Logo

Harga Plastik Melejit, Konten Penggunaan Daun Pisang untuk Bungkus Bermunculan

AZWI sebut kondisi ini dampak perang Israel-AS dan Iran
Reporter:,Editor:

Selasa, 07 April 2026 04:00 UTC

Harga Plastik Melejit, Konten Penggunaan Daun Pisang untuk Bungkus Bermunculan

Ilustrasi penggunaan daun pisang untuk wadah makanan dan minuman. Foto: AI Generated

JATIMNET.COM – Konten yang menunjukkan kreativitas pengusaha makanan dan minuman untuk bertahan di tengah lonjakan tajam harga plastik bermunculan di jagat maya.

Mereka menayangkan video tentang penggunaan daun pisang untuk mewadahi produk kuliner yang dihasilkan. Salah satunya, konten yang diunggah oleh akunTikTok @mangucuppp.

Pemillik akun tersebut mewadahi sup buah yang dijualnya dengan daun pisang. Konten ini tidak hanya menarik perhatian warganet, tetapi juga sukses mengundang gelak tawa sekaligus apresiasi karena dinilai kreatif dan relevan dengan kondisi saat ini.

Tren ini bermula dari kenaikan harga plastik yang dirasakan oleh para pelaku usaha kecil hingga menengah. Kondisi tersebut mendorong sebagian penjual untuk mencari alternatif kemasan yang lebih ekonomis.

BACA: Harga Plastik Meroket, Pelaku UMKM Kelimpungan

Selain menghibur, tren ini juga memunculkan diskusi positif di kalangan warganet terkait penggunaan kemasan ramah lingkungan.

Daun pisang dinilai lebih alami, mudah terurai, serta memiliki nilai kearifan lokal yang mulai jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini menjadi catatan penting bagi pelaku usaha jika ingin benar-benar mengadopsi metode tersebut secara berkelanjutan, bukan sekadar konten semata.

Harga plastik mengalami kenaikan hingga tiga kali lipas sejak Maret lalu. Kondisi ini disebut-sebut dampak dari perang Israel-AS dan Iran yang membuat distribusi energi dan bahan kimia mengalami gangguan rantai pasok. Salah satu komoditas yang terdampak adalah plastik.

BACA: Omzet Perajin Anyaman Tali Plastik di Probolinggo Menurun selama PPKM

Dalam keterangannya, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menilai persoalan yang terjadi saat ini merupakan krisis sistemik yang memukul seluruh rantai ekonomi, baik dari produsen hingga konsumen.

Aliansi menilai lonjakan harga yang terjadi memperlihatkan betapa rentannya sistem plastik berbasis bahan bakar fosil.

“Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz telah memperketat pasokan bahan baku petrokimia global dan mendorong harga plastik ke level tertinggi,” kata AZWI. (magang)