Deklarasi Bali, Hasil Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Sedunia

David Priyasidharta
David Priyasidharta

Sabtu, 3 November 2018 - 10:50

JATIMNET.COM, Jakarta - Deklarasi Bali menjadi kesepakatan bersama yang dihasilkan dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Sedunia di Nusa Dua, Kabupaten Badung, sejak 31 Oktober 2018 lalu hingga 1 November 2018.

Deklarasi Bali itu berisi beberapa hal terkait perlindungan lingkungan laut. Deklarasi dibacakan oleh Drafting Committee Bali Declaration Makarim Wibisino dalam penutupan 'The Fourth Intergovernmental Review Meeting (IGR-4) tersebut. Berdasarkan diskusi yang telah digelar dan dokumen yang tersedia untuk IGR, forum sepakat untuk bekerja sesuai fungsi, bentuk dan implikasi termasuk dasar hukum, anggaran dan organisasional serta masa depan IGR.

"Kegiatan saat ini yang dikoordinasikan oleh GPA untuk dilanjutkan selama periode intersesional hingga UNEA-4," kata Makarim. Selanjutnya, hasil pembahasan IGR-4 akan dibawa ke UN Environment Assembly (UNEA-4) di Nairobi (Kenya) pada 2019.

IGR-4 merupakan ajang badan dunia PBB bidang lingkungan atau United Nations Environmet Programme (UNEP) yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2018. Tema yang diangkat IGR 4 adalah 'Pollution in Ocean and Land Connection'.

Kesepakatan IGR-4 selanjutnya dituangkan dalam 'Bali Declaration on the Protection of the Marine Environment From Land-Based Activities'. Dalam pertemuan itu, sekitar 400 delegasi yang berasal dari 89 negara anggota Badan Lingkungan PBB membahas perlindungan lingkungan laut dari aktivitas-aktivitas berbasis lahan (IGR-4).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Dr Siti Nurbaya Bakar ditunjuk memimpin sidang IGR-4 yang berlangsung sangat dinamis selama dua hari. Hampir seluruh delegasi negara yang hadir antusias membawa pesan dan kepentingan negaranya dalam mengatasi polusi lingkungan laut, terutama dari aktivitas yang berasal dari daratan.

Dinamisnya pertemuan itu ditandai dengan tarik ulur kepentingan di antara setiap negara yang tergabung dalam UN Environment, di antaranya Africa Group, Asian and Pasific, Eastern Europe Group, Latin America and Caribbean Group dan Western Europe and Others Group.

"Alhamdulillah, setelah saat-saat yang sangat tegang, akhirnya Deklarasi Bali dapat disepakati semua negara. Dinamika yang terjadi menunjukkan bahwa isu ini telah menjadi perhatian global," kata Siti Nurbaya. Negara peserta IGR-4 pada akhirnya menyepakati untuk memperkuat program aksi global untuk perlindungan lingkungan laut dari aktivitas berbasis lahan (Global Programme of Action-GPA).

Setelah meninjau pelaksanaan program aksi di tingkat global, regional dan nasional selama periode 2012-2017, negara peserta IGR-4 menyatakan dukungan dan komitmen untuk mendukung GPA periode 2018-2022 serta program kerja bagi kantor koordinator GPA UN Environment (PBB).

"Kita berhasil tunjukkan kepemimpinan Indonesia mampu menghasilkan kesepakatan baik ini," kata Siti Nurbaya. Siti mengungkapkan, perwakilan negara-negara juga mengakui keterlibatan aktif Indonesia dalam penanganan pencemaran laut dan pengelolaan lahan gambut yang sangat penting artinya bagi lingkungan global.

"Terima kasih atas dedikasi Menteri Siti Nurbaya selama memimpin sidang di IGR-4 hingga Deklarasi Bali disepakati," kata Koordinator GPA UN Environment Habib El-Habr. Regional Director UN Environment Asia Pacific, Dechen Tsering juga turut mengucapkan terima kasih pada kepemimpinan Indonesia dalam agenda ini.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran Indonesia dalam menjaga pengelolaan lingkungan hidup global, terutama terkait dengan pengelolaan gambut dan tata kelola kelautan dari polusi. "Indonesia sangat terlibat aktif di dalam penanganan pencemaran laut, dan pengelolaan lahan gambut. Peran dan komitmen Indonesia ini sangat penting artinya bagi lingkungan global," kata Dechen.

Baca Juga

loading...