Logo

Dosen DKV ITS Ajak 96 Siswa SMPN 2 Pamekasan Olah Bahasa Madura Jadi Karya Tipografi

Reporter:,Editor:

Selasa, 03 November 2026 06:54 UTC

Dosen DKV ITS Ajak 96 Siswa SMPN 2 Pamekasan Olah Bahasa Madura Jadi Karya Tipografi

Dosen dan mahasiswa DKV ITS ajarkan kreativitas visual ke siswa SMPN 2 Pamekasan, Selasa, 3 November 2026. Foto: Humas DKV ITS

JATIMNET.COM, Surabaya – Sebanyak 96 siswa kelas IX SMPN 2 Pamekasan, Jawa Timur, mengikuti pembelajaran kreatif yang digelar tim dosen Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak mengolah ungkapan Bahasa Madura menjadi karya tipografi ekspresif.

Program bertajuk visiting pengajar yang diinisiasi Laboratorium Media Kreatif dan Digital DKV ITS itu menggabungkan pembelajaran seni rupa dengan eksplorasi budaya lokal. Melalui pendekatan tersebut, ITS ingin mendorong siswa mengembangkan kreativitas sekaligus mengenali potensi bahasa daerah sebagai sumber inspirasi karya visual.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat DKV ITS, Naufan Noordyanto, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa tipografi menjadi pilihan karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkarya tanpa harus memiliki kemampuan menggambar figuratif atau realistis.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa berani mengeksplorasi potensi dirinya tanpa dibatasi stereotipe bahwa seni rupa hanya untuk mereka yang pandai menggambar figuratif,” ujar Naufan, Selasa, 3 November 2026.

BACA: Anak PRT Raih Wisudawan Terbaik UNP Kediri dengan IPK 3,96 

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang tersebut melibatkan 96 siswa dalam empat kelompok belajar. Naufan bersama guru Seni Budaya SMPN 2 Pamekasan, Sigit Purnomo, mendampingi langsung proses penciptaan karya berbasis bahasa daerah.

Program ini berangkat dari sejumlah persoalan dalam pembelajaran Seni Budaya di tingkat SMP. Di antaranya, masih adanya anggapan bahwa keterampilan menggambar objek secara realistis menjadi syarat utama untuk menghasilkan karya seni.

Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara instan juga menjadi perhatian. Para siswa perlu memahami bahwa teknologi dapat membantu proses berkarya, tetapi tidak seharusnya menggantikan gagasan dan kreativitas manusia. Di sisi lain, bahasa ibu juga belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber inspirasi dalam pembelajaran seni.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim DKV ITS memperkenalkan tipografi sebagai alternatif media ekspresi visual. Melalui konsep type as image, siswa mempelajari cara mengolah huruf menjadi elemen gambar yang mampu menggambarkan emosi, karakter, sekaligus menyampaikan pesan.

Dalam praktiknya, siswa terlebih dahulu memilih ungkapan singkat berbahasa Madura yang memiliki makna tertentu. Mereka kemudian menerjemahkan ungkapan tersebut ke dalam rancangan tipografi melalui sketsa manual.

Setelah menyelesaikan rancangan awal, siswa memanfaatkan perangkat AI untuk menghasilkan sejumlah alternatif visual. Hasilnya kemudian mereka bandingkan dengan sketsa buatan sendiri untuk menilai kesesuaian bentuk, karakter, dan pesan dengan gagasan awal.

BACA: Dongkrek dan Misteri Pagebluk Mejayan dalam Novel Fiksi Sejarah 

Tim pengajar juga mengajak siswa mendiskusikan hasil eksplorasi tersebut secara kritis. Mereka mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki sekaligus menentukan elemen visual yang paling sesuai dengan karakter ungkapan Bahasa Madura yang dipilih.

Melalui proses tersebut, siswa mendapatkan pemahaman bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas. Sentuhan dan penyempurnaan secara manual tetap diperlukan agar hasil akhir mencerminkan ide serta karakter yang ingin disampaikan pembuatnya.

Lebih dari sekadar melatih keterampilan desain, kegiatan ini juga memperkenalkan potensi estetis bahasa daerah kepada generasi muda. Tim DKV ITS menilai karya tipografi berbasis Bahasa Madura berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif, seperti kaus sablon dan gantungan kunci.

Guru Seni Budaya SMPN 2 Pamekasan, Sigit Purnomo, menyambut baik metode pembelajaran tersebut. Menurutnya, pendekatan kreatif ini membantu siswa mengenali kembali bahasa dan budaya daerah melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Pendekatan ini menjadi pengalaman baru bagi siswa untuk mengenali kembali bahasa dan budaya daerahnya melalui kreativitas visual,” kata Sigit.

BACA: Indonesia Cetak Dua Juta Sarjana Tiap Tahun, Wamen Fauzan: Ijazah Saja Tak Cukup 

Pendampingan tidak berhenti setelah kegiatan pembelajaran di kelas selesai. Naufan dan Sigit juga melanjutkan bimbingan serta konsultasi karya hingga awal November 2026 untuk menyempurnakan hasil analisis dan eksplorasi tipografi para siswa.

Tim pengabdian masyarakat DKV ITS berharap program tersebut dapat menjadi alternatif pembelajaran Seni Budaya yang lebih kontekstual. Selain mengasah kreativitas, pendekatan ini diharapkan menumbuhkan kebanggaan siswa terhadap bahasa dan identitas budaya lokal.

Program pengabdian masyarakat tersebut mendapat dukungan Departemen DKV ITS dan Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS.