Jumat, 29 May 2020 01:00 UTC

CUITAN. Cuitan seorang dokter mengenai penanganan Covid-19 di Surabaya berbuntut panjang, meski sudah melakuka klarifikasi. Foto: Scrennshot @cakasana
JATIMNET.COM, Surabaya - Beberapa hari ini akun twitter @cakasana menjadi perbincangan di media sosial dan viral. Pasalnya akun bernama Aditya C Janottama itu mencuit mengenai bantuan dalam penanganan pasien Covid-19 di Surabaya.
Pada tanggal 27 Mei 2020, ia pun melakukan klarifikasi melalui akunnya "Klarifikasi: Baru ngobrol sama orang RS dan saya dapat beberapa info akhirnya. Untuk di RS saya bekerja sendiri, kami dapat bantuan dari semua pihak (Pemkot, pemprov, dan pihak2 lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu). Untuk ini saya harus minta maaf. Ada kesalahan," katanya dalam cuitannya.
Klarifikasi: Baru ngobrol sama orang RS dan saya dapat beberapa info akhirnya. Untuk di RS saya bekerja sendiri, kami dapat bantuan dari semua pihak (Pemkot, pemprov, dan pihak2 lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu). Untuk ini saya harus minta maaf. Ada kesalahan. https://t.co/1SMmuvUZO5
— Aditya C Janottama (@cakasana) May 27, 2020
Namun, hal itu kini masih berbuntut panjang, lantaran adanya pernyataan dari pihak rumah sakit (RS) Royal yang bernada ancaman pada dokter “whistleblower” itu justru disayangkan berbagai pihak. Termasuk DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jawa Timur.
Ketua DPD KAI Jatim Abdul Malik mengatakan, tidak seharusnya pihak rumah sakit membuat pernyataan yang membuat dokter tersebut tertekan. Sebab, apa yang disampaikan dokter Janottama justru bisa menjadi informasi berharga bagi banyak pihak untuk melakukan pembenahan penanganaan Covid-19.
BACA JUGA: Pasien Covid-19 Surabaya Tertinggi se Indonesia
“Saya rasa apa yang disampaikan dokter itu kan sebagian pengalamannya sendiri, juga teman-temannya sejawat,” ujar Abdul Malik dalam sebuah pernyataan.
Menurut dia, apa yang disampaikan dr Janottama mestinya bisa jadi bahan evaluasi pemerintah, dalam hal ini tentu Pemkot Surabaya.
“Covid-19 ini persoalan nyawa warga loh. Kalau masalah penanganannya bermasalah dan dikeluhkan oleh tenaga medis, ya harusnya ditindaklanjuti. Jangan buru-buru dicap hoaks dan ditekan,” katanya.
Oke kita mulai dari awal tentang rumah sakit dulu ya... tentang RS-RS rujukan yang menerima pasien dengan COVID-19 di Surabaya. Adanya total 15 RS. Tapi ga semua diciptakan sama.
— Aditya C Janottama (@cakasana) May 26, 2020
Menindaklanjuti beredarnya pernyataan dari pihak RS Royal, Abdul Malik mengakui siap memberikan bantuan hukum pada dr Janottama. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk dukungan agar dokter dan tenaga medis lainnya berani bersuara, demi penanganan covid-19 yang lebih baik.
“Kasihan loh mereka itu (dokter dan tenaga medis) nyawanya sudah dikorbankan ketika menangani Covid-19. Masak ketika mereka sambat, malah ditekan,” ujar pria akrab dipanggil Malik.
Sebagaimana diketahui, dr. Aditya dalam utasnya pada Selasa lalu mengungkapkan sejumlah kelemahan Pemkot Surabaya dalam penanganan COvid-19. Mulai bantuan alat pelindung diri, rendahnya ketegasan dalam pelaksanaan PSBB, maupun penyemprotan yang tidak berguna
