Hilangnya Ikan Lemuru di Muncar Diduga Karena Ekosistem Rusak

Ahmad Suudi

Selasa, 9 April 2019 - 21:13

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Hilangnya Ikan lemuru (Sardinella lemuru) yang merupakan ikan pelagis atau ikan di permukaan laut di kawasan perairan Selat Bali atau perairan Muncar, Banyuwangi, patut diduga karena ekosistem di kawasan ini yangrusak.

Ikan lemuru termasuk jenis yang sangat membutuhkan perairan dangkal untuk berkembang biak,” kata Manajer Kebijakan, Karbon Biru dan Perikanan di Conservation International Indonesia, Audrie J Siahainenia kepada Jatimnet.com, Selasa 9 April 2019.

Dia menjelaskan, lemuru bertelur di perairan pinggir yang dangkal, dan membutuhkan ekosistem yang sehat untuk menetas dan tumbuh. Hal itu yang menurutnya bisa menjadi petunjuk penyebab hilangnya lemuru di perairan Muncardan Selat Bali, hingga pabrik-pabrik pengalengan ikan harus impor ikan.

"Saat ekosistem pesisir tidak bagus, kematian telur ikan lemuru bisa mencapai 90 persen," kata Audrie.

BACA JUGA: Menelusuri Hilangnya Ikan Lemuru di Selat Bali

Audrie juga tidak sependapat dengan dugaan sebagian nelayan yang menuding berkurangnya lemuru karena beroperasinya ratusan rumpon atau jebakan rumah ikan di Selat Bali bagian selatan.

Menurutnya, perkembangbiakan ikan yang terganggu dan ikut ditangkapnya lemuru kecil (semenit), lebih mungkin menjadi penyebab berkurangnya populasi lemuru di Selat Bali.

"Terganggunya perkembangbiakan ikan lebih masuk akal daripada rumpon. Rumpon tempat berkumpulnya teri, bukan lemuru yang selalu bergerak secara berkelompok," kata Audrie lagi.

Pendapatnya sejalan dengan Dosen Ilmu Perikanan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Ervina W Setyaningrum yang membeberkan dua kemungkinan penyebab hilangnya lemuru.

BACA JUGA: Menteri Susi Ajak Nelayan Banyuwangi Jaga Terumbu Karang

Ia menyebut, penyebab pertama karena pemanasan global dan kedua pola tangkap ikan yang menggunakan alat dengan kapasitas melebihi ketentuan.

Ketentuan yang dimaksudnya merujuk pada Surat Keputusan Bersama Gubernur Jawa Timur dan Bali Tahun 1992 Nomor 38/1992/673/1992 tentang Penetapan Jumlah Alat Tangkap Purse Seine (pukat cincin) di Selat Bali.

"Kita harus lihat apakah ukuran jaring nelayan mengikuti ketentuan, minimal 1 inci. Karena kalau tidak, ikan yang kecil ikut tertangkap dan mengganggu perkembangbiakan lemuru," kata Ervina.

BACA JUGA: Ke Banyuwangi, Luhut Dialog dengan Nelayan Muncar

Audrie menyambung bahwa lemuru yang memiliki jangkauan imigrasi pendek, sangat tergantung pada kesehatan ekosistem lokal. Bila populasi lemuru di sebuah perairan habis, akan sulit mendapatkan pasokan baru dari populasi perairan lain.

Dia menjelaskan Sardinella Lemuru hanya pernah terpantau di Teluk Pangpang dan Selat Bali pada awal tahun. Kemudian pada bulan Juli dan Agustus populasi terpantau di perairan selatan Bali, tepatnya di dekat Kota Denpasar. Sehingga wilayah perairan itu harus dikembalikan kesehatan ekosistemnya agar lemuru bisa terus eksis.

"Harus menggunakan alat tangkap yang mendukung keberlanjutan ekosistem, hindari lampu berlebihan saat menangkap ikan, jangan sampai habitat dan siklus kehidupan ikan terancam," ujar Audrie.

Baca Juga

loading...