JATIMNET.COM, Banyuwangi – Komunitas Arsitek Muda Banyuwangi (AMB) menggelar pameran karya arsitektur berkolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur dalam rangkaian Festival Arsitektur Nusantara.

"Pemkab Banyuwangi telah melibatkan arsitek-arsitek nasional yang memiliki reputasi yang baik. Inilah yang menginspirasi kami untuk belajar pada arsitek maestro," kata Arif Wibowo Ketua AMB di Banyuwangi, Kamis 14 Maret 2019.

Komunitas yang belum genap berusia setahun ini bertujuan mewadahi mahasiswa, praktisi, dan pegiat arsitektur di Banyuwangi.

Pihaknya memanfaatkan digelarnya Festival Arsitektur Nusantara di Bumi Blambangan untuk mengenalkan diri kepada pemerintah pelajar, dan masyarakat luas.

BACA JUGA: Wisatawan TN Alas Purwo Banyuwangi Melonjak 53 Persen

Dia menilai Pemkab Banyuwangi memiliki kesadaran tinggi dalam melibatkan arsitek sebagai tenaga ahli dalam pembangunan berbagai aset pemerintah daerah.

Dengan itu, sambung Arif, bangunan-bangunan akan semakin bernilai dari sisi ekonomi, sosial dan budaya, hingga lingkungan.

Dia mengatakan keterlibatan IAI juga untuk menambah pengalaman anggota komunitas dalam mempublikasi karya arsitektur.

Apalagi 25 orang anggota AMB adalah arsitektur muda yang bergerak sesuai bidang keahliannya, seperti bekerja di perusahaan konsultan dan kontraktor.

BACA JUGA: Penerapan Teknologi Pembuatan Kereta di Banyuwangi Dikerjakan Investor

"AMB ingin ke depannya bisa mengembangkan arsitektur dan membangun jaringan arsitek, baik di tingkat lokal Banyuwangi, nasional hingga global," pungkas Arif.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas telah menandatangani nota kesepahaman dengan Ketua IAI Jawa Timur Yuli Kalson Sagala untuk pendampingan perkembangan dunia arsitektur Banyuwangi.

Dia mengatakan penerapan arsitektur di bangunan baru dan lama sebagai upaya melestarikan desain rumah khas Osing Banyuwangi.

Anas juga mengaku menitipkan peradaban pada investor dengan mewajibkan desain bangunannya mengandung karakter arsitektur lokal.

BACA JUGA: Sertawangi Dorong Pemkab Banyuwangi Bentuk Tim Reforma Agraria

Dia berpendapat arsitektur rumah Suku Osing yang tegakannya memanfaatkan kayu dan memiliki atap tikel lebih ramah lingkungan dan lebih awet.

"Banyuwangi sekarang selalu melibatkan arsitek dalam membangun. Kalau tidak libatkan mereka, tidak akan timeless (awet dari sisi keindahan) bangunannya," kata Anas dalam sambutannya di Festival Arsitektur Nusantara.

Banyuwangi sendiri telah melakukan berbagai pembangunan dengan melibatkan arsitek-arsitek nasional. Misalnya Adi Purnomo dalam perombakan pendopo, Gedung Juang 45, dan pasar kuliner Banyuwangi.

Sedangkan Andra Matin mendesain musala pendopo, aula Poliwangi, terminal Bandara Banyuwangi, dan Terminal Pariwisata Terpadu Sobo.

BACA JUGA: Diet Kantong Plastik, Upaya Banyuwangi Kurangi Sampah

Budi Pradono mengerjakan Grand Watudodol dan Gelanggang Olahraga (GOR) Tawang Alun, serta Yori Antar yang mendesain Ruang Terbuka Hijau Kedayunan dan destinasi wisata Pulau Merah yang akan segera ground breaking.