Pemilu berlangsung 39 hari karena wilayah yang luas dan tahapan yang panjang.

India Memilih Pemerintahan Baru dalam Pemilu 39 Hari 

Nani Mashita

Kamis, 11 April 2019 - 16:15

JATIMNET.COM, Surabaya - Ratusan warga India antre memberikan suara, dalam pemilu yang akan berlangsung selama 39 hari, pada Kamis 11 April 2019. Sebanyak 900 juta suara pemilih, akan diperebutkan untuk bisa membentuk pemerintahan baru.

Sejumlah laporan menunjukkan, keramaian di tempat pemungutan suara (TPS). TPS di negara-negara timur laut seperti Arunachal Pradesh yang berbatasan dengan Cina, adalah yang pertama dibuka diikuti oleh bagian-bagian Uttar Pradesh di Utara, Jammu dan Kashmir di Himalaya dan Telangana di Selatan.

Di Assam di timur laut, antrean mulai terlihat 45 menit sebelum pemungutan suara dimulai. Anak-anak muda juga antusias mengambil bagian menentukan arah bangsanya.

"Ini adalah perasaan yang hebat untuk memberikan suara, yang membuat saya menjadi bagian dari sistem demokrasi dan membuat saya bertanggung jawab untuk memilih seorang pemimpin yang baik yang dapat menjalankan negara," kata Anurag Baruah, 23, dilansir dari Afp.com, Kamis 11 April 2019.

BACA JUGA: Delapan Negara Ini Juga Menggelar Pemilu April

Karena luasnya India, pemilihan akan diadakan dalam tujuh tahap. Untuk fase pertama, diharapkan sekitar 142 juta orang memberikan suaranya.

Pemilihan berlangsung selama 39 hari, dengan fase terakhir pada 19 Mei dan hasilnya diumumkan empat hari kemudian, atau 23 Mei 2019.

Voting dalam tujuh putaran pertama diadakan di 91 daerah pemilihan parlemen, di 20 negara bagian, dan wilayah yang dikelola pemerintah federal. Ada 543 kursi yang dipertaruhkan.

Pemilu di India dilaksanakan dengan tingkat kewaspadaan tinggi.

BACA JUGA: Produksi Sepatu Indonesia Peringkat Empat Dunia

Pasukan keamanan berjaga dimana-mana pasca lima orang tewas, salah satunya anggota legislator asal Bharatiya Janata Party (BJP), dalam serangan yang diduga dilakukan oleh pemberontak Maois minggu ini.

Dua orang terbunuh pada Selasa lalu di Jammu dan Kashmir, negara bagian di India yang mayoritasnya  beragama Islam.

Di media sosial, perang berkecamuk dengan disinformasi, berita palsu, troll dan bot di Facebook, dan Whatsapp. 

Jajak pendapat menunjukkan Perdana Negeri India Narendra Modi masih jadi favorit bagi para pemilih.

BACA JUGA: Melihat Secmol, Pionir Sekolah Eco Green di Dunia

Namun, hasil jajak pendapat di India tidak pernah bisa diandalkan validitasnya. Selain itu, rival Modi, Rahul Gandi, dipastikan akan melakukan perlawanan keras.

Modi dan sayap kanannya Partai Bharatiya Janata (BJP) meraih kekuasaan pada 2014 dengan janji terkenal mereka "achhe din" atau hari terbaik, yang menjadikannya sebagai partai pertama dengan kemenangan absolut, dalam 30 tahun terakhir.

Namun begitu, banyak kritik sejak BJP berkuasa.

Seperti, memaksakan agenda Hindu di India, memberanikan serangan terhadap Muslim dan Dalit, kasta rendah di India, yang memperdagangkan daging sapi, dan menulis kembali buku pelajaran sekolah.

BACA JUGA: Ini Tempat Terbaik Melihat Harimau Bebas Berkeliaran

Meski memudahkan pembayaran pajak, Modi dianggap gagal di daerah pedesaan, di mana ribuan petani bunuh diri, karena gagal membayar hutang. 

Pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga di Asia itu terlalu lambat untuk menyediakan lapangan kerja bagi sekitar satu juta orang India yang memasuki pasar tenaga kerja setiap bulan, dan pengangguran dilaporkan mencapai level tertinggi sejak 1970-an.

Rahul Gandhi, 48, berharap menjadi perdana menteri terakhir dari dinastinya dan diusung Partai Kongres. Rahul menuduh Modi, menyebabkan bencana nasional selama memimpin India.  

Baca Juga

loading...