogram robot juga melatih logika, kreativitas, ketelitian, kemampuan memecahkan masalah, serta kerja sama.

Hal tersebut juga menjadi alasan SD Almadany Gresik membawa siswanya mengikuti kompetisi. Pembimbing robotika SD Almadany Gresik, M. Ubaidillah Afandi, mengatakan ajang tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk menguji kemampuan yang selama ini mereka peroleh melalui kegiatan ekstrakurikuler.

“Selain mengasah kemampuan merakit dan memprogram, kompetisi seperti ini membantu membangun mental siswa sekaligus mengetahui hasil belajar mereka,” katanya.

Bagi siswa, proses belajar robotika tidak berhenti ketika program berhasil dibuat. Mereka juga harus memastikan robot dapat bekerja sesuai rancangan, menghadapi rintangan, dan menyelesaikan lintasan.

Dari proses tersebut, siswa belajar menghadapi kegagalan sekaligus mencari jalan keluar. Kemampuan teknis yang diperoleh berjalan beriringan dengan keterampilan berpikir sistematis, kreativitas, kemandirian, dan kerja sama tim.

Pembelajaran robotika itu sejalan dengan tema ME Awards 2026, “The Rise of Muhammadiyah Youth Generation for Future Leader”.

Ajang tersebut tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang bagi siswa untuk belajar teknologi melalui pengalaman langsung.

Dari bahan sederhana seperti stik es krim, mereka belajar bahwa sebuah robot membutuhkan lebih dari sekadar kode: ada ide, ketelitian, keberanian mencoba, dan kemampuan memecahkan masalah.