Logo

Kadisah Krejengan Probolinggo, Tradisi Syukur yang Terus Hidup di Tengah Modernisasi

Reporter:,Editor:

Selasa, 16 June 2026 09:09 UTC

Kadisah Krejengan Probolinggo, Tradisi Syukur yang Terus Hidup di Tengah Modernisasi

Warga Desa Krejengan memenuhi Balai Desa Krejengan dengan aneka gunungan hasil bumi yang akan segera diperebutkan setelah dilakukan doa bersama. Foto: Zulafif

JATIMNET.COM, Probolinggo – Tradisi Kadisah atau Selamatan Desa Krejengan di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, kembali berlangsung meriah pada Selasa, 16 Juni 2026 yang bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah. Di tengah perkembangan zaman yang terus membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat, tradisi warisan leluhur tersebut tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari identitas warga setempat.

Ribuan masyarakat memadati ruas jalan desa sejak pagi untuk menyaksikan puncak perayaan Kadisah. Antusiasme warga terlihat sepanjang jalur kirab yang menjadi pusat kegiatan tahunan tersebut.

Dalam prosesi itu, warga mengarak puluhan gunungan yang berisi hasil pertanian, perkebunan, serta berbagai produk usaha masyarakat. Arak-arakan juga menghadirkan jodang yang membawa pusaka dan sesaji desa menuju pendopo sebagai lokasi utama pelaksanaan ritual.

Suasana kirab semakin semarak dengan iringan tabuhan ronjengan yang menggema sepanjang perjalanan. Perpaduan antara kemeriahan dan nuansa sakral membuat tradisi ini menghadirkan pengalaman budaya yang membawa masyarakat mengenang nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa pada masa lalu. 

BACA: Rest Area Bromo Safety Initiative Resmi Beroperasi, Perkuat Keselamatan Wisatawan

Kirab jodang dan gunungan menjadi salah satu rangkaian yang paling dinantikan dalam Selamatan Desa Krejengan. Setelah tiba di pendopo desa, seluruh gunungan dan jodang dikumpulkan di balai desa sebelum masyarakat mengikuti doa bersama.

Doa tersebut menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki, keselamatan, persaudaraan, dan keberkahan yang telah dirasakan masyarakat Desa Krejengan selama setahun terakhir.

Setelah rangkaian doa selesai, warga langsung mengikuti grebek gunungan yang menjadi penutup acara. Dalam waktu singkat, isi gunungan yang telah didoakan habis diperebutkan masyarakat karena dipercaya membawa berkah bagi keluarga yang mendapatkannya.

Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris, menegaskan bahwa Kadisah memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar pertunjukan budaya atau hiburan rakyat. Menurutnya, tradisi tersebut mencerminkan rasa syukur masyarakat atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT.

“Ini tidak hanya sekadar sebuah tradisi selamatan desa, tetapi bentuk rasa syukur masyarakat atas rezeki, penghidupan, persaudaraan, semuanya yang selama ini sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita semua," terangnya.

BACA: Jembatan Kaca Bromo Mulai Buka Saat Libur Sekolah

Bupati Haris menilai masyarakat Desa Krejengan layak berbangga karena masih mampu menjaga tradisi dan nilai sejarah yang diwariskan para leluhur hingga saat ini. Upaya tersebut menjadi bukti kuatnya komitmen masyarakat dalam melestarikan kearifan lokal.

Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Begitu pula sebuah desa akan menjadi kuat apabila masyarakatnya tidak melupakan jasa dan perjuangan para pendahulu yang telah membangun daerahnya.

“Pada momentum ini kita juga mengenang jasa para guru dan para leluhur yang telah membangun Desa Krejengan dengan harapan ke depan Krejengan semakin luar biasa,” tandasnya.

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Habib Mahdi, turut mengapresiasi semangat masyarakat yang terus menjaga keberlangsungan tradisi Kadisah. Ia menilai tradisi tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Menurut Habib Mahdi, tradisi bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang yang mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, serta memperkuat identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.

“Kearifan lokal ini, sekaligus pengingat bahwa rasa syukur dan penghormatan kepada para pendahulu merupakan pondasi yang menguatkan kehidupan masyarakat hingga hari ini. Terima kasih tetap menjaga tradisi ini tetap lestari dan eksis sampai detik ini,” pungkasnya.